Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
12. Mas Farel pulang


__ADS_3

Pov Reynaldi


Aku dan Mas Farel akhirnya pulang ke rumah utama. Kakek pasti kaget kalau aku bisa membawa kakakku yang keras kepala untuk pulang ke rumah utama. Aku sangat bahagia kakakku pulang tanpa perlawanan seperti kemarin.


Aku tahu, kemarin Kakekku bahkan sampai mengerahkan semua pengawal dan anak buahnya untuk mencari kakakku. Tapi sekarang, kakaku pulang sendiri dengan suka rela.


Setelah sampai rumah, Mas Farel langsung masuk ke kamarnya. Biarlah, dia pasti sudah kangen dengan kamarnya. Selama tiga bulan, Mas Farel menghilang. Aku mengerti perasaan kakakku.


"Mah, Mas Farel sudah kembali." ucapku sama mamahku. Beliau tampak kaget.


"Apa sayang? Kamu gak salah bicara?" Mamah menggenggam tanganku.


"Tidak, Mah! Itu orangnya sudah di kamarnya. Mungkin sedang mandi." aku sendiri merasa lelah.


Aku masuk ke kamarku dan mandi juga. Berendam dengan air hangat, pasti akan terasa sangat menyenangkan.


Setengah jam aku berendam, aku mengakhiri acara mandiku saat mendengar ketukan pintu di kamarku. Itu suara kakakku, Mas Farel.


"Masuk, Mas!" sahutku sambil mencari-cari pakaian di wall in close. Aku memiliki banyak koleksi jas rancangan desainer kelas dunia. Jam tanganku saja, berbaris rapi. Tinggal pilih kalau mau berangkat kerja. Semua mamahku yang membelikan. Aku paling malas belanja seperti itu. Aku hanya memakainya untuk membuat mamahku bahagia.


Hobbyku adalah jalan-jalan keliling dunia. Tapi mamahku memaksa agar aku ikut andil dalam manajemen perusahaan sejak Mas Farel menghilang. Makanya aku senang sekali, saat tahu Kakak ku masih hidup. Itu artinya hidupku akan kembali bahagia dan tenang.


Aku sudah merencanakan akan pergi ke Turkey dan memulai petualangan seru dengan kapal pesiar pribadiku. Semoga saja mamah tidak merusak rencanaku lagi. Mamah selalu mengancam akan bunuh diri kalau aku menolak keinginan dia. Resiko jadi anak kesayangan Mamah. Keinginan pribadi harus selalu dikorbankan demi kebahagiaan Mamahku.

__ADS_1


"Rey, kamu sudah makan malam belum?" tanya Mamahku di depan pintu. Mas Farel masih tiduran di atas kasurku. Ah.. aku senang sekali, karena dia sudah mengingat dirinya kembali. Mas Fadel dan aku memang selalu akur dan saling menyayangi.


"Mas, ayo kita makan malam dulu. Kakek pasti bahagia sekali melihat Mas sudah pulang." ucapku sambil menggoyang bahu kakakku. Dia tertidur kayanya. Mungkin karena terlalu lelah.


"Mas, bangun dong! Masa kamu gak lapar?" aku masih berusaha membangunkan kakakku yang kalau tidur udah kaya kebo. Susah sekali di bangunkan. Menyebalkan!


"Aku masih ngantuk Rey!" Mas Farel hanya ngulet sebentar lalu lanjut tidur lagi.


"Kamu gak lapar, Mas? Ini sudah waktunya makan malam. Cepatlah, nanti Kakek kita ngamuk, kalau terlambat ke sana!" ucapku. Aku lihat Kakakku bangun sejenak. Dia memiringkan badannya.


"Ya udah, aku mau cuci muka dulu. Biar ngantuk hilang dari wajahku!" Mas Farel masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku. 10 menit kemudian dia keluar dan tampak segar wajahnya.


Kakakku memang selalu tampan Paripurna. Ketampanan yang selalu berhasil membuat para wanita histeris. Untung kakakku itu bukan playboy. Tidak bisa aku bayangkan kalau dia playboy. Hari pernikahannya, pasti akan menjadi hari berkabung Nasional. Karena pasti banyak wanita yang patah hati gara-gara Mas Farel.


"Gak usah terburu-buru, Rey. Mas masih ingin bersantai dulu. Mas tidak mau berpikir berat dulu!" Kami menuruni tangga bersama.


"Selamat malam!" ucap kami bersama-sama. Kakek dan papah tampak keheranan melihat Mas Farel duduk bersama di meja makan. Tidak berteriak seperti kemarin.


"Kamu sudah kembali, Farel?"tanya papah senang.


