
Setelah sampai di Villa, Cansu dan Rukmana langsung membawa Farel ke kamarnya. Badan Farel masih menggigil. Matanya masih terpejam. Cansu sangat kwatir dengan keadaan Farel.
"Apa kita bawa ke rumah sakit aja, Cansu?" tanya Rukmana sambil sibuk mijitin kaki Farel.
"Kita rawat di rumah dulu. Besok, kalau sudah aman, baru kita pikirkan lagi. Mau ke rumah sakit atau mau panggil dokter saja untuk datang ke mari!" Cansu memberi kompres di kepala Farel.
"Kasihan Pak Farel ya, hidupnya selalu gak tenang. Seharusnya keluarga itu melindungi dan bikin kita bahagia. Ini malahan sebaliknya." Rukmana berdecak kesal melihat keadaan Farel saat ini.
"Kita doakan yang terbaik saja!"
"Ya udah, aku masak untuk makan malam dulu. Kamu jagain Farel saja." Rukmana lalu bergegas keluar. Dia memang ahli dalam segala hal. Rukmana adalah pegawai paket komplit. Bisa jadi supir pribadi, bisa jadi chef, bisa jadi sahabat, bisa jadi kakak bagi Cansu, bisa segalanya. Rukmana hanya tidak bisa menjadi kekasih Cansu. Kalau nekat, bisa-bisa di ketok kepalanya sama Farel.
"Kamu yang kuat ya, Farel. Aku akan selalu berusaha jagain kamu." ucap Cansu sambil mengelap badan Farel yang terus berkeringat dingin dan menggigil.
"Ayo kita makan malam dulu. Nanti kalau Pak Farel sudah sadar, bisa disuapin bubur." Rukmana membawakan piring untuk Cansu makan. Tidak tega juga kalau meninggalkan Farel sendirian.
"Makanlah! Kamu harus kuat agar bisa merawat Pak Farel!" perintah Rukmana.
"Kamu tahu tidak? Kalian adalah pegawai paling kurang ajar! Pada berani ngomong keras sama majikan kalian." ucap Cansu sambil mengerucutkan bibirnya, kesal!
"Maaf deh! Kan aku cuma tidak mau kalau kamu jadi sakit juga!" Rukmana nyengir kuda. Merasa gak enak juga dengan teguran Cansu. Memang selama ini dirinya selalu memperlakukan Cansu sebagai teman, bukan sebagai majikan.
Sebab itulah, Rukmana tidak pernah segan untuk menegur atau memarahi Cansu. Apabila majikannya itu tidak menurut kepadanya. Rukmana kadang merasa lucu, harusnya dirinya yang menurut pada Cansu. Ini malah sebaliknya.
__ADS_1
"Baiklah, aku makan sekarang. Kamu juga makan!" Cansu duduk di sofa yang ada di kamar Farel. Rukmana duduk di samping Cansu dan mulai melahap makanan yang tadi dia bawa.
"Masakan kamu tambah enak!" puji Cansu.
"Aku senang kalau kamu menyukai masakan yang aku buat!" Rukmana memberi air minum untuk Cansu. Sejak dulu, Cansu selalu dimanjakan oleh Rukmana. Kalau yang tidak paham hubungan mereka, pasti akan salah paham.
Cansu dan Rukmana hidup sebatang kara di dunia ini, mereka saling mendukung satu sama lain. Saling menjaga dan saling menyayangi. Status tidak menghalangi mereka untuk dekat layaknya saudara kandung. Kadang pegawai yang lain merasa iri dengan Rukmana. Tetapi mereka tidak menggubrisnya. Selama tidak merugikan mereka.
"Aku di mana sekarang?" Farel bangun sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kita di villaku sekarang!" ucap Cansu sambil mendekati Farel. Farel tampak bingung dan melihat ke sekeliling.
"Kamu siapa?" tanya Farel seakan baru pertama kali melihat Cansu.
"Nama saya Cansu, dan ini supir pribadi saya, namanya Rukmana. Kami menemukan Anda tergeletak di semak-semak. Anda tampaknya telah mengalami kecelakaan." ucap Cansu berdusta.
"Terima kasih, telah menolong saya. Setelah sembuh aku akan pulang ke rumahku." Farel melihat ke sekeliling, merasa asing dengan segala yang ada dihadapannya.
