
Reynaldi merasa bahagia melihat pernikahan kakaknya berlangsung damai, tanpa perselisihan. Melihat kedua orangtuanya dan Kakeknya yang sudah mulai mau melepaskan Arini sebagai menantu idaman mereka.
"Apakah aku harus mulai berjuang, untuk mendapatkan cintaku?" monolog Reynaldi ketika melihat kebahagiaan keluarga besarnya, akan menyambut anggota baru dalam keluarga. Reynaldi merasa bahagia, kakaknya sekarang lebih terkontrol dan serius mengurus perusahaan. Tidak seperti dahulu, hanya sibuk bermain dengan para wanita cantik dan para model seksi.
"Kapan perkiraan lahirnya?" tanya Reynaldi sambil mengupas apel untuk dirinya sendiri.
"Masih lama Rey, kamu kapan kenalin calon istrimu?" tanya Cansu sambil memakan camilan yang di bawa Farel saat pulang dari kantor tadi.
"Ah, rumit! Orang tua dia, maunya seorang pewaris, bukan anak gak jelas seperti aku!" jawab Reynaldi lesu, ya! Orang tua Arini menginginkan anaknya menikah dengan seorang pewaris tahta bisinis keluarga.
"Apa gak bisa mencari perempuan yang bisa menerima kamu apa adanya?" tanya Farel, sambil memeluk bahu Cansu. Sejak hamil, Cansu memang jadi suka sekali makan. Kadang Farel merasa bingung karena Cansu suka meminta makanan aneh-aneh, kadang saat meeting penting tiba-tiba menelpon minta dibawakan makanan untuk dirinya.
Farel harus menuruti semuanya, kalau tidak Cansu akan menangis sejadi-jadinya. Ah, pengalaman menjadi calon ayah membuat Farel harus selalu siap dan waspada.
Apabila mereka pergi ke mall ketika belanja bulanan, Cansu selalu ngambek kalau melihat ibu-ibu yang senyum-senyum ke arah suaminya.
"Katakan! Siapa perempuan yang ada di mall tadi! Kenapa dia senyum-senyum sama kamu! Kamu jahat! Aku sedang hamil anak kamu, di luar kamu malah main gila! Sama ibu-ibu lagi, Hiks hiks, sainganku ibu-ibu gendut dan jelek!" Cansu akan terus meraung seperti itu hingga lelah.
"Hadeh, kuatkan iman dan takwaku, ya Allah! Demi de bay yang ada di perut istriku tercinta!" setelah Farel mencium perutnya, barulah Cansu berhenti menangis.
__ADS_1
"Sayang, kamu tidak akan pernah menduakan aku bukan?" tanya Cansu dengan mata berderai air mata. Cansu berubah menjadi wanita manja dan sensitif. Padahal dahulu Cansu adalah wanita mandiri yang selalu berdiri sendiri, seorang CEO wanita yang anggun dan berkarisma.
"Aku cuma cinta sama kamu, sayangku, cintaku, my Hayati!" dengan gemas Farel lalu mencium bibir istrinya yang selalu menjadi candu baginya. Ya, istrinya semakin menggemaskan saat ini, Farel jadi terpancing hasrat kejantanannya, "Sayang, Mas boleh tengokin bayi kita, bukan?" tanya Farel di sela-sela aktifitas mencium bibir sang istri, entah kenapa, sejak hamil rasanya Cansu semakin mempesona di mata Farel.
"Jangan keseringan, sakit tahu sayang! suka kream perutnya kalau kamu main kasar!" rajut Cansu bermanja-manja kepada suaminya.
"Sayang, orang lain, kalau istrinya sedang hamil pada jajan di luar, dijadikan alasan buat selingkuh, bagaimana aku akan selingkuh, kalau di rumah saja ada istri yang begitu mempesona seperti kamu? Mommy Hot!" Farel semakin tinggi hasratnya, membuat Cansu tidak bisa mengimbangi ciuman Farel yang semakin menggila. Farel meletakan tubuh Istrinya di kasur dengan hati-hati, khawatir dengan bayinya. "My Baby, your Daddy come for you!"
Farel selalu berhasil membuat Cansu berteriak-teriak, penuh kepuasan. Hingga jam dua, Farel baru mengijinkan istrinya untuk tidur. Farel yang tubuhnya macho dengan roti sobek yang menggoda, tidak pernah gagal membuat Cansu ketagihan bermanja-manja dengan suaminya.