" Iya, Pah! Alhamdulillah, Allah masih menjagaku dari perbuatan orang jahat yang ingin mencelakai diriku!" ucap Mas Farel. Yang aku heran, kenapa Mas Farel mengatakan hal seperti itu sambil menatap Mamahku? Apa jangan-jangan kecelakaan Mas Farel ada kaitannya dengan Mamah? Seketika jantungku rasanya berdenyut keras. Sakit dan dadaku rasanya sesak.


"Mah, nanti kita bicara di kamarku, habis makan malam!" bisiku di telinga Mamahku. Aku tidak mau ada yang mendengar omonganku tadi.

__ADS_1


"Ayo makan sayang, jangan hanya dilihatin saja." Mamahku tampak gugup berhadapan dengan Farel. Mamahku memang Mamah tiri Mas Farel. Tapi Mas Farel selalu baik kepadaku. Hanya bersikap dingin kepada Mamahku saja. Maklum, Mas Farel mungkin belum terima kalau posisi Mamahnya tergantikan di hati papah kami.


Papah memang terkenal playboy dimasa mudanya. Mamahku dulu adalah selingkuhan Papahku, saat Mamah Mas Farel masih hidup. Mamahnya meninggal karena tekanan bathin. Setelah mengetahui suaminya main gila dengan Mamahku di luar sana. Mamah adalah sahabat Mamahnya Mas Farel. Jadi rasanya sakit dikhianati oleh orang yang dia anggap sahabat.


Setelah Mamahnya Mas Farel meninggal, Papah membawaku dan Mamah ke rumah ini. Saat itu, Kakek marah besar dan tidak mau menerima kehadiran kami. Mas Farel saja lama sekali tidak mau menerima kehadiran Mamahku. Dia masih bisa bersikap baik padaku, karena dia memang kesepian sebagai anak tunggal di rumah ini.


"Farel, Kakek merasa sangat bahagia sekali dengan kepulangan kamu. Segera kembali ke kantor. Kasihan para pegawai kamu. Adik kamu ga becua ngurus perusahaan. Semuanya kacau sekali! Sejak kamu pergi, banyak proyek yang lepas dari perusahaan kita. Bikin kesal saja!" Kakek menggerutu dengan kinerja ku.


Kakek memang masih belum 100% menerima kehadiranku sebagai cucunya. Tapi setidaknya dia tidak mengusir diriku dan Mamahku, aku sudah bersyukur sekali. Aku bisa memahami, Mamah yang sudah merebut papah dari pelukan mamahnya Mas Farel, membuat menantunya meninggal muda, siapa yang tidak kesal?


"Kakek, aku baru kembali. Aku ingin berlibur dulu. Biarkan Reynaldi belajar mengelola perusahaan kita, Kek!" ucap Mas Farel sambil tersenyum kepadaku. Aku tahu, Mas Farel selalu sayang padaku. Aku bisa merasakannya.


"Adik kamu gak bakat jadi pemimpin di perusahaan kita. Bakat dia itu jalan-jalan dan habisin uang keluarga. Main-main perempuan di luar sana, sama kayak papah kamu di masa mudanya!" ucap Kakek sambil menatap sinis pada papah dan diriku


"Kakek, kita makan yang tenang ya, kasihan Mas Farel sudah kelaparan. Kita bisa bicara masalah perusahaan setelah makan nanti." ucapku membujuk Kakek, yang masih hobby mengomentari kelakuan cucu dan anaknya.


Aku sungguh tidak tahu, ada masalah apa sebenarnya? Kakek tampak membenci papahku, yang aku dengar, Kakek sudah membuat surat wasiat bahwa Mas Farel di tunjuk sebagai ahli waris keluarga Bramastyo. Padahal papahku masih hidup dan masih muda.


"Iya, Pah! Kasihan Farel, biarkan dia makan dulu. Setelah makan, Papah bisa bicarakan apa saja." Papah tampak salah tingkah dengan ucapan kakeku tadi. Kakek memang paling sensitif kalau bicara masa lalu papahku yang seorang Casanova. Aku tidak heran dengan hobbyku. Menurut Kakek itu menurun dari Papahku.


"Ayo, makan yang kenyang Farel. Kakek bahagia sekali kamu mau pulang ke rumah ini lagi. Terima kasih cucu kesayangan Kakek!" Kakek mengelus telapak tangan Mas Farel yang hanya dibalas dengan anggukan kecil.


Kadang aku merasa iri dengan Mas Farel yang begitu dicintai oleh Kakekku. Kadang, aku juga ingin di sayang dan dicintai oleh Kakek. Tapi sepertinya Kakek hanya sayang Mas Farel. Menyedihkan nasibku bukan?

__ADS_1


__ADS_2