Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
13. Kembali ke hidupku


__ADS_3

Pov Farel


Setelah makan malam, aku kembali ke kamarku. Rindu sekali rasanya dengan kamarku. Sudah sangat lama aku meninggalkan kamarku dan hidup bersama Cansu dan Rukmana. Aku ingat dengan mereka yang selalu baik kepadaku saat dahulu aku amnesia.


Tapi aku berpura-pura lupa kepada mereka. Aku harus menyelidiki kecelakaan yang menimpa ku beberapa saat lalu. Aku gak mau melibatkan mereka berdua. Hidupku saja di ujung tanduk bagaimana aku bisa menyeret orang lain?


Aku tahu ada yang tidak beres dengan mobilku dan siapa orang-orang yang dahulu mengikuti aku? Sehingga menggiring mobilku untuk terjun ke jurang? Itu adalah suatu misteri yang harus segera aku ungkap pelan-pelan.


tok tok


Suara pintu di ketuk. Aku bergegas membuka pintu, di sana ternyata Kakek yang tersenyum kepadaku. "Farel, kamu sudah kembali. Apa itu artinya kita bisa melanjutkan rencana pertunangan kamu dengan Arini?" tanya Kakek to the point. Aku menghembuskan nafas berat.


"Kakek, aku sama sekali gak perduli dengan Arini. Aku sama sekali gak mencintai dia!" ucapku kesal.


Kenapa sih, Kakek gak berubah juga. Suka sekali memaksakan kehendak kepada kami. Kami juga punya keinginan sendiri.


Aku mencintai Cansu. Wanita yang telah menyelamatkan aku dari kecelakaan itu. Wanita yang dengan suka rela mau merawat aku, orang asing dalam hidupnya.


Cansu memang wanita yang hebat. Dia mau menolong ku tanpa pamrih.


"Dengarkan Kakek! Pertunangan kamu dengan Arini sudah direncanakan jauh-jauh hari! Jangan mengacau! Perusahaan kita nanti kena dampak juga!" Kakek sudah murka saja.


"Maaf kek, Kakek sama saja menghina Farel dengan memaksa hal konyol macam ini. Farel bisa berjuang sendiri untuk membesarkan perusahaan kita. Tanpa pernikahan bisnis dengan keluarga Suganda!" aku tidak bisa menahan amarah lagi. Kesal sama Kakek.


Aku baru saja pulang, kenapa Kakek melakukan ini kepadaku? Ini lah yang membuat aku jadi malas buat pulang ke rumah ini. Tapi demi menyelidiki kasus kecelakaan itu, aku terpaksa harus ada di sini sekarang. Dengan resiko di tunangkan dengan Arini Suganda. Bikin kesal saja.

__ADS_1


"Kek, kenapa Kakek tidak menjodohkan dengan Reynaldi? Reynaldi yang mencintai Arini. Semua pasti beres tanpa hambatan kalau kakek menjodohkan mereka. Mereka itu pasangan yang serasi. Jangan memisahkan sepasang kekasih!" ucapku sambil berlalu dari hadapan Kakek.


"Tapi keluarga Suganda maunya sama kamu! Pewaris keluarga kita." keukeuh Kakek.


"Ya udah, ganti saja Reynaldi sebagai pewaris. Beres bukan?" tanyaku enteng.


"Kamu anak pertama di keluarga ini. Kamu cucu kandung Kakek! Masa Reynaldi yang jadi pewaris Kakek?" tanya Kakek tidak setuju dengan ideku.


"Tapi aku tidak mencintai Arini!" aku sangat galau dengan urusan para konglomerat yang selalu mengutamakan bisnis daripada kebahagiaan anak cucunya sendiri.


"Sudah malam, Kek! Farel lelah. Tolong biarkan Farel istirahat ya!" ucapku sambil menutup pintu kamarku. Kakek akhirnya menyerah juga.


Aku tadi melihat Reynaldi di ujung lorong, mendengarkan pembicaraanku dengan Kakek. Aku tahu, adikku dan Arini saling mencintai. Status Reynaldi yang lahir dari istri kedua, yang di tolak oleh keluarga Suganda.


Keluarga Suganda yang bergerak di bidang produksi dan keluarga kami bergerak di bidang distributor memang merupakan pasangan yang pas untuk pernikahan bisnis. Maka tidak heran kalau Kakekku sangat antusias dengan rencana pernikahan ku dengan Arini.


