
Arini memilih untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya. Karena dia merasa takut untuk kembali ke rumahnya. Di sana Bejo pasti akan memarahinya, mengamuk karena rencananya untuk meminta uang kepada ayahnya gagal total, malahan terbongkar segala kebohongan dia selama ini. Tapi Arini sangat bersyukur, karena dirinya sekarang sudah terlepas dari jerat seorang Bejo.
"Setidaknya, sekarang aku dan Renaldi mempunyai masa depan yang bisa diharapkan. Setidaknya, aku bisa lepas dari Bejo dan terlepas dari pernikahan nggak sehat ini!" dengan semangat yang membara hari ini melangkahkan kakinya Ke rumah kedua orang tuanya.
"Sayang Mama senang deh, kalau kamu bisa lepas dari Bejo. Segera urus perceraian kalian, sehingga tidak menjadi beban pikiran Mama dan Papa lagi!" ucap mamanya Arini sambil memegang tangan putri kesayangannya. Arini saat ini tampak sangat kurus, matanya cekung dan penampilannya begitu sederhana. Sangat jauh dari seorang Arini Suganda yang selama ini terkenal sebagai sosialita ibukota.
" Terima kasih ya, Mah! Mama mau mendukung keputusan Arini, tadinya Arini sangat takut kalau Mama sama Papa, tidak akan mau mendukung dan tidak mau menerima Ini semua. Tapi Arini sudah nggak sanggup, benar-benar tidak sanggup, Mah! Bersuamikan seorang laki-laki yang hanya menginginkan harta kita. Bejo tidak pernah mencintai Arini, Mah! " Arini menangis sesegukan dalam pelukan sang Mamah yang sangat dia sayangi.
"Ini semua salah Papa, main grasa grusu aja, ngapa-ngapain tidak mau berunding dengan anak istrinya!" Mama terdengar gemes dengan Papa.
"Papa waktu itu melihat Arini dan Bejo, tidur bersama dalam satu kasur, Papa kira, mereka melakukan hal kayaak gituan, yang biasa dilakukan anak-anak jaman sekarang. Papa gak mau bikin ribut, gak mau kalau rusak masa depan Arini kalau hamil di luar nikah." ucap Papa membela dirinya dan juga menjelaskan semua misteri dari kelakuan anehnya, yang tiba-tiba menikahkannya dengan Bejo.
"Mama awalnya mengira, apa Papa di pelet si Bejo, atau Papa mungkin selingkuh di luar, lalu Bejo tahu hal itu, dan mengancam Papa, ah, pokoknya banyak sekali kemungkinan yang Mama pikirkan dari keputusan konyol Papah!" Papanya Arini terkejut dengan semua pikiran aneh istrinya tersebut, gara-gara dia membuat keputusan menikahkan anak perempuan mereka dengan Bejo.
"Mama itu buat Papa segalanya! Gak mungkin Papa selingkuh. Mama ini ada-ada saja!" protes sang suami.
"Ya, habis! Papa aneh sih! Reynaldi yang nyata anak konglomerat, walaupun awalnya anak di luar nikah, tapi sekarang dia sudah menjadi anggota keluarga Bramantyo, tapi Papa keras menentang, tiba-tiba malah nyuruh Putri kita menikah secepatnya dengan Bejo! Kan kita semua heran, Pah!" Arini yang melihat perdebatan antara Mama dan Papa, tanpa terasa air matanya mengalir.
"Sudah, Nak! Gak usah menangisi masa lalu, yang penting, masa kini. Papa akan bantu perceraian kamu dengan Bejo!" janji Papahnya.
__ADS_1
"Ya, Pah! Terimakasih banyak!" Arni kini berlari ke pelukan Papanya, ya, Papanya sekarang banyak berubah. Tidak seperti dahulu, selalu keras dan tegas. Papa sekarang lebih lembut kepada Arini.
"Apakah kamu masih mencintai Reynaldi?" tanya Papa.
"Kenapa, Pah?" tanya Arini mulai waspada.
"Papa hanya ingin tahu, apa kau masih mencintainya?" ulang Papa. Arini menundukkan kepalanya. Ada bulir bening yang mengalir di kelopak matanya.
"Reynaldi adalah cinta pertama dan terakhir bagi Arini!" jawab Arini pelan, Papa mengangguk, "Apakah, Reynaldi juga masih mencintai kamu?" tanya Papanya lagi.
