
Pov Farel
Setelah resmi menikah dengan Cansu, aku jadi semakin bersemangat untuk bekerja. Bulan madu kami sudah di jadwalkan, seminggu lagi. Cansu ingin pergi ke Turkey. Negara impiannya. Aku menyetujui apapun kemauan istriku, yang penting nanti dia mau memberikan surga dunia untuk ku.
Kisah malam pertama kami waktu itu, masih aku ingat dengan jelas. Rasanya sangat bahagia. Kenapa tidak dari dulu aku memaksa Cansu untuk menikah dengan ku? Ah, masih siang, otakku sudah traveling. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, supaya aku bisa pulang dengan cepat. Tunggu, Cansu pasti masih di kantornya juga. Aduh, begini amat ya, punya istri seorang CEO wanita yang sibuk.
Setelah pekerjaan aku selesai, aku meminta supirku untuk mengantarkan aku ke kantor istriku yang lumayan jauh dari kantor Bramantyo Group.
Aku sudah membayangkan akan makan siang dan pulang bersama dengan istriku yang aku cintai. Kami akan merencanakan bulan madu kami.
"Assalamualaikum, sayang! Suamimu yang tampan datang!" ucapku sambil membuka pintu ruangan istriku. Saat aku buka, aku mendapatkan istriku tengah tertidur di sofa, tampak nyenyak sekali. Ah, ini pasti gara-gara ulahku. Semalaman membuat dia bergadang. Aku memang menggempurnya tanpa jeda. Pengantin baru maklum saja. Masih Hot Hot nya.
"Sayang, ayo kita makan siang dulu. Ini aku bawain makanan kesukaan kamu!" ucapku sambil mengecup bibir istriku yang sensual.
Cansu tampak membuka matanya. Masih agak bingung, nyawanya belum kembali sepenuhnya.
"Sayang, maafkan aku ya, semalaman aku telah menggempur kamu, jadinya kamu ngantuk, ya?" tanyaku sambil memeluk istriku dari samping. Aku membawa tubuh istriku ke pelukanku.
Duh, otak ngeres memang, baru nyentuh begini, otakku sudah traveling aja. Kasihan istriku tampaknya masih kelelahan dan mengantuk.
"Kamu sudah pulang kerja?" tanya Cansu masih terpejam matanya, kini tangannya memeluk pinggangku dan menaruh kepalanya di dadaku. Bokongnya yang tepat duduk di atas assetku, sungguh membuat hatiku jadi berdesir.
"Sayang, ayo duduk dulu di sofa, aku suapin makan, Ok?" tanyaku. Istriku hanya mengangguk, saat aku menyodorkan sendok ke mulutnya, dia membuka mulutnya saja. Lalu mengunyah dengan malas. "Sayang, ayo dong buka dulu mata kamu. Nanti habis makan kita pulang, tidur di rumah saja!" pintaku sambil mencium bibir istriku.
__ADS_1
"Gak mau! Palingan nanti kamu gempur aku lagi. Aku masih ngantuk, masih ngilu juga. Kamu ganas mainnya. Aku jadi trauma tahu!" ucap Cansu mencebikkan bibirnya, rasa gemes. Aku langsung ***** bibirnya tanpa ampun. Istriku yang masih ngantuk, auto melek, dan menikmati ciuman yang aku berikan. Aku memang jago kalau urusan ini.
"Sudah, sayang! Aku kehabisan nafas!" pinta Cansu sambil memukul dadaku pelan. Dengan senyum nakal aku mulai grapa *****.
"Tuh, kan! Ini masih di kantor loh, otakmu udah mesum aja!" protes Cansu.
"Aku haus sayang!" ucapku dengan tatapan sayu.
"Kalau haus minum, dong! Kenapa malah buka baju aku?" protes istriku.
"Mau ***** sayang!" ucapku tanpa malu-malu.
"Ih, dasar mesum! Udah pulang sana! Nanti kalau ada yang masuk ruanganku, aku jadi malu!" usir istriku dengan keras. Aku jadi sedih dapat penolakan dari istriku. Tapi aku tidak kehilangan ide. Aku keluar, lalu menemui sekretaris istriku.
