
Prawira kemudian duduk di kursi yang dekat dengan istrinya dia terus menetap ke ruangan operasi di mana saat ini Ayahnya sedang ditangani oleh dokter.
" Asal kau tahu walaupun ayahmu tidak pernah mencari ibumu. Akan tetapi Dia selalu mengirimkan uang dan juga segala kebutuhan kalian berdua melalui anak buahnya!" ucap ibunya hari ini menceritakan segalanya kepada Prawira.
" Apa kau kenal dengan Bibi Nunik?" tanyanya.
" Kenapa dengan dia?" tanya Prawira merasa terheran.
" Dia adalah anak buah ayahmu yang ditugaskan oleh ayahmu untuk menjaga kalian berdua dan selalu menjadi malaikat pelindung kalian semua uang yang dia berikan kepada kalian adalah berasal dari ayahmu! karena dia tidak memiliki akses Dan keberanian untuk bertemu langsung dengan kalian!" ucapnya menjelaskan segalanya kepada Prawira.
" Laki-laki pengecut itu bahkan tidak berani menemui calon istri dan anaknya sendiri!" ucap Prawira dengan penuh kekecewaan.
" Percayalah padaku bahwa ayahmu sangat menyayangimu!" ucap ibunya hari ini sambil memegang tangan Prawira yang saat ini sedang terisak dalam tangis.
" Bertahun-tahun aku hidup memendam perasaan sakit hati dan juga amarah yang sangat besar kepada laki-laki itu. Siapa yang tahu kalau ternyata dia mengirimkan seseorang untuk selalu menolong kami?" tanya Prawira dengan berlinang air mata.
" Pantas saja Bibi Nunik memberikan segalanya untukku. Bahkan dia juga mau nyekolahkanku dan juga menguliahkanku sampai ke luar negeri. Aku kira dia adalah seorang Malaikat yang baik ternyata dia adalah orang suruhan dari Ayahku sendiri? Apakah itu artinya hidup kami selama ini dibiayai olehnya?" tanya Prawira akan tidak percaya dengan segala fakta yang dia dengar dari ibunya Arini.
" Lihatlah ini adalah laporan rekening bank yang selalu digunakan oleh suamiku untuk mengirimkan uang kepada ibumu melalui Bibi Nunik!" ibunya Arini pun kemudian memberikan rekening itu kepada Prawira mata Prawira seketika membolah karena ternyata sangat besar setiap bulan ayahnya mengirimkan uang untuk mereka berdua.
" 200 juta per bulan? tidak kusangka ternyata baby Nunik yang aku kira orang baik ternyata hanya seorang penghianat yang sudah menggelapkan kepercayaan Ayahku terhadapnya! Dia hanya memberikan uang 10 juta kepada kami setiap bulan!" ucap Prawira sambil menatap ibunya Arini.
" Sudahlah tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang yang penting hidup kalian sudah baik dan Bibi Nunik mau menjaga kalian mewakili ayahmu yang tidak bisa dekat dengan kalian karena kondisi dan keadaan yang tidak memungkinkan!" ucap ibunya Arini sambil tersenyum kepada Prawira.
__ADS_1
Saat mereka sedang asyik berbincang. Tiba-tiba saja pintu ruangan operasi terbuka dan memperlihatkan ayahnya Arini yang masih dalam keadaan pingsan karena pengaruh obat bius.
" Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar sekarang pasien akan kami kirimkan ke ruangan perawatan kalian bisa menemuinya tetapi Ingat jangan ribut karena pasien belum terlalu stabil keadaannya!" ucap dokter memperingatkan kepada mereka semua yang ada di sana.
" Terima kasih Dokter karena sudah menyelamatkan suami saya!" ucap ibunya hari ini dengan senyum yang mengembang.
" Sama-sama Bu! Ini adalah tugas saya. Mari saya permisi dulu!" ucap dokter itu kemudian meninggalkan mereka.
Mereka pun kemudian langsung mengikuti suster yang tadi mendorong banker ayahnya Arini menuju ruang perawatan.
" Alhamdulillah ayahmu berhasil operasinya Semoga dia bisa segera siuman." ucap ibunya Arini sambil melirik kepada Prawira.
" Kalian bisa menunggu pasien untuk siuman. Saya permisi dulu!" ucapnya kepada mereka.
