
Amanda yang merasa tidak tega melihat Suganda terus Murung dan bersedih hatinya akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Prawira.
"Bejo! Bisakah kau panggil Prawira untuk datang ke ruanganmu?" ucap Amanda ketika dia datang ke kantor milik Bejo.
"Oh Nyonya Suganda!! Silakan masuk!!" ucap Bejo sambil menyalami mantan mertuanya.
"Tolong kau segera panggil Prawira karena saya ada perlu untuk bicara dengannya!" ucap Amanda to the point dan tidak mau untuk berbasa-basi.
Bejo kemudian memanggil sekretarisnya melalui extension yang langsung terhubung meja sekretarisnya.
"Iya Selamat siang tuan! Ada yang bisa saya bantu?" ucap sekretarisnya Bejo di ujung sana.
"Tolong kau panggilkan Tuan Prawira untuk segera menghadap ke ruanganku!" perintah Bejo kepada sekretarisnya.
"Baik Tuan Akan segera saya laksanakan!" setelah itu berjualan langsung menutup panggilan teleponnya dan dia pergi menemui Amanda yang sedang menunggunya.
"Bagaimana dengan kabar Anda nyonya?" tanya Bejo sekedar untuk berbasa-basi dengan mantan mertuanya.
"Kabarku baik-baik saja! Terima kasih atas perhatianmu!" ucap Amanda sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Kira-kira ada keperluan apa? Nyonya datang ke kantor saya?" tanya Bejo merasa sangat penasaran dengan kebutuhan mantan ibu mertuanya datang jauh-jauh ke kantornya.
"Nanti kalau Prawira masuk ke dalam ruangan ini. Bisakah kau mematikan semua CCTV yang ada di ruanganmu? Dan saya minta kau untuk meninggalkan kami berdua!" ucap Amanda dengan nada suara yang begitu serius sehingga membuat Bejo mengerutkan keningnya.
"Maafkan saya kalau saya dinilai lancang oleh anda tapi Bisakah anda menjelaskan kepada saya kenapa Saya harus melakukan hal seperti itu?" tanya Bejo seakan merasa keberatan dengan permintaan dari Amanda yang memint untuk mematikan semua CCTV di dalam ruangannya.
"Pembicaraan yang aku lakukan dengan Prawira adalah pembicaraan yang serius dan juga rahasia. Aku tidak mau kalau sampai orang-orang yang ada di dalam ruang CCTV juga mendengarkannya!" ucap Amanda berterus terang kepada Bejo.
"Anda tidak usah khawatir dengan hal itu. Karena CCTV yang ada di dalam ruangan ini akan langsung berhubungan dengan ponsel saya tidak ada hubungan sama sekali dengan ruang operator CCTV di gedung ini!" ucapp Bejo menerangkan segalanya kepada Amanda.
"Apakah kau bisa berjanji padaku untuk merahasiakan Apapun yang terjadi di dalam ruangan itu?" tanya Amanda dengan tatapan serius kepada Bejo.
__ADS_1
"Saya tidak mempunyai banyak waktu untuk usil dengan urusan pribadi orang lain! Saya memasang CCTV di ruangan ini adalah untuk merekam segala aktivitas yang terjadi di dalam ruangan ini dan kalau ada terjadi hal-hal atau situasi yang mendesak CCTV tersebut bisa dijadikan sebagai barang bukti!" ucap Bejo berusaha untuk meyakinkan kepada Amanda untuk percaya kepada dirinya.
"Baiklah kau boleh menghidupkan semua CCTV yang ada di ruangan ini dengan janji bahwa kau tidak akan pernah menyebarkan apapun yang terjadi hari ini ketika aku bicara dengan Prawira!" ucap Amanda dengan penuh ketegasan.
"Percayalah kepada saya Nyonya Saya tidak akan pernah melakukan itu kecuali ada hal-hal yang mendesak yang memaksa saya untuk mempublikasikan rekaman tersebut!" ucap Bejo memberikan informasi situasi dirinya kepada Amanda.
"Yang akan ditemui oleh Nyonya adalah seorang laki-laki yang bisa dikatakan sangat kejam dan juga berdarah dingin. kalau sampai di ruangan ini terjadi tindak kriminal ataupun tindak pidana maka saya memiliki hak untuk memberikan rekaman yang ada di dalam ruangan ini kepada pihak yang berwajib untuk menyelidikinya!" ucap Bejo.
"Baiklah kau bisa melakukan hal seperti itu tidak masalah bagiku. Toh aku di sini bukan untuk melakukan tindak kejahatan. Aku hanya ingin mencoba untuk diskusi dengan Prawira.
Tidak lama kemudian pintu ruangan Bejo diketuk oleh seseorang dari luar.
"Masuklah!" ucap Bejo memberikan izin kepada orang tersebut untuk masuk.
