
Siang itu Farel sengaja pulang lebih awal, karena saat-saat melahirkan Cansu berdasarkan hitungan hanya dalam menghitung hari. Farel ingin menjadi seorang suami siaga yang selalu bersiaga di samping istrinya.
"Sayang apakah kamu merasa baik-baik saja?" tanya Farel merasa cemas melihat cansu yang wajahnya pucat dan menahan rasa sakit, dengan segera Farel membawa Cansu ke rumah sakit. Dokter langsung memeriksa keadaan Cansu yang ternyata sudah siap untuk melahirkan. barel langsung menghubungi keluarga besarnya dan mereka langsung datang ke rumah sakit menunggu kehadiran anggota baru keluarga Bramantyo.
Ayah dan Kakeknya Farel sangat excited banget menyambut kehadiran anak Farel dan Cansu. Reynaldi tidak kalah heboh menyambut kelahiran keponakan pertamanya.
"Alhamdulillah, bayinya sehat dan ibunya juga! Selamat. ya! Bayinya laki-laki!" ucap Dokter tersebut.
"Ayah sudah jadi Kakek!" ayahnya Farel heboh sekali
"Ayah juga sudah punya cicit!" Kakeknya Farel tidak kalah hebohnya, Farel hanya menatap sinis mereka berdua.
"Itu anakku! Kenapa kalian yang heboh?" sinis Farel.
"Dasar anak durhaka! Bicara tidak sopan sama orang tua kamu!" tegur mamahnya Farel.
"Kalian yang lucu! Dulu marah-marah saat aku menikah dengan Cansu! Sekarang anak kami lahir. Ikutan heboh saja. CK.. bikin kesal saja!" cibir Farel, padahal dalam hati Farel sangat bahagia melihat kedua orangtuanya menyambut kelahiran anak pertamanya.
Farel sangat kenal mereka, kalau dia menunjukkan kebahagiaan atas kedatangan mereka, mereka pasti malah akan mengejek dirinya. Makanya Farel sengaja pasang wajah jutek dari tadi untuk memancing jiwa kompetensi keluarganya itu.
Farel menengok anaknya yang masih di ruangan bayi. Belum di perbolehkan untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Farel menciumi Cansu tanpa henti.
"Terimakasih, sayang! Sudah memberikan seorang jagoan yang sangat tampan!" Cansu mengangguk, bahagia karena Farel selama ini sudah menjadi suami siaga selama dirinya hamil. Cansu merasa sebagai wanita paling bahagia di dunia ini. Memiliki seorang suami sesempurna Farel Bramantyo. Hot Daddy miliknya, seorang!
"Sayangku, apakah kau sudah melihat anak kita?" tanya Cansu penasaran. Farel menggeleng pelan.
__ADS_1
"Masih belum di perbolehkan! Tadi kami hanya melihat sekilas di kaca yang ada di ruang bayi!" ucap Farel.
"Sabarlah! Kita sudah sabar menunggu dia selama hampir 10 bulan, kenapa tidak bisa bersabar menunggu saat-saat begini?" tanya Cansu sambil memegang kedua tangan suaminya yang sangat dia cintai.
"Akan kamu kasih nama siapa?" tanya Cansu.
"Arman Bramantyo!" ucap Farel antusias.
"Apakah kedua orangtua MU sudah tahu tentang kelahiran anak kita?" tanya Cansu dengan hati-hati.
"Mereka yang paling heboh, begitu anak kita lahir!" ucap Farel mencium ubun-ubun istrinya.
"Alhamdulillah, tadinya aku takut, kalau anak kita tidak akan di terima oleh keluarga besar Mas!" Tanpa terasa air mata berderai di kelopak mata Cansu.
"Aku tahu, keluargaku pernah menorehkan luka di hatimu. Maafkan mereka, ya?" ucap Farel sambil mengelus pipi Cansu dengan lembut.
"Terimakasih, sayang! Aku sungguh beruntung memiliki istri sebaik kamu!" ucap Farel lalu mengeratkan pelukannya. Ketika Cansu mengaduh, Farel jadi panik.
"Kenapa sayang?" tanyanya panik sambil melihat keadaan Cansu yang kini sudah tersenyum lagi.
"Tadi kamu menyentuh jahitanku, sayang!" ucap Cansu.
"Maafkan, sayang! Karena aku, kamu harus mengalami semua kesakitan ini!" Farel mencium kening Cansu lagi.
"Siapa suruh aku mau jadi istri kamu, ya?" tanya Cansu tergelak. Farel mencubit hidung istrinya dengan gemas.