Keesokan harinya, aku bergegas ke ruang gym. Aku sangat merindukan ruangan gymku. Badanku rasanya kaku, karena lama tidak nge-gym.


Reynaldi sudah duluan ada di sana. Dia menyapaku dengan lembut. Adikku memang berhati lembut, walaupun Mamahnya bukanlah wanita baik-baik. Kalau wanita baik, tidak mungkin bermain api dengan suami sahabatnya bukan? Mamahku dahulu tertekan bathinnya sejak mengetahui Papahku menikah siri dengan sahabat nya sendiri. Sahabat yang dia tolong, merantau di ibu kota, di berikan pekerjaan sebagai sekretarisnya papah. Ternyata mereka menikah siri di belakang Mamahku dan melahirkan Reynaldi tanpa sepengetahuan kami.


Karena banyak menanggung sakit hati dan penderitaan, Mamahku meninggal di usia muda. Aku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan mencintai istriku dan anakku suatu saat nanti. Tidak mau meneladani kehidupan buruk papahku yang selalu menyakiti hati mamahku.


"Sudah lama, Rey?" aku langsung memilih alat gym yang aku sukai. Reynaldi tampaknya sudah selesai dengan olahraga paginya.


"Aku sudah selesai, Mas! Ayo kita sarapan. Kakek dan orang tua kita pasti sudah menunggu kita." Aku hanya mengikuti Reynaldi. Bagaimanapun dia adikku satu-satunya. Walaupun aku tidak suka dengan kelakuan papah, tapi Reynaldi tidak salah. Dia hanya tidak bisa memilih mau lahir dari keluarga mana. Aku syukuri saja. Reynaldi membuat hari-hariku tidak sunyi lagi.

__ADS_1


"Rey, kenapa kamu tidak mau memperjuangkan cinta kamu dengan Arini? Mas siap bantu kalau kamu mau!" ucapku sambil mengikuti dia ke meja makan. Reynaldi hanya diam.


"Bukankah menikah itu mencari kebahagiaan ya? Bukan mencari rekan bisnis." sungutku kesal.


"Tapi orang tua kita dan orang tua Arini tidak berpikiran begitu, Mas!" Reynaldi jadi sendu.


"Mas akan menolong kalian. Bilang saja kalau nanti butuh bantuan!" aku menepuk pundak adikku yang gagah itu. Wajah adikku juga tampan, tapi dia memiliki wajah yang melankolis, tidak seperti wajahku yang tegas dan keras. Aku berpendidikan teguh. Tidak ada yang bisa merubah keputusan yang sudah aku ambil siapapun itu.


"Selamat pagi semuanya!" sapa kami kompak.


Kakek tampaknya masih marah kepadaku, karena percakapan kami tadi malam yang tidak menemui kata sepakat. Biarkan saja lah, biar Kakek belajar bahwa dunia ini tidak selalu harus berputar atas telunjuknya.


"Bagaimana tidurmu?" tanya papahku santai.


"Alhamdulillah nyenyak, Pah!" aku bergegas menghabiskan sarapanku. Aku harus segera pergi dan menemui Cansu. Aku sudah rindu kepadanya.


Baru berpisah sebentar saja, sudah serindu ini. Bagaimana kalau aku menikahi Arini dan tidak akan pernah bertemu dengan Cansu? Bisa mati cepat aku karena tersiksa dengan rindu.


"Aku sudah selesai, aku mau pergi melihat-lihat perusahaan bersama Reynaldi!" aku bergegas ke kamarku dan mengganti pakaian.


Reynaldi sudah menunggu di depan, Kakek masih belum mau bicara denganku. Aku cukup frustasi, tapi biarkan saja lah. Aku gak mau menggadaikan kebahagiaan seumur hidupku demi ambisi Kakek.


"Mas, benar kita mau pergi ke perusahaan kita?" tanya Reynaldi tampak ragu.


"Tidak, kita pergi ke perusahaan Cansu. Aku rindu kepadanya." ucapku semangat.

__ADS_1


"Mas Farel benar-benar jatuh cinta pada Cansu?" tampaknya Reynaldi tidak percaya dengan perasaan yang aku miliki untuk Cansu.


"Biarkan waktu yang membuktikan semuanya!" ucapku sambil melihat ke luar jendela. Udara pagi ini sangat sejuk dan menyenangkan. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan Cansu.


__ADS_2