
Sudah waktunya untuk pulang, tetapi Rukmana belum juga datang ke kantornya. Cansu tadinya akan memesan taksi online. Tapi Reynaldi datang ke kantornya dengan tergesa.
"Apa ada yang ketinggalan Pak Rey?" Cansu heran melihat Reynaldi yang tampak bingung.
"Mana Mas Farel? Kakekku sedang sakit dan mencari keberadaan Mas Farel saat ini. Dimana kakaku?" Reynaldi menatap Cansu yang sudah menyambutnya di loby perusahaan.
"Farel tidak ada. Tadi dia minta sama sopir pribadiku, minta di antar buat jalan-jalan. Sebentar, saya hubungi sopirku dulu.
" Rukmana dimana kalian sekarang?" tanya Cansu.
"Kami dalam perjalanan pulang ke rumah utama. Ada apa memangnya?" Rukmana melirik Farel yang sedang menguping pembicaraannya dengan Cansu. Dia memberikan kode agar menjauh pada Farel. Namun Farel malah bandel.
"Kembali ke perusahaan, ini adiknya Farel mau bertemu dengannya." Farel langsung mengambil ponsel dari tangan Rukmana.
"Suruh dia pulang, aku gak mau bertemu dengan dia." Farel langsung menutup panggilan.
Cansu menemui Reynaldi dan menyampaikan pesan Farel, "Maafkan saya, Farel bilang Anda supaya pulang saja." Reynaldi tambah frustasi.
"Tapi Kakek memintaku untuk membawa kakaku itu, aku dilarang pulang kalau tidak membawa dia bersamaku." Cansu jadi serba salah juga.
Dari kejauhan Cansu melihat mobil yang di bawa Rukmana memasuki area perusahaan dan berhenti di depannya.
"Aku kan sudah bilang, kamu sebaiknya pulang saja." Farel membentak Reynaldi yang tidak mau pergi-pergi.
"Kakek sakit Mas, dia ingin bertemu dengan Kamu. Ayo kita pulang Mas, jangan sampai nanti kamu menyesalinya." Reynaldi memegang tangan Farel dan menariknya agar masuk ke mobilnya.
"Aku gak mau! Aku gak kenal kamu, apalagi dengan Kakek kamu! Pergi sana!" usir Farel kesal.
Cansu yang merasa kasihan dengan Reynaldi, dia mendekat pada Farel. "Farel, ayo aku temani kamu untuk menemui kakekmu." Farel menatap Cansu dan menggeleng. Masih keukeuh tidak mau pulang.
"Mas, walaupun kamu gak ingat sama kami, tapi tolong untuk ikut sana aku. Kakek keadaannya kritis sekarang, dia mencari kamu terus, Mas!" Reynaldi memegang tangan Farel, tapi disingkirkan oleh Farel.
"Jangan pegang-pegang!"
"Ok, Tapi Mas ikut sama Aku, ok?"
"Ayolah Farel, demi rasa kemanusiaan. Aku akan selalu di sampingmu. Nanti kamu pulang bersamaku, kalau tidak mau pulang ke rumah keluargamu." Cansu berusaha membujuk Farel.
"Baiklah, tapi kalian gak boleh maksa aku buat tinggal di rumah kalian. Aku cuma mau tinggal sama Cansu." Farel masuk ke mobil Cansu dan duduk dengan tenang di sana.
__ADS_1
"Kami akan mengikuti mobilmu."
"Terima kasih atas bantuannya." Farel tampak tidak senang melihat Cansu ngobral dengan Reynaldi.
"Mau pergi gak? Atau aku gak mau ikut kalian!" Ancam Farel sambil keluar dari mobil dan bersiap mau pergi.
"Kita berangkat sekarang!" Cansu menuntun Farel agar masuk kembali dan duduk di samping Farel.
"Aku gak suka kalau kamu dengan dia!" Farel merajut dan menyenderkan kepalanya pada Cansu. Cansu jadi serba salah rasanya.
"Duduklah yang benar, atau aku gak nemenin kamu untuk menemui kakekmu." Ancam Cansu.
"Baiklah! Kita pulang ke rumah utama saja. Aku juga gak mau bertemu dengan kakeknya." Farel menegakkan punggungnya dan menatap Cansu dengan intens.
"Bersikaplah dewasa, aku gak suka laki-laki kekanak-kanakan." Cansu lalu menyenderkan kepalanya ke kursi. Hari ini sangat melelahkan baginya. Status perusahaan yang terancam colaps benar-benar membuat dirinya sangat frustasi.
"Bersandarlah padaku!" Farel membawa Cansu ke pundaknya. Cansu hanya manut saja. Cansu lalu memejamkan matanya yang sangat lelah.
