
Pagi ini aku langsung pergi ke perusahaan Cansu. Tapi di lobby aku melihat interaksi Cansu dan Rukmana yang sangat akrab. Hatiku jadi panas rasanya. Hubungan mereka tidak seperti sopir dan majikan. Membuat hatiku jadi tidak nyaman.
"Cansu!" panggilku lalu menarik tangan Cansu ke pelukanku. Aku memeluknya dengan posesif. Biar orang-orang tahu, Cansu adalah milikku.
"Farel? Kenapa kamu sepagi ini sudah ada disini?" Cansu tampak kaget dengan kehadiranku.
"Aku merindukan kamu. Makanya pagi-pagi langsung ke sini. Tapi kamu malah enak-enakan mesra-mesraan sama Rukmana!" mata elangku langsung melotot ke arah Rukmana.
"Kami hanya ngobrol biasa, Pak Farel!" Rukmana berkelit lidah. Tapi hatiku sudah jengkel melihat keakraban mereka yang berlebihan.
"Mulai sekarang, jaga jarak kalian! Aku tidak suka wanita ku terlalu dekat dengan kamu!" ucapku.
"Siapa yang wanita kamu?" Cansu tampak protes.
"Ya kamu lah! Siapa lagi?" ucapku cuek sambil menarik tangan dia untuk segera ke ruangannya.
"Aku mulai sekarang akan bekerja sebagai asisten kamu!" ucapku sambil merangkul Cansu.
"Aku tidak berani, membuat CEO Bramantyo Group sebagai asisten ku!" Cansu tampak keberatan dengan keputusan yang aku buat.
"Aku bukan CEO, aku asisten kamu!" ucapku sambil mengecup bibir Cansu sekilas.
Cansu tampak tersipu malu, pipinya bersemu merah, jadi tambah cantik. Dia memang menggemaskan sekali. Aku jadi tambah cinta sama dia. Cansu satu-satunya wanita yang sanggup menaklukkan hatiku yang lama beku.
Ya, dahulu hatiku pernah jatuh cinta. Tapi dihancurkan oleh seorang wanita yang amat aku cintai. Wanita itu main gila bersama sahabat aku sendiri. Duniaku terasa hancur. Sejak itu aku tidak mau membuka hatiku lagi untuk urusan cinta.
__ADS_1
Sejak bertemu dengan Cansu, tanpa dia melakukan sesuatu, hatiku langsung bereaksi. Awalnya aku merasa aneh. Ingin berpura-pura tidak kenal dengan dia, tapi hatiku sendiri yang kalang kabut saat melihat Cansu berdekatan dengan pria lain. Hatiku apa kabarnya?
"Aku mau kita bersama. Jadilah kekasihku!" pintaku pada Cansu. Tapi Cansu hanya terdiam.
"Maafkan aku, tapi bukankah kamu dalam tahap bertunangan dengan Arini Suganda? Aku tidak mau merusak rencana pernikahan kalian." Aku meraup wajah Cansu lalu mengecup sekilas bibirnya. Gemes rasanya.
"Sayang, itu rencana Kakek aku, biar Kakek saja yang menikahi Arini kalau dia maksa terus. Aku selamanya tidak akan pernah menikahi Arini. Aku gak bisa mencintai dia!" Aku tegas dengan keputusan yang aku buat dalam hidupku.
"Jangan buat keluarga kamu sedih, mereka pasti punya alasan kenapa memaksakan pernikahan kalian." Cansu ku memang wanita idaman. Dia selalu mementingkan kepentingan orang lain dari pada dirinya sendiri.
"Sayang, pernikahan bukan mainan. Aku juga gak akan mau mengekang kehidupan Arini tanpa cinta. Aku tahu kalau Reynaldi dan Arini saling mencintai. Aku gak akan mau menjadi duri dalam hati saudaraku sendiri." Cansu mulai paham dengan keteranganku.
"Baiklah, aku paham. Tapi aku belum bisa menerima kamu sebagai kekasihku, maafkan aku!" Aku kecewa sekali dengan keputusan Cansu.
Tapi aku terima dengan lapang dada. Cinta tidak bisa dipaksakan. Tapi harus diperjuangkan. Aku percaya, ketulusan hatiku pasti bisa menyentuh hati Cansu. Aku akan buktikan bahwa aku tulus mencintai dia.
Aku melihat Rukmana di depan ruangan Cansu. Tampaknya dia ingin masuk tapi ragu-ragu. Mungkin takut dengan diriku.
"Rukmana, ada apa?" tanya Cansu akhirnya.
"Utusan Bramantyo group sudah datang!" Cansu mendekati ku dan mengambil berkas untuk rapat.