"Maaf tuan tuan Prawira sudah ada di sini!" ucap sekretarisnya Bejo.
Prawira langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Bejo dengan penuh keangkuhan sehingga membuat Bejo merasa sangat jengkel dan muak terhadapnya.
"Ada apa kau memanggilku dan mengganggu waktuku?" tanya Prawira tanpa melihat segelas pun kepada Bejo.
"Aku yang ingin bertemu denganmu. Aku hanya ingin meminta tolong kepada Bejo untuk memanggilmu ke sini!" ucap Amanda sambil menatap Prawira dengan lekat.
Amanda tampak melihat baju dari atas rambut hingga ujung kaki menilai pribadi seorang Prawira yang tampak begitu introvert dan juga sangat angkuh.
"Siapa Anda nyonya? Mengapa anda ingin bertemu dengan? Saya saya tidak kenal denganmu!" ucap Prawira sambil menatap tajam kepada Amanda yang masih menilai seorang Prawira.
"Mengapa kau menatapku seperti itu hah?" hardik Prawira dengan tidak senang melihat pandangan mata Amanda yang tidak mau lepas dari dirinya.
"Kau benar-benar mirip seperti Silvia. Apakah benar kalau kau adalah putra dari Silvia?" tanya Amanda kepada Prawira.
"Bejo, bisakah minta tolong? Bisakah kau meninggalkan kami berdua? Karena saya memiliki sesuatu yang sangat penting untuk dibicarakan dengan pemuda ini!" ucap Amanda memberikan perintah kepada Bejo dan juga sekretarisnya untuk meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Prawira tampak mengerutkan keningnya tangannya yang sedap tadi dia taruh di saku celana Kini dia lipat di depan dadanya.
'Siapa sebenarnya perempuan ini? Kenapa dia tampak memiliki Aura yang begitu kuat dan juga bisa memerintahkan Direktur Eksekutif dari perusahaan ini untuk meninggalkan ruangan miliknya?' batin Prawira merasa tidak tenang mendapatkan kenyataan itu.
Bejo dan sekretarisnya langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan memberikan akses pribadi kepada Amanda untuk bisa berbicara secara leluasa dengan Prawira.
"Sebenarnya punya hubungan apa Tuan Prawira dengan Nyonya Suganda? Kenapa wajahnya tampak begitu serius ih sungguh sangat menakutkan!" ucap sekretarisnya Bejo ketika mereka berdua Kini harus menunggu Amanda dan juga Prawira selesai berbicara di dalam sana.
"Jangan mulai menggosip! Sudah sana kerjakan tugasmu!" ucap Bejo menegur sekretarisnya yang sudah mulai pecicilan dengan urusan orang lain.
Bejo yang merasa penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana akhirnya dia memilih untuk pergi ke ruang rapat.
"Aku harus tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua di dalam ruangan ku! jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang tidak senonoh dan mempermalukanku!" ucap Bejo.
baju langsung masuk ke ruang rapat dan langsung menguncinya dari dalam agar tidak ada orang lain yang bisa masuk ke dalam ruangan itu.
Bagaimanapun Bejo mengingat tentang wanti-wanti Dari Amanda bahwa apa yang akan dia bicarakan bersama Prawira adalah sesuatu yang penting dan juga rahasia sehingga orang lain tidak diperbolehkan untuk mendengarkan.
"Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan dan kenapa Nyonya Suganda bisa kenal dengan Prawira!" baju kemudian menghidupkan ponselnya dan mencari aplikasi yang langsung tersambung kepada CCTV yang ada di dalam ruangannya.
Bejo terus mantengin mereka berdua yang sekarang sudah tampak berada di dalam ponselnya.
"Kenapa mereka diam saja dari tadi? Apakah mereka tidak ingin bercakap-cakap?" tanya Bejo dengan penuh penasaran.
...****************...
Sementara itu di dalam ruangan baju tampak Prawira dan Amanda masih juga terdiam karena Amanda Masih memikirkan clue apa yang akan dia gunakan untuk berbicara dengan Prawira.
"Kau memanggilku jauh-jauh ke sini, hanya untuk melihatmu? Cepat katakan apa yang kau butuhkan dariku huh! Jangan coba-coba untuk membuang-buang waktuku yang berharga!" ucap Prawira dengan suara ketusnya namun Amanda tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Bahkan sifatmu pun sama dengan Silvia. Aku sangat yakin bahwa kau memang adalah putra dari Silvia!" ucap Amanda mengulas senyum manis di bibirnya kepada Prawira yang kini menatapnya dengan tajam dengan sejuta pertanyaan yang siap dilontarkan kepada Amanda.
__ADS_1
"Entah apa yang sedang kau rencanakan. Tapi yang jelas itu tidak penting bagiku sama sekali!" ucap Bejo dengan amarah yang ada di matanya karena sejak tadi Amanda hanya menatapnya tidak mengatakan apapun.