
"Tolong maafkan aku! Yang selama ini, secara tidak sadar, sudah mengabaikan perasaanmu. Maafkan aku! Yang selama ini terlalu fokus terhadap kematian Natalia. Maafkan aku! Aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menghapuskan rasa bersalah di dalam hatiku dengan membongkar alasan kematian Natalia!" ucap Reynaldi dengan meraup wajahnya dengan kedua tangannya. Arini mendekat kepada Reynaldi, dan memeluknya erat.
"Kalian berdua, bicarakanlah semua permasalahan kalian. Aku dan istriku pulang ya? Bicarakanlah baik-baik?! Jangan dengan emosi, karena emosi tidak akan pernah bisa menyelesaikan apapun!" ucap Farel kemudian membawa Cansu ke mobilnya. Kemudian mereka pun kembali ke rumah mereka dan memberikan waktu kepada pasangan tersebut, untuk membicarakan permasalahan yang ada di antara mereka.
"Mereka berdua itu, saling mencintai. Tetapi mengalami kesulitan dalam komunikasi. Sehingga selalu saja hal itu, menimbulkan kesalahpahaman dan keributan yang tidak penting!" ucap Farel. Cansu hanya tersenyum mendengar suaminya yang terus menggerutu sejak tadi.
"Sudahlah sayang! Nnggak usah pikirkan masalah mereka! Yang penting, sekarang mereka sudah kembali bisa berpikir jernih lagi! Udah, ayo! Sebaiknya kita kembali. Kasihan anak kita kalau tinggal bersama pengasuh terus! Aku sudah rindu sama dia!" ucap Cansu sambil menatap ke arah suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Arini dan Renaldi mulai tampak tenang. Mereka berdua kini duduk di geladak kapal pesiar milik Reynaldi. kedua nya tampak berbicara dengan tenang, tidak ada lagi teriakan maupun amarah di antara keduanya saat ini. Tangan mereka saling menggenggam.
"Aku tuh merindukan saat-saat seperti ini. Sudah lama kita tidak pernah mempunyai waktu seperti ini. Selama ini, kamu selalu sibuk memikirkan tentang kematian Natalia, sehingga mengabaikan tentang aku!" ucap Arini sambil menyenderkan kepalanya di bahu Reynaldi.
Reynaldi menatap sekilas ke arah Arini yang tampak sendu wajahnya. Seketika Reynaldi merasakan bahwa dia memang selama ini telah berbuat salah dalam hubungan mereka berdua. Untung saja, selama ini Arini selalu bersabar dalam menyikapi dirinya yang terlalu fokus terhadap kematian Natalia. Sehingga terkesan seperti melupakan hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Kapan rencananya, kamu ingin aku lamar? Aku ingin kita segera meresmikan pernikahan kita. Dan kita mulai Lembaran Baru hubungan kita dengan bahagia. Jangan sampai, nanti ada penyesalan lagi di kemudian hari. Karena kita melewatkan saat-saat kebersamaan kita!" ucap Reynaldi lalu mengecup kening Arini.
"Kapanpun kau siap, aku pasti akan siap juga! Aku sudah menunggu sangat lama, untuk saat-saat itu. Untuk saat-saat kebahagiaan kita, menyatukan cinta kita berdua dalam janji pernikahan!" ucap Arini tersenyum.
"Baiklah! Mari kita urus masalah lamaran dulu. Tapi saat ini, aku tidak memiliki sebuah cincin. Karena ini sangat mendadak sekali. Bagaimana kalau aku melamarmu secara lisan dulu, dan cincinnya akan menyusul kemudian hari, di saat lamaran resmi. Bagaimana? Apakah aku setuju?" tanya Reynaldi. Arini Seketika matanya berkaca-kaca. Terharu dengan ucapan Reynaldi.
"Apapun yang menjadi keputusanmu, aku pasti akan setuju! Aku akan menjalani semuanya dengan ikhlas. Percayalah aku pasti bisa menerima semuanya!" ucap Arini dengan senyumannya.
"Baiklah Arini Suganda, dengan ini aku memintamu untuk menjadi istriku. Apakah kau bersedia?" ucap Reynaldi sambil menggenggam tangan Arini.
