
Keesokan harinya Bejo bangun dari tidurnya, Bejo langsung mencari Arini, istrinya yang ternyata sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Selamat pagi, sayang!" ucap Bejo sok sok romantis.
"Pagi, mandi dulu, ayo kita sarapan bersama!" ajak Arini, hangat seperti biasa. Bejo mencomot ayam goreng satu, lalu kembali naik ke atas, ke kamar mereka.
Setelah selesai mandi dan berpakaian Bejo kemudian menemui istrinya lagi di ruang makan. Mereka makan dengan lahap, seolah di rumah itu tidak ada masalah apapun. Semuanya berjalan lancar semuanya berjalan tenang. Tanpa mereka sadari bahwa ketenangan itu adalah awal dari sebuah gelombang yang akan membawa kehancuran ke dalam rumah tangga mereka.
Setelah selesai sarapan Arini langsung membereskan piring-piring dan gelas-gelas dan langsung mencucinya. Sementara Bejo sedang asyik menonton televisi di depan di ruang keluarga. Setelah Arini duduk di sampingnya, Bejo kemudian memeluk Arini dalam pelukannya.
"Sayang, bisakah kau membantuku?" tanya Bejo dengan suara syahdu merayu. Ah, kalau orang asing melihat mereka pagi ini, pasti mereka berpikir bahwa keluarga ini adalah keluarga harmonis, keluarga bahagia tanpa masalah apapun. Bejo memang pandai menutupi perbuatan buruknya di luar, dengan menjadi suami yang baik bagi Arini Di dalam rumah, Bejo adalah suami yang romantis, suami yang lemah lembut dan suami yang hebat dalam segala hal. Berbeda kalau sudah di luar sana.
__ADS_1
"Bantu apa?" tanya Arini mulai gak enak perasaannya.
"Gini lho sayang! Mas tuh, sedang merencanakan ingin membuat sebuah perusahaan kosmetik. Bisa nggak, kamu membantu Mas untuk ngelobi Papamu, agar mau memberikan Mas uang sebanyak 10 miliar!" ucap Bejo santai sekali. Seakan uang 10 miliar itu hanyalah sebuah gorengan yang bisa dia comot dengan sesuka hati.
Demi mendengar ucapan Bejo, Arini sampai melotot matanya, terkejut dengan suaminya. Yang begitu mudah sekali meminta sesuatu kepada orang tuanya. Padahal dia adalah seorang laki-laki yang harusnya bertanggung jawab untuk memantaskan keluarga baru mereka, agar tidak selalu membebani kedua orang tuanya.
"Rumah ini dihadiahkan oleh Papahku saat kita pertama menikah, rumah beserta isinya! Kemudian Papa juga memberikan mobil untukmu. Papaku juga sudah mau membangunkan sebuah perusahaan keamanan. Sekarang Mas Masih Ingin membuat perusahaan kosmetik lagi dan Mas ingin menyuruh aku untuk meminta uang ke Papa lagi? Apakah Mas pikir, Papah itu mesin ATM yang uangnya tidak akan pernah habis di ambil setiap hari?" Arini sudah hilang kontrol karena perasaan yang sudah terluka. Ya, Arini mulai merasa tidak nyaman dengan pernikahan yang kini dia jalani.
"Eh, dengar ya! Ayahmu itu orang yang kaya raya. Uangnya tak berseri! Berapapun juga kau meminta uangnya itu, tidak akan pernah habis! Kau ini adalah anak satu-satunya, lalu kau pikir! Ayahmu itu punya uang banyak untuk siapa? Sekarang ini, aku adalah suami kamu. Jadi jangan coba-coba kamu mengintimidasiku untuk bersikap seakan-akan aku ini tidak pantas untuk mendapatkan uang milik Ayah kamu! Cepat telpon ayah kamu! Untuk menyiapkan uang tadi! Aku mau pergi bekerja! Aku pulang, uang tersebut harus sudah ada di rumah kita!" tanpa memperdulikan perasaan Arini Bejo langsung pergi keluar rumah dengan membawa mobilnya yang baru seminggu dibelikan oleh ayahnya Arini. Hati Arini begitu hancur karena ternyata telah menemukan seorang singa yang kelaparan, yang diberikan makanan apapun, sebanyak apapun, tidak akan pernah merasa kenyang.