"Tidurlah, sayang! Terimakasih, sudah memberikan segalanya untuk suami kamu ini!" ucap Farel sambil mencium kening Cansu yang sudah terlelap.
Cansu lalu masuk ke dalam pelukan suaminya yang hangat. Mereka tidur hingga adzan shubuh terdengar.
"Jangan mengajarkan kemalasan sama anak kita! Ayo bangun!" Farel terus menghujani istrinya dengan ciuman mautnya, membuat Cansu bukannya bangun malah menarik Farel kembali ke kasur.
"Sayang, ayo satu kali lagi! Salah kamu yang mancing- mancing aku, loh!" Cansu terus menyerang Farel hingga akhirnya Farel mau menyerah juga.
Ya, pengaruh hormon kehamilan benar-benar terasa sekali oleh Farel. Istrinya yang selama ini selalu malu-malu masalah ranjang, sekarang lebih agresif dan tidak malu-malu lagi mengapresiasi keinginan dalam dirinya.
__ADS_1
"Sayang, ko rasanya setiap hari aku maunya nempel sama kamu ya? Aduh, sayang! Anak kita kayanya cewek deh, ko aku jadinya bucin sama kamu!" rengek Cansu.
"Ya gak mungkin sayang! Kan kemarin sudah di USG, anaknya laki-laki, kamu ada-ada aja!" Farel lalu mencium hidung bangir istrinya.
Visualisasi Cansu
"Sayang, aku pernah mendengar, katanya kalau anaknya laki-laki, itu bawaannya benci dengan suaminya. Tapi aku kok aneh, sih? Aku bawaannya mau nempel terus sama kamu! Sayang, apa anak kita sekarang jadi perempuan?" Cansu mulai menangis dalam pelukan suaminya.
"Udah, ayo kita mandi lalu sholat. Nanti pas jam makan siang, Mas jemput untuk pemeriksaan lagi. Biar hati kamu tenang! Ok?" Farel lalu memeluk istrinya, dan membimbing Cansu untuk mandi bersama dan sholat shubuh berjamaah. Ya, tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dari ini. Impian Farel dari dahulu.
Bangun tidur bersama orang tersayang, mandi dan sholat berjamaah bersama, impiannya menjadi nyata. Walaupun hanya melakukan hal sederhana, tapi Farel sangat bahagia. Farel membacakan surat Yusuf kepada bayinya, agar kelak anaknya setampan Nabi Yusuf, berakhlak mulia dan terhormat. Banyak doa baik yang di panjatkan oleh Farel ke atas anaknya yang sudan mau jalan tubuh bulan.
"Sayang, nanti kamu yang jemput aku, atau aku yang ke kantor?" tanya Cansu ketika dirinya membantu sang suami bersiap untuk bekerja. "Nanti aku jemput, sayang! Kamu jangan lelah, jaga saja anak kita! Papah sama Kakek bisa menghapus aku dari keluarga Atmajaya, kalau bayi kita kenapa-kenapa!" Farel bergidik ngeri membayangkan nasibnya kalau kenapa-kenapa dengan bayinya.
"Anaknya Daddy ganteng! Baik-baik sama mommy! Gak boleh nakal! Kalau nakal, nanti setiap hari Daddy kunjungi kamu!" ancam Farel sambil mencium perut istrinya.
"Ih, maunya! Kunjungan setiap hari, dasar Daddy mesum!" Cansu mencubit hidung sang suami yang sangat menggemaskan. Ya, Cansu juga tidak paham, kenapa sekarang dirinya begitu suka nempel-nempel dengan suaminya ini. "Sayang, bagaimana ini, kayaknya alamat kamu gak bisa ke kantor! Aku gak bisa lepasin kamu!" Cansu mulai merajuk manja.
__ADS_1
"Kesayanganku!" Farel memeluk istrinya, lalu membawa ke ruang makan, menyediakan apapun yang diinginkan oleh istrinya. "Ayo, makan yang banyak!" Farel lalu makan miliknya sendiri, sambil melihat istrinya yang sekarang selera makannya luar biasa.
Yang Farel heran, walaupun setiap hari Cansu makan banyak, tapi tubuhnya tetap dan tidak gendut. Hanya saja, libidonya yang naik, maunya nemlel terus dengan dirinya. Sehingga membuat Farel harus selalu waspada. Tidak sengaja bersentuhan dengan Cansu kalau dirinya sedang tidak siap bertempur.