__ADS_1
"Kamu akan selalu menjadi istri kesayangan seorang Farel Bramantyo!" ucap Farel dengan bersemangat.
"Kamu juga akan selalu menjadi suami kesayangan seorang Cansu Bramantyo!" ucap Cansu tidak mau kalah bersemangat dari pada suaminya.
Tidak lama kemudian, bayi mereka yang sudah mandi dan menggunakan pakaian yang sudah mereka sediakan, akhirnya si bawa juga oleh suster untuk menemui mereka, rona bahagia terpancar di wajah Farel dan Cansu.
"Dede bayinya, sangat tampan! Sama seperti mommy dan daddy nya!" ucap suster itu, terkesiap melihat ketampanan Farel yang memang selalu menjadi buah bibir para wanita.
"Dede bayinya mo nyusu dulu, ya!" kemudian Suster tersebut menyerahkan bayi tampan tersebut kepada Cansu. Ayah dan Kakek di luar juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayi tampan tersebut, tetapi belum di bolehkan oleh Farel. Ah, Farel bersikap sangat kekanak-kanakan. Cansu menyusui bayinya untuk pertama kali. Ya, karena Cansu melahirkan secara Caesar, jadi Cansu baru bertemu dengan anak mereka saat ini.
Setelah kenyang, suster memberikan waktu bagi bayi dan orang tuanya untuk bercengkrama, Kakek, ayah dan ibunya Farel yang tidak sabar, langsung nerobos masuk ke kamar saja, Farel misuh misuh melihat mereka mendominasi putranya, sementara dirinya hanya menjadi penonton bersama Cansu. Cansu sangat bahagia, putranya di sambut oleh keluarga besar suaminya.
"Udah, dong! jangan ngambek terus!" Cansu memberikan kecupan ringan di pipi Farel, baru Farel agak rilex sedikit.
Setelah dinyatakan sehat akhirnya Cansu beserta bayinya kembali ke kediaman keluarga besar Bramantyo. Kakek dan Ayahnya Farel tidak mengijinkan Cansu untuk kembali ke kediaman pribadi Farel. Dengan alasan bahwa mereka ingin mengawasi perkembangan anaknya Farel dan Cansu. Farel protes tetapi tidak ada gunanya sama sekali. Karena Ayah dan Kakeknya ngotot agar anaknya Farel tinggal di kediaman keluarga besar Bramantyo.
Cansu yang tidak ingin melihat Farel bersitegang dengan keluarganya, akhirnya hanya bisa menyetujui saja karena memang tidak ada gunanya berdebat dengan orang tua.
"Sudahlah sayang!Jangan marah-marah terus! Kita harusnya bahagia Kakek dan Ayah serta ibumu menerima kehadiran anak kita. Bukankah dulu mereka paling keras menentang pernikahan kita?" setelah dibujuk oleh cansu akhirnya pada Farel mau juga menerima keputusan keluarga besarnya. Dengan sangat terpaksa akhirnya Farel dan cansu pindah ke kediaman keluarga besar Bramantyo.
Pesta penyambutan anggota baru digelar dengan sangat meriah, Farel sungguh tidak menyukai suatu pesta semacam itu. Farel hanya ingin anaknya hidup dengan sederhana tanpa kesombongan dan tanpa kemewahan dari orang-orang kaya yang hanya ingin menghamburkan uang tidak berguna seperti itu.
Cansu berusaha untuk menghibur suaminya agar jangan marah-marah terus, tetapi Farel memang sudah tidak senang dengan kelakuan kedua orang tuanya yang selalu bertindak sesuka hati mereka. Mereka seakan-akan sedang mengajarkan kehidupan mewah kepada anaknya sejak dini. Farel kesal setengah mati.
"Farel, kenapa kamu cemberut terus?" tanya Mamahnya.
__ADS_1
Farel hanya menatap sinis kepada kedua orang tuanya, lalu pergi meninggalkan pesta tersebut. Farel lebih memilih mengunci dirinya di dalam kamar dari pada ikut larut dalam pesta yang tidak ada gunanya menurut dirinya.
"Sayang, kamu jangan kayak gitu dong! Ayah dan Kakek kamu hanya berbahagia dengan kelahiran anak kita! Udah, dong! Jangan marah-marah terus! Tidak enak dengan para tamu yang sudah datang demi menyambut kelahiran putra kita! Ayo kita ke sana, sayang!" dengan malas akhirnya Farel menurut juga. Farel akhirnya bertemu juga dengan pawangnya. Wanita yang bisa membujuknya.