"Ada hubungan apa perusahaan kita dengan Bramantyo Groups?" aku penasaran.
"Aku mengajukan kerjasama, akuisisi perusahaan. Karena pamanku telah membawa lari hampir 50% dana perusahaan. Aku harus menanggung begitu banyak pembayaran yang uangnya di bawa lari oleh pamanku." kasihan Cansu, hatiku jadi tidak tega dengan kesusahan yang dia alami.
__ADS_1
"Coba aku lihat proposal yang kamu ajukan untuk Bramantyo Group!" Cansu memberikan proposal tersebut. Aku duduk di kursi Cansu dan mulai membacanya baik-baik. Aku paham sekarang.
"Cansu, dari pada kamu mengakuisisi perusahaan dengan Bramantyo Group, biar aku membeli perusahaan kamu dengan uang pribadi aku. Nanti kamu tetap mengelola perusahaan ini. Aku hanya bermain di balik layar. Bagaimana?" tanyaku masih fokus dengan proposal Cansu.
"Aku gak mau ngerepotin kamu!" aku menatap tajam mata Cansu. Kecewa sebenarnya. Saat di luar sana, banyak wanita melakukan segala cara untuk mendapatkan uangku, tapi Cansu? Dia menolaknya! Cansu yang menyelamatkan hidupku dari kecelakaan yang membuat aku amnesia. Dia juga yang membuat aku kembali merasakan apa itu cinta. Tapi Cansu tidak mau dengan uangku.
"Pelan-pelan nanti kamu bisa kembalikan uangnya ke padaku. Kalau kamu mengakuisi perusahaan dengan Bramantyo Group, pasti nanti kamu akan kehilangan hak suara kamu di rapat pemegang saham. Dari proposal yang kamu ajukan, secara otomatis Bramantyo Group akan menjadi pemilik baru. Apa kamu tidak sedikit pun merasa sedih dengan itu semua? Orang tua kamu berusaha keras membangun perusahaan ini, tapi hancur di tangan kamu?" aku tetap gigih membujuk Cansu agar mau menerima uangku.
Bukannya sombong, kalau hanya 10 Triliun bagiku itu bukan masalah. Gajiku selama menjadi CEO di Bramantyo Group, sebulan bisa diatasi 100 juta, belum lagi pendapatan dari saham dan beberapa usaha kecil-kecilan yang aku kelola, seperti cafe dan butik. Usaha itu menyebar di beberapa pelosok negeri. Itu adalah usaha yang aku rintis sendiri, tanpa campur tangan Bramantyo Group.
"Baiklah, tapi apa persyaratan dari pinjaman uang ini?" tanya Cansu agak ragu-ragu.
"Aku ingin kamu jadi istriku!" jawabku mantap. "Aku akan jadikan uang 10 triliun itu sebagai Mas Kawin untuk pernikahan kita, jadi kamu tidak perlu mengembalikan uang tersebut kepadaku!" Cansu tampak terkejut. Aku hanya tersenyum melihat reaksinya yang tampak tidak percaya.
"Apakah aku akan menikah dengan konglomerat?" tanya Cansu tampak bercanda.
"Aku orang biasa, bukan konglomerat. Aku hanya beruntung, lahir dari keluarga kaya." ucapku rendah hati. Aku lihat Cansu tertawa pelan. Makin gemes saja rasanya.
"Baiklah, aku menerima tawaran kamu. Demi perusahaan yang susah payah di bangun oleh ayahku. Demi karyawan yang harus menghidupi keluarga mereka." aku bahagia sekali, akhirnya bisa membujuk Cansu untuk menjadi istriku.
Aku langsung merogoh kantung celana ku. Aku mengambil sebuah cincin berlian di sana. Itu adalah cincin Mamahku, sebelum meninggal dulu, Mamah memberikan kepadaku. Katanya cincin itu hanya akan diberikan kepada Nyonya Bramantyo.
Cincin itu diberikan kepada Farel bukan diberikan kepada Mamahnya Reynaldi yang sekarang menjadi istri Papahnya.
Farel memang tidak pernah merestui pernikahan Papahnya dan Mamahnya Reynaldi. Gara-gara mereka Mamahnya tekanan bathin dan meninggalkan dirinya karena bunuh diri.
__ADS_1
Farel tidak akan pernah memaafkan Papahnya. Farel juga berjanji akan selalu setia kepada pasangannya. Tidak akan pernah berkhianat. Farel melihat sendiri, Mamahnya setiap hari menangis gara-gara Papahnya yang menikahi Mamahnya Reynaldi tanpa ijin Mamahnya.