
Prawira saat ini sedang ada di dalam ruangannya dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat di dalam video yang ditunjukkan oleh Amanda.
"Bagaimana mungkin cerita yang kupercayai selama ini ternyata adalah salah dan bagaimana aku akan menyikapi semua ini?" tanya Prawira terhadap dirinya sendiri.
Tampak Prawira mengacak rambutnya dengan penuh perasaan kesal.
Bejo yang kebetulan sedang lewat di depan ruangan Prawira dia merasa heran melihat perwira yang sejak tadi terus saja mengamuk melemparkan segala sesuatu yang ada di dalam ruangannya saat ini.
"Kurang ajar! Pokoknya aku tidak akan pernah mempercayai perempuan itu aku yakin bahwa dia merencanakan sesuatu!" ucap Prawira dengan mata yang memerah penuh dengan amarah.
"Bertahun-tahun laki-laki itu menghilang dari hidupku. Tetapi, hari ini tiba-tiba saja dia datang dan mengirimkan istrinya untuk membujukku agar tidak membenci Dia lagi! Pria banci itu sejak dulu hingga sekarang tidak pernah berubah tidak pernah berani menghadapi masalah yang ada di dalam hidupnya!" ucap Prawira dengan kesal dan mengepalkan kedua tangannya karena saat ini hatinya benar-benar sedang sakit.
"Sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkan dia. Persetan dengan cerita yang dibawa oleh perempuan itu!" ucap Prawira sambil menatapnya Lang kepada sebuah foto yang ada di atas mejanya.
"Mah aku tidak peduli dengan apapun yang terjadi. Aku harus membalaskan dendam dan sakit hatimu karena laki-laki itu yang sudah menelantarkanmu dan juga aku selama bertahun-tahun lamanya!" ucap Prawira sambil menatap foto tersebut sambil menciumnya berkali-kali.
Foto seorang wanita sederhana yang nampak begitu Anggun bisa dipastikan bahwa ketampanan Prawira saat ini menurun dari ibunya yang begitu bersahaja.
"Aku tidak akan melepaskan dia walaupun beribu retorika yang akan dia katakan aku tidak akan peduli sama sekali!" ucap Prawira sambil meletakkan kembali foto ibunya di tempatnya semula.
Setelah berusaha untuk menenangkan perasaannya akhirnya Prawira memutuskan untuk menenggelamkan dirinya di dalam pekerjaan sehingga dia bisa melupakan rasa sakit yang tadi dia rasakan setelah melihat video kakek dan juga ayahnya yang membicarakan tentang perihal sang ayah yang tidak bisa menemui ibunya di desa yang saat itu sedang hamil dirinya.
__ADS_1
"Sungguh complicated sekali, masalah yang kuhadapi bersama dengan Suganda. Akan tetapi aku yakin bahwa aku akan bisa membalaskan rasa sakit hatiku dan juga rasa ketidakadilan yang diterima oleh ibuku selama hidupnya." ucap Prawira sambil mendudukkan pantatnya di kursi kebesaran miliknya.
Prawira yang hidup hanya bersama dengan ibunya sampai ibunya akhirnya meninggal karena sakit parah tidak lama kemudian Prawira diadopsi oleh orang kaya dan dibawa pergi ke Amerika.
Prawira belum lama menetap di Indonesia. Baru kurang lebih sekitar 2 tahun yang lalu Prawira kembali ke Indonesia dan mulai mencari tentang informasi Ayah kandungnya.
"Aku pasti akan berhasil untuk menjalankan misi seumur hidupku untuk membuat Suganda kehilangan segalanya! akan aku tunjukkan Apa itu putus asa dan tidak memiliki pegangan apapun!" Prawira dengan penuh kebencian ketika dia menyebut nama ayahnya sendiri.
"Eh apa yang terjadi dengan ruanganmu sayang? Kenapa hancur seperti ini?" tiba-tiba saja istri Prawira sudah berada di dalam ruangannya dan merasa terkejut dengan apa yang dia lihat.
"Bukan apa-apa Kok sayang! Kau tidak usah mengkhawatirkannya. Biarkan saja nanti juga di bereskan oleh sekretarisku!" ucap Prawira sambil mendekati istrinya yang datang dengan membawa bekal makan siangnya.
