Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
83. Penyesalan


__ADS_3

Ayahnya Arini langsung mendekati Bejo yang saat ini sedang bersedih hatinya ketika dia mengetahui bahwa dia telah memberikan banyak kerugian ke perusahaan lama dia lebih fokus bekerja di taman daripada memikirkan nasib perusahaannya.


"Selama ini saya telah begitu egois dan hidup hanya untuk diri saya sendiri. Saya tidak berpikir bahwa para karyawan membutuhkan saya!" ucap Bejo dengan penuh penyesalan.


"Sudahlah Bejo tidak apa-apa yang penting sekarang kita harus segera mengatur sebuah strategi untuk bisa menghancurkan Prawira dan mengusir dia dari perusahaan ini!" ucap ayahnya hari ini sambil menepuk bahu Bejo.


"Saya akan menyelidiki tentang latar belakang Prawira saya merasa curiga bahwa dia sengaja melakukan ini adalah untuk menjebak saya dan perusahaan saya!" ucap ayahnya Arini dengan serius.


"Tampaknya Tuan Prawira memang sangat membenci Anda tuan apakah mungkin Kalau tuan Prawira memiliki dendam pribadi dengan anda?" tanya orang tersebut yang tadi memberikan informasi tentang Prawira yang memang merencanakan untuk menjebak dirinya dan juga perusahaannya.


"Entahlah saya juga tidak tahu siapa dia tetapi wajahnya cukup mengingatkan saya dengan seseorang!" ucap ayahnya Arini seperti sedang mengingat sesuatu yang sudah lama dia lupakan.


Tidak lama kemudian Ayah hanya hari ini langsung meninggalkan perusahaan karena dia harus segera menyelidiki tentang Prawira.


"Semoga saja apa yang ada dalam pikiranku tidak benar jangan sampai dia adalah anak itu!" ucap ayahnya Arini dengan penuh kekhawatiran.


Masa lalu yang sudah lama dia kubur akhirnya harus dengan terpaksa dia gali kembali.


Ayahnya Arini kembali membongkar file-file lama dan juga foto-foto lama Tentang Seseorang yang pernah hadir di dalam hidupnya.


"Semoga yang aku curigai tidak benar aku tidak berharap dia adalah anak itu!" ayahnya Arini terus berdoa di dalam hatinya. Berdoa agar Prawira bukanlah anak yang telah dia sia-siakan dari seorang wanita yang telah dia tinggalkan beberapa puluh tahun yang lalu.


"Ya Tuhan sungguh nasib yang buruk. Entah aku harus bersyukur ataukah tidak tapi yang jelas kedatangannya pasti adalah untuk balas dendam. Karena aku telah meninggalkan ibunya!" ucap ayahnya hari ini terus berharap agar Prawira bukanlah yang dia pikirkan.


"Papa sedang apa kenapa dari tadi serius sekali?" tiba-tiba saja istrinya sudah ada di belakangnya sehingga membuat dirinya kelaparan dan juga terkejut.

__ADS_1


"Kenapa mama masuk ke ruang ini diam-diam begitu? Papa jadi terkejut! Bagaimana kalau Papa tiba-tiba kena serangan jantung?" ayahnya Arini sambil menundukkan kepalanya.


"Mama sudah berkali-kali mengucapkan salam tapi papa tampaknya sedang serius entah sedang melamun atau memikirkan sesuatu sehingga tidak mendengarkan salam dari Mama!" istrinya sambil duduk di samping sang suami yang saat ini masih memegang berkas-berkas yang selama puluhan tahun dia sembunyikan dari sang istri.


"Apa itu yang ada di tanganmu Pah perasaan aku tidak pernah lihat!" ucap ibunya Arini ketika melihat suaminya tampak gugup mendengarkan pertanyaan darinya.


"Ini hanyalah file-file lama. Papa hanya sedang mengeceknya saja. Karena tadi di perusahaan ada masalah besar jadi Papa khwatir kalau itu ada kaitannya mengenai tentang file-file ini!" ucap ayahnya Arini berusaha untuk bersikap biasa saja supaya istrinya tidak curiga kepada dirinya.