"Kalau nanti ada tamu mencari ibu, bilang ibu tidak ada! Buat janji ulang! Paham?" ucapku, sekretaris istriku hanya manggut-manggut saja. Aku pemegang saham juga di perusahaan ini, jadi sedikit banyak aku masih punya kuasa.
"Sayang, aku haus!" ucapku lagi. Tapi istriku acuh dengan keinginanku. Dia tampak menikmati makan siangnya. "Ayo makan! Kau tidak lapar? Jangan kau pakai otakmu cuma buat mikir mesum!" cicit istriku yang menyodorkan makanan ke mulutku. Dengan cemberut aku membuka mulutku. Aku kesal dengan istriku yang tidak peka dengan hasratku yang sudah naik ke kepala.
Setelah semua makanan yang aku bawa habis, aku langsung menggendong istriku ke ruang khusus yang memang disiapkan oleh istriku untuk istirahat, kalau dia lembur dan malas pulang.
Kantor istriku memang layaknya hotel bintang lima, semuanya ada dan lengkap. Aku meminta hakku yang tertahan dari tadi gara-gara acara makan siang, istriku sekarang tidak bisa menolak lagi, pintu juga sudah aku kunci dua duanya. Aman! Gak ada alasannya lagi.
Gak usah dijelaskan panjang lebar ya, aktifitas kami di kamar ini. Yang jelas kami bahagia dengan kehidupan pernikahan yang baru beberapa hari kami jalani. Setelah selesai, aku membantu istriku ke kamar mandi. Karena dia kesulitan berjalan. Ah, apa aku terlalu ganas ya? Istriku sampai meringis begitu.
__ADS_1
"Maafkan, sayang! Lain kali Mas main lembut!" ucapku sambil mencium bibirnya.
"Janjimu selalu begitu, ujung-ujungnya aku gak bisa jalan juga!" cicit istriku di bathtub. Aku hanya tersenyum saat melihat istriku yang cemberut.
"Ayo kita pulang, biar kamu bisa istirahat!" ucapku sambil membantunya memakai pakaian. Aku lalu menggendong istriku ke lantai bawah, aku melihat anak buah istriku pada berbisik-bisik.
"Seganas apa pak Farel saat main, ya? Itu Bu Cansu bahkan sampai gak bisa jalan gitu!" bisik mereka satu persatu menyuarakan hal yang sama.
Istriku yang mendengar auto merasa malu, dia menenggelamkan wajahnya di dadaku. Ah gemes jadinya. Dadaku berdebar rasanya. Aku jatuh cinta kepada istriku setiap saat. Istriku yang sangat menggemaskan dan cantik.
"Lain kali, kamu gak usah datang ke kantor deh, aku jadi malu tahu! Sekarang aku pasti jadi bahan olok-olok semua karyawanku! Aku malu!" ucap Cansu.
"Gak usah malu! Kita kan sudah menikah!" jawabku. Tapi istriku malah cemberut.
"Yang tahu kita menikah cuma kita berdua. Apa kamu lupa kalau kita belum buat resepsi pernikahan bahkan kita belum mengumumkan ke khalayak ramai masalah pernikahan kita. Orang tua kita saja belum tahu!" ucap Cansu kesal.
Deg
Aku baru ingat! Kalau kami memang belum melakukan hal itu. Waduh, bisa gawat ini! Kalau di kantor nanti istriku di jadikan gunjingan.
Aku kemudian mengambil ponselku lalu menelpon Rukmana yang kini telah menjadi asisten Cansu.
"Rukmana, segera siapkan konferensi pers, aku akan membuat pengumuman tentang pernikahan ku dengan Cansu," ucapku.
__ADS_1
"Siapkan saja! Waktunya besok!" aku langsung menutup telepon tanpa menunggu jawaban Rukmana. Gak penting bagiku, yang penting sekarang aku harus menenangkan istriku yang tampaknya sedang badmood gara-gara kelakuan diriku tadi. Semoga kemarahan dia gak lama.
Bahaya kalau istriku marah lama-lama, bisa mengancam kesejahteraan adek kecilku nantinya. Acara honey moon juga bisa terancam dalam bahaya, kalau istriku marahnya lama.