"Kau Makanlah dulu sayang! Sekarang aku akan membereskan semua kekacauan ini. Nanti akan sangat memalukan kalau ada tamu yang melihat ruanganmu ini!" ucap istri Prawira yang dengan Sigap kemudian langsung membereskan ruangan suaminya yang sudah hampir nyaris seperti kapal pecah.
"Sayang, Piala ini pasti sangat susah untuk mendapatkannya. Akan tapi kau begitu sembarangan dan membantingnya sampai hancur seperti ini!!" ucap Siska sambil berusaha untuk secepatnya menyelesaikan semua kekacauan itu.
"Awew!" tiba-tiba saja Siska menjerit.
Prawira yang dari tadi selalu fokus dengan makanannya dia terkejut mendapatkan kenyataan itu.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau ceroboh sekali? Ya Tuhan! Bukankah tadi sudah kukatakan, kau lebih baik ikut makan saja bersamaku biarkan sekretarisku yang akan membereskannya!" ucap Prawira sambil menarik tangan Siska yang tergores oleh pecahan kaca pialanya yang sudah hancur berantakan.
__ADS_1
"Tidak perlu kau menangisi piala itu. Sesuatu yang sudah hancur tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi sayang Walaupun kau menangis seperti apa tidak akan ada bedanya!" ucap Prawira sambil berusaha untuk menghentikan darah yang terus mengalir dari jari Siska.
"Tampaknya lukanya sangat dalam sayang. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja untuk menjahit tanganmu supaya tidak berdarah terus?" tanya Prawira sambil menatap kepada Siska yang masih meringis kesakitan.
"Tidak apa-apa ini kan hanya tergores sedikit kita ke klinik kantor saja!" ucap Siska menolak keinginan suaminya untuk pergi ke rumah sakit.
"Ayolah! Kenapa kau selalu membangkang kita ke rumah sakit Aku tidak mau kalau kau sampai kehilangan banyak darah seperti ini!" bocah Prawira dengan tatapan khawatir sekali dengan keadaan istrinya.
"Tolonglah jangan berlebihan seperti itu. Ini hanya luka kecil dengan diobatin betadin sudah cukup. Mungkin mendapatkan beberapa jahitan akan lebih baik. Kita bisa mendapatkan itu dari klinik kantor saja yang dekat. Tolonglah jangan membuatku malu dengan membawa hal seperti ini saja ke rumah sakit!" ucap Siska sambil cemberut kepada Prawira.
Segala kemarahan yang tadi dia rasakan terhadap ayahnya seketika menguap entah ke mana. Begitu kedatangan Siska ke dalam ruangannya.
Siska memang telah memberikan begitu banyak perubahan pada diri seorang Prawira yang selama ini menjadi laki-laki introvert yang cenderung menarik diri dari dunia luar.
"Ya sudah ayo kita pergi ke klinik jangan sampai lukanya semakin terbuka dan akan menjadi infeksi pada akhirnya!" akhirnya Prawira mengalah kepada istrinya dan dia pun mengantarkan Siska ke klinik kantornya.
"Siska? Ada apa dengan tanganmu? Ya ampun! Kenapa sampai mengeluarkan darah begitu banyak?" ucap Bejo mendekat kepada Siska, sang mantan sekretarisnya yang kemarin dia pecat secara tidak terhormat karena telah menghianati perusahaan demi seorang Prawira.
"Tidak apa-apa Tuhan Bejo Ini hanya luka kecil saja!" ucap Siska mengulas senyum terhadap Bejo.
"Sudah! Ayo cepat kita ke klinik aku tidak punya banyak waktu untuk melayani hal-hal seperti ini!" tanpa menunggu jawaban istrinya Prawira langsung menarik tangan Siska untuk menjauh dari Bejo rivalnya di dalam kantor.
__ADS_1
"Aku tidak senang ya kalau kau beramah tamah dengan Bejo!" ucap Prawira dengan nada kasar seperti merasa sangat tidak senang melihat kedekatan antara Siska dan Bejo. Bejo yang sudah selama hampir 5 tahun menjadi atasan Siska di kantor itu.
"Ya ampun dia hanya menyapaku saja. Mungkin karena khawatir melihat tanganku yang berdarah. Kenapa kau begitu posesif dengan hal-hal kecil semacam itu?" tanya Siska Merasa tidak senang melihat Prawira yang sejak tadi terus saja cemberut sejak mereka meninggalkan Bejo di belakang sana.