" Alhamdulillah akhirnya aku bisa melihat keluarga kita utuh dan berada di satu ruangan seperti saat ini!" ucapnya dengan suara yang begitu lemah dan terbata-bata.
" Beristirahatlah karena kau baru saja keluar dari ruang operasi!" ucap Prawira dengan Ketus kepada ayahnya.
" Jangan khawatir ayah baik-baik saja!" ucap ayahnya Arini mengulas senyum kepada putranya.
" Kau belum juga memaafkan ayahmu? Lalu kenapa kau harus menyumbangkan darahmu untuk ayah? Kenapa tidak biarkan saja ayahmu ini mati daripada harus hidup dalam penyesalan yang tiada berujung?" ucap ayahnya Arini dengan mata berkaca-kaca.
" Sudahlah Pah Jangan memikirkan hal yang membuatmu merasa sakit saat ini kau harus beristirahat dan tenangkanlah pikiranmu Jangan memikirkan hal yang akan membuatmu menjadi kembali drop!" ucap ibunya hari ini sambil menggenggam tangan suaminya yang terasa gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
__ADS_1
" Biarkan saja Papa mati mah untuk apa juga Papa hidup kalau harus melihat kebencian di mata darah dagingku sendiri?" ucapnya dengan berlinang air mata.
" Jangan kau kira dengan menolong istriku seketika seluruh dosamu hilang begitu saja dan aku bisa memaafkan segalanya!" ucap Prawira dengan suara gemetar.
" Sudahlah sayang. Tolong kau berusaha untuk memaafkan ayahmu. Aku tahu kalau kau juga sangat merindukannya. Aku sering melihatmu menangisi foto ibu dan ayahmu setiap malam!" ucap istrinya sambil memeluk Prawira yang berusaha menutupi air mata yang hendak menetes di pipinya.
" Tolong kau maafkan ayahmu. Sebelum nafasku berhenti karena aku tidak mau menemui ibumu dengan kebencian yang masih ada di dalam hatimu!" ucap ayahnya hari ini dengan suara yang begitu lemah.
" Baiklah aku akan memaafkanmu. Akan tetapi dengan syarat, kau harus bangkit dari tempat tidur ini dan berusaha untuk membayar semua hutangmu sebagai Ayahku. Lebih dari 30 tahun kau harus membayarnya dengan lunas beserta segala bunganya!" ucap Prawira sambil menggenggam tangan ayahnya yang terasa begitu dingin.
" Terima kasih karena kau sudah mau untuk memaafkanku. aku yakin ketika aku pergi menemui ibumu. Aku bisa mengangkat wajahku dengan penuh kebanggaan!" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.
Hingga akhirnya ayahnya Arini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dia bahagia karena sudah mendapatkan Maaf dari putranya yang selama 30 tahun lebih membencinya. Karena dendam dan Amarah ditinggalkan oleh sang ayah yang dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menikahi ibunya Arini yang sekarang menjadi istrinya.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun Ya Allah semoga kau mengampuni segala dosa suamiku dan menerima segala amal kebaikannya!" doa ibunya Arini dengan khusyuk sambil menutup mata sang suami yang tampak terbuka.
Tampak Prawira yang mulai menangis terisak karena dia merasa menyesal telah terlambat menyadari tentang kasih sayang ayahnya selama ini.
Setelah acara pemakaman selesai. Prawira kemudian bertemu dengan ibunya Arini yang menyerahkan seluruh perusahaan milik ayahnya ke tangannya sebagai satu-satunya keturunan sang ayah yang sudah meninggal.
" Aku tidak membutuhkan semua perusahaan itu Kau boleh mengelolanya dan Serahkanlah hasilnya kepada para anak yatim piatu dan juga kaum duafa karena aku tidak kekurangan apapun selama ini!" ucap Prawira menolak pemberian dari ayahnya.
" Kau adalah putranya satu-satunya. Jadi kau adalah pewaris dari keluarga ayahmu. Keluarga Suganda yang terhormat! Terimalah itu!" ucap ibunya hari ini sambil menyerahkan semua berkas-berkas kepemilikan perusahaan milik suaminya dan dia pun meninggalkan Prawira untuk memulai kehidupan barunya di tempat yang baru untuk melupakan segala masa lalu yang telah memberikan banyak luka di dalam hatinya.
__ADS_1
Tamat