"Kita sudah sampai!" Rukmana melihat Cansu dan Farel yang terlelap di kursi belakang jadi merasa tidak tega untuk membangunkan.
Rukmana keluar dari mobil, dan menemui Reynaldi yang sudah berdiri di samping mobil mereka.
"Mas, bangun Mas! Kita sudah sampai di rumah sakit. Ayo, Kakek sudah menunggu kita." Farel masih tak bergeming juga.
"MAS! CEPAT BANGUN! KAKEK SUDAH MENUNGGU KITA!" Reynaldi berteriak di kuping Farel dengan kencang, sangking jengkelnya. Dibangunkan berkali-kali tapi gak bangun juga.
Cansu dan Farel langsung terkesiap dan membuka matanya. " Apa kamu gila? Berteriak di kuping orang!" Farel jengkel sekali pada pria yang ngaku-ngaku sebagai adiknya.
"Ayo, Mas! Kasihan Kakek sudah menunggu kita."
"Ayo kita temui kakekmu!" Cansu menggenggam tangan Farel lalu mengajaknya keluar.
Farel.akhirnya menurut, dan mengikuti Reynaldi dengan malas-malasan. Sepanjang jalan tidak berhenti menggerutu karena kesal.
"Bisakah kau diam? Kepalaku benar-benar pusing mendengar ocehan kamu!" pinta Cansu kesal.
"Kita pulang aja yuk, perasaan aku gak enak loh!"
"Kita temui Kakek kamu dulu. Kalau ada apa-apa, aku takut nanti kamu menyesal!" Cansu menatap Farel dan berusaha membujuk.
__ADS_1
"Perasaan aku gak enak!" Farel berhenti dan memilih duduk di kursi di koridor rumah sakit.
"Ayo, Mas! Kakek sudah menunggu kita." Reynaldi yang sudah tidak sabar langsung menarik tangan Kakaknya untuk masuk ke ruangan sang Kakek.
"Apa sih?Lepas gak?" Farel sudah mau lari, tapi Reynaldi langsung menggendong Farel di punggungnya, persis kaya gendong karung beras.
"Eh... pria gila! Lepaskan aku! " Cansu yang melihat kekonyolan mereka hanya bisa tersenyum.
Mereka akhirnya sampai juga di ruangan kakek. Di sana tampak keramaian. Reynaldi sendiri merasa kebingungan. "Kenapa ramai sekali?Ada apa ini?"
"Kok kaya ada wartawan juga Pak Reynaldi." tanya Cansu sambil melihat ke sekeliling.
Farel yang sudah panik, memukuli Reynaldi. Dia kesal sekali dengan Reynaldi.
"Turunkan aku, pria gila!" Reynaldi menurunkan Farel ketika mereka sudah masuk ke ruangan kakeknya.
"Ada apa ini Mah? kenapa di luar ramai sekali?" Reynaldi tercengang, ketika dia melihat ke sekeliling ruangan kakeknya. Disana sudah ada Kakeknya, Mamah dan juga Ayahnya. Lalu Arini dan juga orang tuanya.
"Ada apa ini?" Reynaldi tambah bingung.
"Hari ini mau diadakan pertunangan kakakmu."
"Pertunangan? Jadi kalian menipuku? TEGA SEKALI PADAKU!!!!" Reynaldi menatap Arini dengan perasaan terluka, Arini hanya menuduk di pojok ruangan.
Farel yang sudah di turunkan oleh Reynaldi, dia langsung menggenggam tangan Cansu. Tidak mau jauh darinya.
"Apa katanya?"
"Mereka akan mengadakan pertunangan kamu dan wanita cantik itu!" ucap Cansu sambil menatap Farel.
"Pertunangan?" Farel sangat terkejut.
"Aku gak mau!" Farel menarik tangan Cansu dan berniat pergi dari sana. Tapi pintu yang di jaga bodyguard sang Kakek, tidak mengijinkan Farel dan Cansu pergi dari sana.
"Farel, Kakek mau kalian melanjutkan acara pertunangan yang waktu itu sempat tertunda karena menghilangnya kamu." Kakek bangkit dari bed nya, lalu mendekati Farel. Suster selalu disampingnya, memegangi Inpus yang terpasang di lengan Kakek kakeknya Farel.
"Kamu siapa? Aku gak kenal sama Kamu! Kamu gak punya hak buat mengatur hidupku!" Sekali lagi Farel menarik tangan Cansu dan mau pergi.
" Kakek, Mas Farel mengalami kecelakaan, dia sekarang amnesia. Dia tidak ingat tentang dirinya lagi." Reynaldi yang sudah bisa menguasai perasaannya akhirnya menerangkan kondisi Farel kepada semua orang yang hadir disana.
__ADS_1