Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
79. Tidak!


__ADS_3

Siska sangat ketakutan melihat aura membunuh yang ditunjukkan oleh Prawira terhadap dirinya.


"Tolong kau ampuni nyawaku. Aku berjanji aku tidak akan membuka rahasia kamu pada siapapun!" ucap Siska dengan penuh ketakutan tetapi Prawira malahan tertawa terbahak-bahak melihat hal itu.


"Apa kau tahu kau sangat cantik ketika kau ketakutan seperti itu!" ucap Prawira kemudian dia mengunci Siska di dalam kamarnya.


"Aku harus berusaha untuk pergi dari rumah ini aku tidak bisa membiarkan diriku dalam bahaya seperti ini!" Siska bermonolog kepada dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha untuk mencari sesuatu yang kira-kira bisa dia gunakan untuk memecahkan kaca jendela yang ada di rumah milik Prawira.


Tapi nihil tidak ada sesuatu yang bisa dia gunakan. Karena ruangan itu steril. Tampaknya Prawira memang sudah berniat untuk mengurung dia di kamar itu.


"Aku harus segera menghubungi Tuan Bejo. Agar dia bisa menolong ku disini!" Siska kemudian mencari ponselnya yang dia letakkan di dalam tas. Tetapi dia kecewa karena ternyata ponselnya pun tidak ada di sana.


"Dia rupanya benar-benar bertekad untuk mengurungku!" ucap Siska frustasi memikirkan nasibnya saat ini.


"Aku benar-benar bodoh karena mau dia bodohi seperti ini. Padahal Tuan Bejo begitu baik padaku tetapi aku malah menghianati Dia. Mungkin aku memang pantas menerima ini sebagai hukumanku!" ucap Siska menyesali dirinya karena telah menghianati Bejo atasannya yang selama 3 tahun lebih telah begitu baik kepadanya.


Sementara itu, Prawira yang saat ini sedang ada di ruang keluarga tampak sedang menikmati segelas wine dan juga seorang perempuan yang ada di sampingnya.


"Berapa lama kau mengurung Siska di kamar itu? kenapa tidak langsung dihabisi saja sih kau membuatku cemburu!" ucap Sisil sambil bermain-main dengan dada Prawira yang saat ini terbuka tanpa mengenakan apapun.


Sisil adalah sahabat Siska. Entah sudah berapa lama mereka bermain di belakang Siska. Sungguh kasihan Siska telah dikhianati oleh semua orang yang dia percaya.


Mungkin itulah nasib bagi seorang pengkhianat. Karena dia telah menghianati orang baik maka dia pergi khianati pula.


"Dengarkan aku! Kau tenanglah nanti juga akan tiba masanya. Kau nikmati saja saat-saatmu sekarang berada di sisiku. Kau tidak usah terlalu banyak menuntut padaku karena aku tidak suka!" ucap Prawira sambil menekan rahang Sisil yang kini tampak ketakutan menatapnya.


Dengan kesal Prawira kemudian langsung meninggalkan Sisil sendirian di sana dan masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya.

__ADS_1


"Dasar perempuan di mana-mana inginnya menguasai tidak mau mengerti tentang kebutuhanku!" ketika dia mengatakan hal itu tiba-tiba saja Prawira terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kalau dipikir-pikir tentang hal itu, memang hanya Siska yang selama ini selalu mengerti tentang aku. Bagaimana mungkin aku sanggup membunuh dia? Kalau dia selalu bisa memberikan ketenangan padaku?" Prawira kemudian wara-wiri terus bolak-balik di dalam kamarnya sendiri seperti orang linglung.


"Aku harus memikirkan Bagaimana caranya agar Siska tidak mengungkapkan rahasiaku dan aku juga tidak perlu untuk membunuhnya!" Prawira terus saja berpikir keras untuk mendapatkan solusi dari masalah yang saat ini sedang membuat Kepalanya pusing.


Sementara itu di luar sana Sisil saat ini sedang misuh-misuh karena sejak tadi dia meminta kepada Prawira untuk membuka pintu kamarnya tetapi tidak digubris sama sekali.


