
Mama Allen tercengang mendengar pernyataan putranya. Jika beberapa lalu dirinya sanggup menahan air matanya, kini tidak lagi setelah apa yang baru dikatakan Haven.
" Kalau begitu, aku pergi. Sampai bertemu disidang pertama." pamit Haven.
" Apakah ini yang kau pelajari disekolah hukummu?"
Langkah kaki Haven terhenti saat mendengar suara Mamanya. Gelombang suara bergetar itu seakan menahan isak tangis agar tak pecah. Haven tak menoleh, karena sejujurnya dirinya tak tahan melihat Mamanya menangis sejak tadi.
" Mama mendukungmu karena berfikir kau akan menjunjung tinggi keadilan, tapi kenapa kau justru mengabaikan kenyataan bahwa Mama tidak membunuh Fresya." tutur Mama Allen dengan intonasi meninggi.
Ucapannya barusan membuat dirinya mendapatkan lirikan sekilas dari penjaga. Mama Allen baru menyadari akan hal itu, hingga dirinya merasa sedikit risih.
Haven yang mendengarkan tak bergeming. Pria muda itu melonggarkan dasi dilehernya dan menghela nafas kasar. Setelahnya Ia berbalik dan membidik Mamanya dengan tatapan penuh arti.
Brak.
__ADS_1
Sontak Mama Allen terkejut saat tiba-tiba Haven memukul jeruji besi didepannya. Putranya itu terlihat memendam amarah, membuat dirinya sedikit takut.
" Ini salahmu." seru Haven dengan suara pelan.
" I N I S A L A H M U." teriak Haven mengulangi kalimat yang sama.
Suara Haven sukses memancing penjaga itu hingga mendekat. Sang penjaga sel tahanan berusaha menenangkan Haven agar tidak menyakiti tahanan.
" Tolong, biarkan kami bicara dulu." pinta Haven setelah berhasil mengontrol dirinya. Dia meminta penjaga itu untuk meninggalkannya. Kini tinggallah mereka berdua yang saling beradu pandang.
" Untuk Mama." tambahnya yang tanpa terasa menitikkan air mata.
Mama Allen yang mendengarkan kini wajahnya semakin dibanjiri air mata.
" Saat aku kecil, saat melihat orang-orang mencaci maki Mama.. saat itulah aku merajut mimpiku menjadi jaksa. Dengan seperti itu aku akan menuntut semua orang-orang yang sudah membuat Mama sakit hati. Tapi kenapa malah berbanding terbalik? Kenapa aku harus melawan Mama dipengadilan. Aku juga tidak mau, tapi ini pekerjaanku. Mereka menjebak Mama dan sengaja memilihku sebagai jaksa penuntutnya. Apa Mama pikir aku senang? Aku bahagia? Tidak. Aku justru ingin menjadi orang lain saja."
__ADS_1
Gelombang suara Haven ikut bergetar, nada suaranya semakin meninggi. Wajahnya juga memerah, ada kemarahan dan kesedihan yang tersirat disana.
" Dengarkan aku.. aku tidak tau bagaimana situasi disidang pertama. Tapi aku tidak bisa membela Mama karena aku akan mengajukan pada hakim apa yang aku dengar dari klienku." ucap Haven dan segera berlalu— meninggalkan Mama Allen.
" Hiks.. Hiks.. Hiks.."
Mama Allen terisak pilu sepeninggalan putranya. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Sesaat dirinya berharap bahwa semua yang terjadi hanyalah mimpi, namun saat jantungnya semakin sakit, dirinya pun sadar bahwa saat ini adalah waktu dimana dirinya harus diuji.
Sementara Haven, belum jauh Ia dari sel tahanan— dirinya tak sengaja berpapasan dengan Halbert. Mereka berdua saling menatap satu sama lain.
" Kenapa kau disini?" tanya Halbert.
" Aku menemui tersangka klienku." jawab Haven seadanya.
Halbert mengangguk kecil, namun sepersekian detik Ia sadar akan satu hal bahwa adiknya kini menjadi seorang jaksa.
__ADS_1
" Apa kau yang menjadi jaksa penuntut Mama?" Halbert langsung melontarkan tanya.