"Sudah terlambat, Papah! Reynaldi sudah akan menikah dengan wanita lain! Kabarnya, mereka akan bertunangan minggu ini!" ucap Mamanya Arini, Arini sontak terkejut.
"Berita, sayang! Bahkan Bramantyo Group sudah membuat konferensi pers, membenarkan berita tersebut. Tapi sampai saat ini, Reynaldi dan Nathalie belum bertemu karena dia masih ada di luar negeri. Mereka berdua di jadwalkan untuk bertemu, dua hari sebelum pertunangan resmi mereka. Tapi hubungan antara mereka sudah di konfirmasi oleh masing-masing keluarga!" ucap Mama.
"Itu tidak benar, Mah! Kemarin Reynaldi sempat datang ke rumah Arini, dia yang bilang sendiri, bahwa dia hanya akan menikah sama Arini. Dia yang mengatakan bahwa dia akan memperjuangkan cinta kami!" ucap Arini penuh semangat. Mama Arini memeluk putrinya.
"Mama juga bingung harus bagaimana!" jawab sang Mama
"Sudahlah, besok Papa akan urus dulu masalah perceraian kamu dan Bejo. Biarlah hal yang lain jadi urusan nanti! Udah, kamu istirahat sana, kami juga mau istirahat!" ucap Papahnya, Arini lalu bangkit, menuju kamar lamanya.
__ADS_1
"Mari kura menyambut hari esok, Wellcome my life!" ujar Arini sambil membuka pintu kamarnya. Sejenak, Arini mengingat kembali masa dirinya di kurung oleh Papanya di kamar ini, bersama Bejo.Yang akhirnya membuat dirinya berakhir dengan menikahi Bejo. Satu tahun yang habis sia-sia, Arini menarik nafasnya kesal.
"Sungguh mahal sekali, harga yang harus aku bayar, dari sebuah kesalahpahaman Papa!" ujar Arini, bermonolog sendiri. Tanpa terasa, air matanya berderai.
"Untung saja, selama menikah, Bejo tidak memiliki minat dengan diriku. Sehingga aku masih bisa mempertahankan kesucianku. Hiks hiks! Aku sungguh beruntung!" Arini memeluk bantalnya, yang selama setahun ini dia rindukan.
"Apa aku harus mengabari Reynaldi, masalah perceraianku dengan Bejo?" tanya Arini.
"Biarlah, nanti saja! Sebelum ketok palu, lebih baik ini menjadi masalah rahasia saja. Aku takut, kalau nanti perceraian itu gagal, malah jadi melukai dia!" Arini kemudian memutuskan untuk tidur saja.
Sementara itu, di rumah Reynaldi, tampak ramai, Papanya Reynaldi dan Reynaldi yang kini sedang bersitegang, Papa bersikeras akan menjodohkan Reynaldi dengan Nathalie.
"Kebiasaan Papa, bertindak sesuka hati!" amuk Reynaldi.
"Lagu pula, apa yang kamu harapkan dari Arini, huh? Dia sudah menikah dengan seorang bodyguard! Papa malu sekali, kamu bahkan selalu di tolak si tua Bangka sialan itu! Selalu mengatakan ingin sang pewaris! Tapi lihat, dia menikahkan Putri mereka berdua dengan bodyguard! Apa ada hal yang lebih menghina kami, huh?" Papa Reynaldi tampak marah mengetahui semua itu.
"Reynaldi gak perduli dengan semua itu! Yang penting, batalkan semua kebodohan yang sedang Papa rencanakan! Sebelum semuanya terlambat!" ujar Reynaldi.
"Tidak bisa! Perjanjian bisnis sudah di tandatangani, kita tidak bisa merubah rencana pernikahan kamu dan Nathalia!" Papa bersikeras bahwa dia tidak mau merubah keputusannya. Reynaldi mendesah frustasi.
__ADS_1
"Heran, kalian para orang tua, selalu saja berbuat sesuka hati kalian! Aku akan kabur, kalau Papa masih tetap dengan rencana gila itu! Aku hanya akan menikah dengan Arini Suganda! Papa setujui atau tidak, Reynaldi tidak peduli!" Reynaldi lalu berlalu dari hadapan ayahnya.