Gadis Kecil Milik Tuan Harvey

Gadis Kecil Milik Tuan Harvey
Bab. 54~ SEASON 2


__ADS_3

Tengah hari— diteriknya matahari siang, tampak Harvey yang baru pulang dari kantornya. Masih dengan setelan jasnya yang rapi, Ia berjalan gontai masuk kedalam rumahnya yang besar nan mewah.


Ya— Harvey dan Allen kini sudah tidak tinggal di apartemen ataupun mansion Murray, karena sejak dua puluh empat tahun lalu, dirinya memutuskan untuk pindah dirumah baru setelah sebulan lahirnya bayi pertama.


Hingga kini dirumah besar itulah Harvey dan Allen menjalani kehidupan baru bersama anak - anaknya.


***


" Tika." teriak Harvey menyerukan nama kepala pelayannya.


Lima belas menit, dan Tika yang tadi dipanggil Harvey belum juga menampakkan batang hidungnya— membuat Harvey semakin kesal.


" Sartika." kembali Harvey memanggil kepala pelayannya. Kali ini dengan intonasi meninggi, Ia menyebutkan nama lengkap wanita paruh baya itu.


Satu menit, hingga tiga menit yang dipanggil sejak tadi baru datang dengan nafas yang sedikit tak beraturan.


" Maaf, Tuan." ucap Tika menunduk— berdiri dihadapan Harvey.

__ADS_1


" Dimana Alexa?" tanya Harvey yang tengah bersantai disofa sembari melonggarkan dasi dilehernya.


" Nona Alexa belum pulang, Tuan." jawab Sartika seadanya.


" Kemana dia pergi?" tanya Harvey lagi, memijat pelipisnya.


" Katanya Nona Alexa ingin mengurus pendaftaran kuliahnya." jelas Sartika yang mulai takut saat merasa nada suara majikannnya mulai meninggi.


" Pendaftaran kuliah?" Harvey menatap nanar kepala pelayannya.


" Lalu kau percaya dia akan pergi mendaftar? Kau membiarkan dia pergi begitu saja? Kau tau dia kemana, dia pergi menemui laki-laki itu." serentetan makian dilontarkan Harvey dengan sorot mata yang penuh amarah.


Sartika menelan saliva saat mendengar bagaimana majikannya yang saat ini dipenuhi amarah— seakan ingin mengamuk.


" Sayang, kau dimana?"


Sepersekian detik, terdengar suara wanita dewasa menyela perbincangan Harvey dan kepala pelayan. Nada suaranya begitu memekik ditelinga, membuat Harvey dan Tika sontak menoleh pada sumber suara. Rupanya sang istri yang baru datang dengan menenteng tas branded— Hermes.

__ADS_1


" Ada apa sayang?" tanya Harvey, refleks khawatir saat melihat wanitanya berjalan gontai kearahnya.


Allen tak menyahut, dan memilih duduk disamping suaminya. Ia menarik nafas sebelum memaparkan apa yang hendak dikatakan.


" Tika, ambilkan aku minuman dingin." pinta Allen pada kepala pelayannya.


Tika mengangguk dan segera pergi dari hadapan kedua majikannya.


" Halbert menghubungi aku, katanya Haven dikantor polisi lagi." ucap Allen menahan kesal, sebab sudah hampir sepuluh kali putranya keluar masuk kantor polisi.


Harvey yang mendengar perkataan istrinya, tidak terkejut sama sekali. Ia justru menghela nafas kasar karena bukan hal baru lagi jika putra keduanya itu membuat ulah. Bagaimana tidak, Haven— sang putra keduanya itu selalu membuat onar setelah kedatangannya ke Indonesia, tujuh bulan lalu.


Sebelumnya Haven memang menetap lama di Amerika, apartemen sang kakek— Ben Murray. Haven tinggal diluar negeri bukan atas keinginannya, melainkan karena perintah dari sang Mama. Sedangkan Allen, Ia memiliki alasan khusus— mengirim sang putra tinggal lama diluar negeri karena Haven selalu membuat onar dimanapun berada.


Hingga kini kasus serupa terjadi lagi— dimana Haven masuk kantor polisi karena tindakan semaunya saja.


***

__ADS_1


" Sayang, jangan marah. Haven seperti itu karena belum dewasa." Harvey berusaha menenangkan istrinya yang terlihat kesal.


" Belum dewasa?" Allen sontak melotot pada suaminya.


__ADS_2