
"Bagaimana apakah kedua orang tuamu merestui tentang pernikahan kita?" tanya Bejo dengan penasaran, saat bertemu dengan Siska pada siang itu.
"Mereka menentangnya dengan keras dan mengatakan, tidak akan pernah menyetujui pernikahan kita!" ucap Siska sambil menunduk lesu.
Bejo menatap Siska dengan lekat kemudian mendekatinya. Bejo menggenggam tangan Siska. Lalu berkata dengan pelan.
"Aku tahu, masa laluku, pasti mengganggu kedua orang tuamu. Mereka pasti tidak akan percaya kepadaku!" ucap Bejo sedih.
"Aku percaya, kalau kamu sudah berubah. Dan aku akan mempercayakan masa depanku kepadamu!" ucap Siska penuh dengan keyakinan, sambil menggenggam tangan Bejo.
Bejo menatap Siska dengan intens. Tampak air mata menetes, sedikit di kelopak matanya.
"Aku tahu, dengan masa laluku, kedua orang tuamu, pasti akan kesulitan untuk menyerahkanmu padaku!" ucapnya pelan.
"Bagaimana kalau kita kawin lari saja? Aku mau mengikutimu Kemanapun kau pergi!" ucap Siska tiba-tiba, dan sukses mengejutkan Bejo saat ini.
"Apa yang kau pikirkan itu? Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan hal seperti itu? Orang tuamu akan sedih kalau kamu sampai melakukan hal itu!" Bejo marah, sampai melotot melihat Siska.
"Apa itu artinya, kita akan menyerah begitu saja? Dengan hubungan kita?" tanya Siska tampak bersedih hatinya.
"Bukankah dari dulu juga, kita tidak memiliki hubungan apapun? Kau bisa melupakanku, kalau memang kedua orang tuamu tidak menyetujui hubungan kita!" ucap Bejo lesu.
"Bagaimana aku bisa melupakanmu? Setelah apa yang terjadi di antara kita?" tanya Siska.
"Kok bisa melupakannya. Anggap saja sebuah mimpi buruk dan kau bisa memulai kembali hidupmu yang baru. Dengan orang yang direstui oleh kedua orang tuamu!" ucap Bejo kemudian pergi meninggalkan Siska.
"Tidak! Aku tidak mau menganggapmu hanya sebagai mimpi buruk! Aku akan pastikan akan menjadikanmu sebagai mimpi masa depanku!" ucap Siska dengan suara gemetar.
"Jangan keras kepala, Siska! Aku tidak mau kamu menjadi anak durhaka hanya gara-gara cinta! Percayalah! Kedua orang tuamu pasti memiliki pemikiran sendiri, untuk masa depanmu dan kebahagiaanmu!" ucap Bejo.
Bejo kemudian meninggalkan Siska sendiri di taman itu. Dan dia sendiri, pergi menuju sebuah dermaga dan termenung di sana seorang diri.
__ADS_1
"Selama ini, aku selalu menjalani hidupku dengan buruk. Sekarang aku sedang menuai Karma yang sudah aku tanam. Saat aku berniat untuk benar-benar menjalani kehidupanku, ternyata menemui begitu banyak kesulitan!" ucap Bejo bermonolog kepada dirinya sendiri. Ditatapnya air yang mengalir begitu tenang.
"Selama ini, kehidupanku persis seperti air itu. Yang mengalir begitu saja tanpa rencana. Dan sekarang, saat aku mulai merencanakan hidupku, ternyata tidak semudah itu!" keluhnya dengan sedih.
"Apakah aku harus menyerah untuk menjalani kehidupanku yang baru? Dan kembali kepada kehidupanku yang lama?" tanya Bejo pada dirinya sendiri.
"Terkadang kita sebagai manusia, memang harus merasakan pahit getirnya kehidupan. Baru menyadari kenikmatan yang begitu banyak diberikan oleh Allah kepada kita!" tiba-tiba seorang kakek sudah berdiri di samping Bejo.
"Apa maksud ucapan kakek? Aku tidak mengerti!" ucap Bejo, menatap pria tua yang rambutnya sudah beruban semua.
"Permasalahan hidup yang sedang kau alami. Semua itu adalah ujianmu untuk naik kelas. Sabarlah Nak! Jangan kau terjatuh lagi ke dalam lembah yang sama, yang akan lebih kau sesali lagi!" ucapnya lagi.