"Kepalaku pusing sekali." Cansu membimbing Farel untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
"Rukmana, tolong ambilkan obatnya Farel. Dan bawakan juga makanannya." Cansu mengambil air minum lalu membantu Farel meminumnya.
"Terima kasih," Farel menatap lekat wajah Cansu. Tiba-tiba hatinya merasa familiar. Tapi Farel tepis perasaan itu. Saat ini hatinya kacau balau. Tidak paham apa yang terjadi kepada dirinya.
__ADS_1
"Makanlah dulu, lalu kau bisa minum obatmu." Cansu menyuapinya sampai makanan habis dan membantu Farel meminum obatnya.
Setelah minum obat, Farel.tertidur lagi. Mungkin effek obat mulai bekerja. Cansu menarik nafas lega. Sejak Farel hadir dalam hidupnya, hari-hari Cansu selalu berdebar. Banyak hal mengejutkan yang merupakan pengalaman baru baginya.
"Sebaiknya kamu juga istirahat. Kamu pasti lelah. Biar aku yang akan menjaga Pak Farel disini." Cansu pergi dari kamar Farel dan kembali ke kamarnya sendiri.
"Semoga semua ini cepat berakhir. Aku ingin hidup tenang. Lelah juga hidup di kejar-kejar seperti ini." Cansu membaringkan tubuhnya yang teramat lelah. Baru terasa bahwa seharian ini dirinya berlarian kesana kesini mengikuti Farel, nyaris tidak istirahat.
Sekejap saja, Cansu sudah terlelap. Farel dan Rukmana juga sudah terlelap. Hari yang berat mereka lalui bersama.
Sementara itu, lara bodyguard yang dikirimkan oleh kakeknya Farel kehilangan jejak Farel dan Cansu. Mereka kebingungan, akan melanjutkan pencarian atau kembali ke Jakarta.
"Pak, kami kehilangan jejak Pak Farel. Kami sudah mengikuti sampai ke Bogor. Jalanan gelap dan licin karena hujan semalaman. Kami kesulitan mengikuti mobil yang membawa Pak Farel." Kepala bodyguard memberikan laporan palsu. Bilang jalanan licin segala, padahal karena takut kena marah saja, gagal melaksanakan tugasnya.
"Ya sudah, kalian cari penginapan dan istirahat. Besok pencarian bisa dilanjutkan kembali." perintah kakeknya Farel. Dia kesal.sekali, sekali lagi rencananya gagal.
Pertunangan Farel dan Arini harus gagal kembali untuk ke dua kalinya. Farel sejak dulu memang keras kepala. Merasa hebat dan merasa mampu mengembangkan perusahaan tanpa pernikahan bisnis yang di ajukan sang Kakek.
"Kakek meremehkan kemampuan Farel, dengan memaksa melakukan pernikahan bisnis ini. Farel sampai kapanpun tidak akan pernah setuju dengan hal itu." Itu adalah ucapan Farel sehari sebelum Farel pergi ke lokasi proyek yang ada di Karawang. Sebelum akhirnya Farel menghilang tanpa jejak dan tanpa kabar.
Kemarin, sang Kakek menerima kabar dari asisten yang dia percaya, bahwa dia melihat Farel di kantor Cansu. Sehingga sengaja mengirim Reynaldi ke perusahaan itu. Setelah yakin, dirinya menipu Reynaldi dan merencanakan pertunangan Farel.
Ternyata Farel amnesia dan kabur dari sana. Geram sekali rasanya. Kakek Surya menarik nafas dalam-dalam. Usianya sudah hampir 70 tahun, sudah tidak sabar ingin menimang cicit. Tapi kedua cucunya belum ada yang mau menikah.
__ADS_1
Sebenarnya Kakek Surya tahu, Kalau Andini dan Reynaldi memiliki perasaan satu sama lain. Tetapi keluarga Arini lebih menginginkan Arini untuk menikah dengan Farel. Calon pewaris perusahaan milik keluarganya. Bramantyo Groups.
Sungguh, Kakek Surya sebenarnya sudah lelah dengan semua kemelut dunia yang seakan tanpa akhirnya. Dia ingin segera pensiun dan menikmati masa tuanya. Tapi anak dan cucunya tidak ada yang bisa membuat dirinya tenang dan rela meninggalkan perusahaan saat ini.