"Ya sudah kalau begitu. Papa jangan terlalu lelah bekerja Mama akan pergi ke ruang makan untuk mempersiapkan makan malam untuk kita berdua!" kemudian ibunya hari ini meninggalkan suaminya seorang diri di ruangan kerja itu.


"Syukurlah kalau tadi istriku tidak melihat berkas-berkas ini atau dia akan mengamuk!" ucap ayahnya Arini sambil mengelus dadanya merasa sangat lega.


Sementara itu ibunya hari ini yang kini sedang mempersiapkan makan malam tampak termenung di depan meja makan.


"Aku harus segera menyelidiki keberadaan wanita itu. Jangan sampai dia merusak Rumah tanggaku bersama suamiku!" ucap ibunya Arini kemudian dia langsung menghubungi seseorang.


"Tolong kau selidiki tentang seorang wanita dan juga seorang anak laki-laki aku akan mengirimkan data-datanya melalui email Kau bisa periksa!" kemudian ibunya Arini langsung menutup panggilan teleponnya dan segera mengirimkan beberapa file ke email detektif yang dia sewa.


"Kita akan lihat Seberapa lama kau bisa bersembunyi dariku!" ucap ibunya Arini dengan jengkel dan kesal.


"Bertahun-tahun wanita itu menjadi semacam momok dalam keluargaku dan tidak kusangka Hari ini suamiku membuka kembali file-file itu! Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi yang membuat dia membuka file-file itu lagi!" ucap ibunya hari ini pandangan penuh keyakinan atas analisis yang sudah dia buat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu suaminya saat ini sedang pusing dan stress memikirkan tentang wanita yang sudah sangat lama dia tinggalkan dan juga anak mereka berdua

__ADS_1


"Entah apa yang harus kulakukan ketika aku menemukan fakta tentang mereka berdua!"


ucapan ayahnya Arini terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Tetapi dulu dia mengatakan bahwa anak itu sudah dia gugurkan tidak mungkin kalau Prawira adalah anak itu!" ucap ayahnya hari ini dengan penuh keraguan.


Sejujurnya dia pun merasa ragu. Apakah Prawira itu adalah seseorang yang ada di dalam pikirannya.


"Kalau melihat berbagai kemiripan yang ada ada kemungkinan Prawira memang anaknya Silvia! Gadis desa yang telah kusakiti dan kutinggalkan begitu saja!" ucap ayahnya Arini terus bermenolong dengan dirinya sendiri.


"Tampaknya aku harus segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk menemukan keberadaan Silvia di mana!" ucap ayahnya Arini kemudian dia pun segera meninggalkan ruang kerjanya untuk segera kembali ke kantornya karena jam kerja di kantornya belum berakhir.


Ayahnya Arini langsung berlari ke rumah untuk memastikan tentang sesuatu yang ada di atas kepalanya.


Setelah menemukan apa yang dia cari. Akhirnya ayahnya hari ini langsung kembali ke kantor dan meminta kepada detektif untuk segera menyelidiki tentang keberadaan Silvia dan juga Putra mereka.


"Selidiki semuanya! Aku harap secepatnya bisa kau laporkan padaku!" perintah ayahnya Arini kepada detektif tersebut.


"Anda ngan khawatir Tuan! Saya pasti akan memberikan laporan yang terbaik untuk anda!" ucap detektif tersebut dengan penuh kepercayaan diri.


"Aku tidak butuh segala omong kosongmu segera dapatkan informasi yang kuinginkan!" kemudian ayahnya Arini langsung menyuruh orang tersebut untuk meninggalkan kantornya.


"Entah kenapa setiap masalah selalu datang bertubi-tubi!" ucap ayahnya Arini dengan meraup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Masa lalu yang tidak selesai di Antara kita. Sehingga memberikan masalah besar ke dalam kehidupanku sekarang!" ucap ayahnya Arini. Tampak dia mengalami banyak penyesalan dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2