"Tapi rasanya sangat sulit sekali, aku tidak sanggup lagi kek?" ucap Bejo sambil meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Sabar dan tawakal Nak! Ikhlaslah menerima takdir hidupmu yang sudah digariskan oleh Allah. Insya Allah kamu pasti akan menemukan pencerahan dalam hidupmu!" ucapnya sambil mengelus rambut Bejo.
"Tapi tampaknya orang-orang sudah tidak percaya lagi padaku. Mengingat masa laluku yang kelam, yang hanya selalu memanfaatkan orang lain demi harta!" ucap Bejo.
"Tobat sambel? Apa itu kek?" tanya Bejo heran.
"Iya, tobat ketika kau kepedesan! Setelah itu kembali kau makan cabe, ketika kau menginginkannya kembali!" ucapnya.
"Masih belum ngerti Kek!" seru Bejo.
"Iya, tobat ketika kamu ditegur oleh Allah dengan kesalahanmu. Dan kemudian kamu kembali berbuat dosa, ketika kamu merasa bahwa teguran itu tidak berefek apapun kepada dirimu. Apa sekarang kau mengerti?" banyak kakek Itu tampak gemas kepada Bejo.
" Oh iya kek! Saya paham sekarang!" ucap Jo sambil tersenyum menatap kakek itu.
"Baguslah kalau kau sudah mengerti. Kakek harap, kamu harus terus memperbaiki dirimu dan Percayalah! Bahwa kebaikanmu pasti akan berbuah hasil. Jangan lagi kau jatuh ke dalam bisikan setan yang terkutuk. Yang mengakibatkan keburukan di dalam hidupmu!" ucapnya.
"Terimakasih Kek, atas nasehatnya. Semoga saya bisa menjalankan amanah itu dan tetap berjalan di jalan kebaikan." ucap Bejo dengan senyum.
__ADS_1
" Syukurlah kalau kamu bisa paham dengan yang diucapkan oleh kakek! Kakek pergi dulu ya? Ingat kau tidak boleh lagi melakukan kejahatan di dunia ini!" ucap Kakek itu dia meninggalkan Bejo sendirian di dermaga itu.
Setelah Kakek itu pergi entah ke mana. Bejo pun kemudian beranjak dari duduknya dan kembali ke kediamannya.
Semangat baru dalam kehidupan Bejo. Setelah mendapatkan pencerahan dari sang kakek yang tidak dia kenal siapalah gerangan orang tersebut.
Kakek itu datang dan pergi tanpa pesan dan berita. Dan sekarang dia menghilang entah ke mana, Bejo pun tidak tahu.
"Aku akan menemui kedua orang tuanya Siska dan meyakinkan mereka, bahwa aku serius ingin menikahi Putri mereka!" ucap Bejo dengan senyum bahagia.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Bejo pun kemudian menuju mobilnya dan melarikan mobilnya menuju kediaman Siska.
Saat sampai di kediaman Siska, tampak Bejo berpikir sangat lama, sebelum dia berani memencet bel pintu rumah itu.
"Maaf Tuan! Anda mencari siapa? Dari tadi anda hanya berdiri saja di depan pintu!" tiba-tiba keluar seorang ibu-ibu separuh baya yang menyapa Bejo.
"Saya ingin bertemu dengan tuan dan nyonya rumah ini!" jawab Bejo dengan gugup.
"Mereka tidak ada di rumah. Mereka sedang mengunjungi keluarga Hutama. Mereka akan membicarakan tentang pernikahan non Siska!" ucap perempuan paruh baya itu.
Seketika tubuh Bejo lemas, seakan tak bertulang. Nafasnya memburu seakan menahan emosi di dadanya.
"Membicarakan tentang pernikahan Siska? Lalu di mana Siska sekarang?" tanya Bejo dengan nada tinggi.
"Non Siska tentu saja ikut dengan kedua orang tuanya, untuk melihat calon suaminya!" perempuan itu sambil melihat aneh kepada Bejo yang seperti linglung seketika.
"Kau pasti bohong! Tidak mungkin Siska ikut dengan kedua orang tuanya!" ucap Bejo tidak percaya.
Bejo kemudian meninggalkan kediaman itu dengan amarah yang memuncak. Bejo pun melarikan mobilnya tanpa memperdulikan jalanan di sekitarnya. Saat ini pikirannya kalut, tidak bisa diajak berpikir jernih.
"Ketika kamu mengatakan bahwa kamu akan menikah denganku. Apakah itu semua hanya kebohongan?" ucap Bejo dengan nada tinggi. Emosinya saat ini benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1