Arini membersihkan semua celah di kamarnya, termasuk membuka lemari baju Bejo, yang tampaknya lupa dikunci tadi. Saat Arini membuka laci lemari tersebut, Arini menangkap sebuah file map yang mencurigakan. Entah kenapa Arini merasa sangat penasaran dengan map tersebut. Arini kemudian membuka file tersebut.
__ADS_1
Secara perlahan Arini membaca file yang ada di dalam map tersebut, betapa terkejut dan hancurnya hati Arini, ketika dia mengetahui sebuah fakta dan kenyataan. Bahwa ternyata pernikahannya dengan Bejo, hanyalah sebuah kontrak selama 2 tahun saja. Perjanjian Bejo dengan ayahnya, Arini melihat tandatangan ayahnya di file tersebut. Arini sungguh tidak habis pikir dengan ayahnya.
Arini kemudian mengambil ponselnya dan memotret surat perjanjian tersebut. Kemudian Arini mengembalikan map tersebut ke tempatnya lagi, agar Bejo suaminya tidak mengetahui bahwa dirinyq sudah mengetahui tentang surat itu. Surat yang selama ini selalu dirahasiakan oleh Bejo. pantas saja selama ini Arini tidak diperbolehkan untuk menyentuh lemari pakaian itu. Bejo selalu menjaga lemari baju itu, Bejo selalu membawa kunci lemari tersebut. Entah kenapa, hari ini dia tidak menguncinya. Mungkin karena sangking terburu-burunya jadi dia lupa untuk mengunci lemari tersebut.
Arini duduk lemas di lantai, tanpa terasa air matanya sudah sembab di kelopak matanya. Ya, Arini kini sedang membayangkan kembali kisah pernikahannya bersama Bejo selama 1 tahun ini, yang bisa dikatakan terlewati begitu saja. Tanpa kehangatan, tanpa cinta kasih. Arini sekarang merenungkan sikap suaminya yang selama ini selalu dingin terhadap dirinya. Sekarang semua itu terjawab, ternyata pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak tanpa cinta.
"Kenapa Papa melakukan pernikahan seperti ini? Apa sebenarnya tujuan Papa selama ini? Papa selalu menentang keras-keras pernikahanku dengan Renaldi. Dengan mengatakan alasan soal pewaris keluarga dan sebagainya. Papa seakan-akan menunjukkan bahwa dia adalah seorang pria materialistis, yang hanya memandang harta. Tapi kenapa Papa melakukan hal seperti ini terhadap Bejo? Bejo hanya seorang pria yang tidak memiliki apapun. Seorang laki-laki yang kini hanya menjadi lintah dalam keluarga kami!" Arini lalu bangkit dari duduknya, segera bersiap untuk pergi ke rumah ayahnya.
Sejak menikah dengan Bejo, Arini sama sekali tidak pernah mengunjungi rumah kedua orang tuanya. karena memang Bejo selalu melarangnya. Bejo bilang tidak suka, kalau Arini mengadukan rumah tangganya kepada kedua orangtuanya. Arini hanya menelpon ayah dan ibunya sesekali. Ayah dan ibunya yang sering pergi ke luar negeri, jadi wajar kalau mereka jarang bertemu.
Arini bersiap dan menggunakan baju sederhana, Arini mengambil kunci mobilnya yang sudah lama hanya terparkir di garasi saja. Bejo selalu marah kalau Arini pergi keluar rumah mereka. Katanya takut Istrinya bermain api di luar, sementara dirinya hari-hari, hanya sibuk di luar, bahkan sering tidak pulang ke rumah.
__ADS_1
Dengan berjuta perasaan, Arini melajukan mobilnya menuju rumah kedua orangtuanya. Arini berharap kedua orang tuanya sedang ada di Indonesia.
"Aku harap akan mendapatkan jawaban dari semua misteri ini!" Arini melajukan kendaraannya karena sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenaran rumah tangganya.