
Membaringkan tubuh lelahnya pada sofa, Ia memejamkan kedua mata namun otaknya kini tengah berfikir keras.
Pria muda dengan balutan kemeja hitam itu, tengah mengkhawatirkan putusan sidang yang akan keluar dua hari lagi dipersidangan. Merasa sangat cemas, terlebih lagi Chelsea baru saja mengalami kecelakaan dan kini harus dirawat sementara dirumah sakit.
Sejujurnya, Halbert bisa saja mencari bukti melalui orang-orang kepercayaan kakeknya namun hakim tidak akan pernah menerima bukti itu jika didapatkan secara ilegal. Hingga Ia mau tak mau hanya mengandalkan Chelsea saja.
Ting Tong. Ting Tong.
Masih menikmati waktu beristirahatnya, kelopak mata Halbert sontak terbuka saat mendengar suara bel pintu yang berbunyi dua kali.
Ting Tong. Ting Tong.
Kembali bel berbunyi dengan tempo cepat. Halbert dengan malas segera bangkit dari pembaringannya dan menuju pintu utama.
Saat membuka pintu, tiba-tiba seorang pria seketika jatuh tersungkur dikakinya. Halbert yang tidak tau apa-apa tentu saja langsung terkejut apalagi yang membawa pria itu adalah seorang wanita bertopi.
Ingatan kilat melintas diotak Halbert, dia tentu mengenal wanita didepannya yang beberapa waktu lalu juga menolongnya dibandara.
__ADS_1
" Oi, bajingan. Bicara padanya kalau kau akan menyerahkan diri ke kantor polisi." ujar wanita tomboy itu.
Halbert mengernyit, dirinya sungguh kebingungan apalagi saat mendengar perkataan wanita itu.
" Tuan, aku akan... aku akan menyerahkan diri." ucap pria itu seraya mendongak. Gelombang suaranya bergetar, sangat jelas bahwa Ia sangat ketakutan saat ini.
Melihat wajah pria dibawahnya, Halbert seketika merasa takut. Bagaimana tidak, wajah pria itu penuh memar dan juga ada darah dipelipis serta mulut.
" A.. Apa kau yang memukulnya?" Halbert melontarkan tanya pada wanita didepannya.
" Jangan bertanya, simpan saja bajingan ini untuk membebaskan Mamamu." seru wanita itu yang hendak pergi, namun Halbert seketika menahannya dengan meraih tangan dan membuka topinya dengan lancang.
" Maafkan aku, tapi sepertinya lukamu butuh diobati." seru Halbert melirik sekilas pada lengan wanita itu yang sejak tadi mengeluarkan darah.
" Aku janji tidak akan melihat wajahmu, tapi biarkan aku obati lukamu." tambah Halbert.
Berfikir sejenak, akhirnya wanita itu menurut hingga mereka bertiga segera masuk kedalam apartemen Halbert.
__ADS_1
*****
Mengobati luka wanita itu dengan telaten, Halbert sesekali melirik pada wajah gadis itu yang ditutupi beberapa anak rambut. Rasa penasarannya membuncah— ingin mengetahui siapa sosok wanita disisinya.
" Kau menolongku saat dibandara, apakah kau adalah pesuruh kakekku?" tanya Halbert dengan hati-hati.
" Aku tidak mengenal keluargamu." jawab wanita itu dengan santai. Sayatan luka dilengannya yang diobati Halbert sama sekali tak menyakitkan, hingga membuat Halbert takjub dalam hati.
Mendengar ucapan wanita didepannya, Halbert pun kembali diam. Setelah mensterilkan luka itu, Halbert segera membalut dengan perban.
" Sudah selesai. Sebaiknya istirahatlah dulu.. sampai lukamu sembuh." Halbert menasehati seraya membereskan kotak obatnya.
Sedangkan wanita itu segera beranjak tanpa menyahuti ucapan Halbert. Namun sebelum berlalu, Ia menghampiri pria yang tadi dibawanya.
" Oi, jangan berani menyentuhnya." wanita itu memperingatkan pria dihadapannya seraya menunjuk Halbert yang hanya mematung tak tau apa-apa.
" I.. Iya." seru pria itu dengan suara bergetar. Kedua tangannya diikat dengan kuat hingga tak dapat berbuat apapun.
" Yah, terima kasih untuk obatmu." ujar wanita itu kepada Halbert dan segera pergi meninggalkan apartemen.
__ADS_1