Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
100. Memaafkan?


__ADS_3

Siska saat ini sedang berusaha untuk membujuk Prawira agar mau memaafkan ayahnya yang telah melakukan kesalahan tanpa disengaja.


" Menurutku sebaiknya kau memaafkan Tuan Suganda dan menerimanya sebagai ayahmu!" ucap Siska sambil menatap kepada Prawira yang masih tetap bergeming dengan apa yang ada di dalam hatinya saat ini.


" Aku tidak tahu apa sebenarnya yang kau pikirkan. Tapi yang jelas aku pasti bisa membuatmu melihat bahwa sebenarnya ayahmu pun menyayangimu!" ucap Siska sambil mengelus telapak tangan perwira yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.


" Lebih baik kau tidak boleh ikut campur dengan urusanku kau kerjakan saja tugasmu sebagai istriku! Tidak usah ikut campur dalam masalah laki-laki!" ucap Prawira dengan Ketus kemudian dia langsung meninggalkan istrinya.


" Ya ampun disaat orang sedang merindukan ayahnya tetapi dia malah membenci ayahnya benar-benar orangnya aneh!" Siska sambil menatap perwira yang sekarang meninggalkannya karena merasa kesal terhadap istrinya yang terus membujuknya untuk memaafkan ayahnya yang sudah berbuat salah terhadapnya dan juga ibunya.

__ADS_1


Walaupun Prawira sudah melihat rekaman yang ditunjukkan oleh Amanda. Tetapi tetap saja hatinya masih merasa sakit karena selama berpuluhan tahun dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah.


" Kenapa hatinya begitu keras dan sangat sulit untuk memaafkan orang lain?" tanya Amanda sambil menatap kepada istrinya yang masih sibuk di ruang kerja sehingga larut malam.


Siska yang merasa lelah menunggu suaminya akhirnya dia memilih untuk tidur sendiri daripada merasa jengkel dan kesal dengan kelakuan suaminya yang luar biasa bebal dan tidak bisa diomongin dengan baik-baik.


sementara itu Prawira yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya dia terus memikirkan tentang rekaman yang pernah dia lihat yang ditunjukkan oleh Amanda.


"Apakah benar kalau aku harus belajar untuk memaafkan?" tanya Prawira kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


" Tetapi laki-laki itu benar-benar sudah membuatku merasa kesal dia tidak pernah satu kali pun berusaha untuk mencari keberadaan kami! Padahal kedua orang tuanya sudah lama meninggal dan tidak ada yang menjadi penghalang untuk dia menemukan kami!" ucap Prawira dengan segala pertanyaan yang ada di dalam hatinya.


" Sudahlah lupakan saja semua ini hanya membuat kepala pusing!" Prawira kemudian memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya yang sejak tadi tertunda karena dia terus melamun memikirkan tentang ayahnya dan juga almarhum ibunya.


" Aku sangat ingat bahwa Mamaku sangat menderita. Sepanjang hidup dia berjuang sendiri untuk bisa membesarkanku. Tanpa dukungan dari siapapun. Bahkan kakek dan nenekku pun adalah musuh pertama yang selalu menghina dan mengejeknya yang melahirkan seorang anak tanpa seorang suami!" ucap Prawira merasa sangat jengkel ketika dia mengingat masa lalunya Bersama sang ibu yang selalu dihina oleh kakek dan neneknya.


" Bahkan hanya untuk sesuap nasi Ibuku harus menghambakan dirinya kepada saudara-saudaranya karena dianggap sebagai benalu di dalam keluarga!" ucap Prawira lagi.


Semua kenangan masa lalunya yang membuat Prawira selalu merasa sangat tersiksa dan sangat menderita.

__ADS_1


Bayangan ibunya yang selama hidup selalu dihina oleh saudara dan juga keluarganya. Benar-benar telah membuat hati seorang Prawira mengeras layaknya batu yang sulit ditembus oleh apapun.


" Semoga suatu saat aku bisa memaafkan pria tua itu!" ucap Prawira kemudian dia pun menyusul istrinya yang ada di dalam kamar dan pergi tidur agar besok bisa kembali beraktivitas dengan baik.


__ADS_2