Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 106 ~SEASON 2


__ADS_3

Satu Jam Berlalu.


Masih belum juga sadar, kondisi Mama Allen sungguh membuat Papa Harvey sangat cemas. Bukan hanya suaminya, kedua putri cantiknya juga kian merasa khawatir. Bahkan saat ini dokter sudah memeriksanya, namun belum juga menunjukkan tanda-tanda bahwa wanita yang tengah terbaring lemah itu akan sadar.


" Dokter, bagaimana.?" tanya Papa Harvey yang sejak tadi merasa khawatir.


" Iya, Dokter. Kenapa dengan Mama? Apa Mama sakit karena banyak pikiran?" sahut Alexa yang juga melayangkan tanya kepada dokter wanita disamping Mamanya.


Air mata Alexa menetes, merasa kasihan pada Mamanya.


" Yah, kau jangan menangis." sentak Ainsley dengan wajah datarnya.


" Aku tidak menangis kak. Hanya air mataku yang keluar." celetuk Alexa menyeka bulir air mata yang membasahi kedua pipinya.


" Cih, dasar cengeng." ketus Ainsley menggeleng kepala mendengar jawaban adiknya.


" Tuan Harvey, anda tidak perlu khawatir kepada Nyonya. Dia hanya kelelahan."


Penjelasan dokter cantik itu seketika membuat Papa Harvey dan kedua putrinya merasa lega. Sementara sang dokter cantik yang selesai memeriksa Mama Allen kini membereskan peralatannya.


" Ah, saya sudah meresepkan obatnya." tambah sang dokter memberikan selembar kertas kecil pada Papa Harvey.

__ADS_1


Papa Harvey mengambil kertas itu dan membaca beberapa obat vitamin yang harus dikonsumsi istrinya.


" Tuan harus membeli semua obatnya agar bayinya bisa sehat." tambah dokter itu.


Seketika Papa Harvey mengangkat pandangannya mendengar apa yang baru dikatakan dokter didepannya. Berbeda dengan Alexa dan Ainsley— kedua gadis muda itu tentu saja tercengang.


" Mama hamil?" pekik Alexa yang seakan tak percaya.


" Iya, bayinya masih dua belas minggu." jawab dokter cantik itu.


" Hah... " Alexa dan Ainsley terlonjak. Terlihat sekali dari ekspresi keduanya bahwa mereka tidak menginginkan kehadiran bayi dalam kandungan Mamanya.


Wajah seketika lesu, hilang sudah semangat kedua gadis muda itu. Mereka seolah ditampar oleh kenyataan buruk. Dan bagi Alexa tentu saja adalah musibah besar karena takhtanya sebagai anak bungsu akan bergeser. Ketakutannya lima bulan lalu menjadi nyata.


Sepersekian detik, Alexa menjerit kepada pria paruh baya yang berdiri tak jauh darinya. Matanya menyalak, sungguh menandakan dirinya berada dipuncak amarah.


Teriakan Alexa itu sontak membuat Mama Allen tersadar.


" Papa, aku sudah bilang tidak mau punya adik." pekik Alexa dengan amarah membuncah.


" Dokter, terima kasih. Kurasa sebaiknya kau pulang." buru-buru Papa Harvey menyuruh dokter cantik itu agar bergegas keluar dari kamarnya sebelum Alexa meledak.

__ADS_1


Sang dokter pun segera berlalu karena cukup paham tentang apa yang akan terjadi.


Sepeninggalan dokter, Mama Allen terbangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa berat serta pandangannya yang berkunang-kunang.


" Mama.. ternyata Mama ha... "


Ummmpppt.


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, mulut Alexa dengan sigap dibekap oleh Ainsley.


" Ma, sebaiknya istirahat saja. Papa, aku ingin bicara." tutur Ainsley dengan raut wajah yang tak pernah berubah.


Papa Harvey yang mematung ditempat tersadar. Dan sebelum ia meninggalkan kamar— dirinya menghampiri sang istri dan mengecup singkat kening wanitanya itu.


*****


Duduk disofa ruang keluarga, Ainsley saat ini tengah menunggu Papanya yang belum juga menampakkan diri. Sedangkan Alexa— gadis itu sudah kesal sejak tadi karena perlakuan sang kakak.


" Kak, kenapa tadi kau menghalangi aku bicara." gerutu Alexa yang masih tak terima ditarik begitu saja keluar dari kamar.


" Diamlah, atau aku akan menyumpal mulutmu." ancam Ainsley dengan asal.

__ADS_1


Tak lama tampak Papa Harvey yang muncul diambang pintu. Pria paruh baya itu segera duduk disofa yang berseberangan dengan putrinya— Ainsley.


__ADS_2