"Ah mendingan aku pulang. Ngapain juga aku di sini kalau dia cuek padaku? Mendingan aku pergi saja kepada Rian dan minta agar dia mau menyenangkan diriku malam ini!" ucap Sisil sambil tersenyum bahagia kemudian dia langsung pergi meninggalkan apartemen milik Prawira.


Setelah Prawira yakin bahwa Sisil sudah pergi dari apartemennya Dia kemudian keluar masuk ke dalam kamar yang saat ini sedang ditempati oleh Siska.


Dilihatnya Siska kini sedang tertidur lelap sehingga membuat Prawira merasa begitu terpana kecantikan Siska yang luar biasa di matanya saat ini.


Prawira kemudian membaringkan tubuhnya di samping Siska dan memeluk tubuh Siska yang begitu dia rindukan.


Siska terpenjat ketika mendapatkan Prawira kini ada di sampingnya dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Lepaskan tanganmu dari tubuhku! Apa yang kau lakukan cepat lepaskan aku!" berusaha memberontak untuk lepas dari tangan Prawira yang tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuhnya.


"Dasar psikopat gila! Apa yang kau lakukan padaku cepat lepaskan aku!" Siska berusaha untuk melepaskan dirinya dari Prawira yang tampaknya sedang terlelap dan tidur.


Setelah merasa kelelahan akhirnya Siska pun menyerah dan dia pun terlelap dalam pelukan Prawira. lelaki yang pernah sangat dia cintai tetapi telah mengecewakannya dengan mengkhianati dirinya.


Keesokkan paginya Prawira mendapatkan dirinya yang saat ini sedang memeluk Siska dengan erat.


"Bahkan belum mandi dan bermake up saja Dia terlihat begitu cantik Bagaimana mungkin aku bisa membunuh dia?" Prawira bermonolog dengan dirinya sendiri kemudian dia mengecup bibir Siska.

__ADS_1



Visualisasi yang di lakukan oleh Prawira terhadap Siska.


Siska menggeliat ketika dia menyadari bahwa seseorang sedang menciumnya.


"Apa yang kau lakukan pagi-pagi terhadapku?"tanya Siska dengan menatap tajam kepada Prawira.


"Aku memiliki penawaran untukmu Apakah kau menerimanya?" tanya Prawira sambil duduk di samping Siska yang saat ini menatap tajam kepadanya.


Siska terus menetap mata Prawira yang dari tadi seakan sedang menelanjangi dirinya.


"Penawaran apa? Aku tidak mau melakukan hal buruk lagi untuk kamu!" ucap Siska langsung memberikan ancang-ancang kepada Prawira untuk tidak berbuat macam-macam kepadanya.


"Aku akan mengampuni nyawamu tapi dengan satu syarat!" ucap Prawira kemudian Dia mendekati Siska yang tampak ketakutan ketika dia mau menariknya ke dalam pelukannya.


"Apa syarat yang kau berikan kepadaku untuk mengampuni nyawaku?" tanya Siska dengan mata kelincinya.


Mata yang selalu sanggup membuat Prawira menemukan ketenangan dalam kebeningan mata Siska yang selalu menyejukkan hatinya.


"Kau menikahlah denganku dan aku akan memastikan bahwa kamu akan sehat dan selamat!" ucap Prawira sambil menatap Siska yang kini memalingkan wajahnya dari Prawira.


"Kau jangan pernah bermimpi untuk menikah denganku. Karena Aku tidak akan pernah sudi menikah denganmu!" ucap Siska dengan menatap tajam kepada perwira dengan penuh kebencian.


Kalau Prawira mengatakan itu sebelum kejadian kemarin, mungkin Siska akan menerimanya dengan senang hati.


"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Bukankah dulu kau selalu memintaku untuk melamarmu? Kenapa saat aku ingin menikahimu kau malah menolaknya?" tanya Prawira kebingungan dengan kelakuan Siska yang saat ini menurutnya aneh.

__ADS_1


"Dulu aku mencintaimu makanya aku menginginkan untuk kau menikahiku. Tetapi sekarang aku membencimu. Oleh karena itu aku tidak sudi kau menikah denganku!" ucap Siska sambil menatap tajam kepada Prawira yang saat ini malah tersenyum kepadanya.


__ADS_2