"Aku bersedia untuk menjadi istrimu, Renaldi Bramantyo! Aku bersedia untuk menemanimu melalui suka duka pernikahan kita. Dan aku bersedia untuk menjadi Ibu dari anak-anakmu!" ucap Arini dengan bahagia.
Reynaldi merasa sangat senang sekali ketika mendengar persetujuan dari Arini, seketika dia pun memeluk sang kekasih dengan penuh rasa cinta.
"Ayo kita pulang! Dan Kita menyiapkan acara lamaran resmi. Agar pernikahan kita segera bisa terlaksana. Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk memanggilmu istriku!" ucap Reynaldi dengan senyum.
__ADS_1
Pasangan kekasih tersebut, akhirnya meninggalkan kapal pesiar tersebut. Menuju rumah Arini. Reynaldi langsung mengantarkan Arini ke kediamannya. Kemudian dia segera pergi ke kediaman Bramantyo, meminta kepada kedua orang tuanya, untuk menyiapkan lamaran resmi untuk Arini, pada hari itu juga.
"Tenanglah Reynaldi! Jangan grasa grusu seperti itu! Pernikahan itu bukan hal sepele! Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang! Jangan kau pikir pernikahan itu permainan kanak-kanak yang bisa dimulai begitu saja dan diakhiri begitu saja. Pernikahan itu mengenai dua keluarga. Kita harus mengkonfirmasi dulu apakah keluarga Arini akan menerima lamaran kita atau tidak. Jangan sampai nanti kita datang ke sana, malah dipermalukan oleh mereka. Kau paham itu?" ucap Ayahnya Reynaldi dengan wajah serius.
Reynaldi tampak berpikir sebentar, kemudian dia pun menyetujui apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut. Dan Reynaldi kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arini, untuk mengkonfirmasi apakah kedua orang tuanya siap untuk menerima kedatangan keluarga besarnya, dalam hal melamar Putri mereka.
"Assalamualaikum Arini! Ini Papaku, ingin mengkonfirmasi apakah kedua orang tuamu sudah siap untuk menerima kedatangan keluarga besar kami, untuk melamar kamu?" Reynaldi sengaja meloud speaker ponselnya agar semua orang yang berada di ruang tamu itu, mendengarkan apa yang dibicarakan olehnya bersama dengan Arini.
"Ya! Datanglah! Keluarga kami siap menerima kedatangan keluargamu untuk melamar putri kami. Kami akan satu keluarga, menunggu kedatangan kalian sekarang juga. Datanglah!" itu adalah suara ayahnya Arini. Ketika tadi mendengarkan pertanyaan Reynaldi, Arini angsung memberikan panggilan tersebut kepada ayahnya agar lebih meyakinkan.
"Baiklah kami akan segera datang tunggulah kami!" ucap Reynaldi kegirangan. Tetapi tiba-tiba Papanya Reynaldi menarik ponsel tersebut di tangan Reynaldi. Kemudian beliau mengatakan sesuatu yang membuat Renaldi tercengang. "Kami akan mempersiapkan kelengkapan acara lamaran dulu. Kami tidak bisa begitu saja untuk melamar Anak gadismu! Banyak prosesi dan prosedur yang harus kami lakukan. Aekitar 2 hari dari sekarang, kami akan datang ke rumahmu. Bersiaplah!" ucap Ayahnya Reynaldi, yang sukses membuat Reynaldi sport jantung.
"Pah! Kenapa dua hari lagi? Kenapa nggak sekarang aja? Bukankah dua hari itu lama sekali ya? Terus kapan acara pernikahannya kalau seperti itu?" bukannya mendapat jawaban, Reynaldi malah dikeplak kepalanya oleh ayahnya. Karena sangking gemesnya melihat putranya yang tampak grasa grusu dalam mempersiapkan acara pernikahannya.
"Kamu itu mau melamar anak gadis orang! Bukan mau melamar kebo! Kau jangan buat malu keluarga Bramantyo dengan kelakuan kau itu. Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang. Membawa seserahan dan juga membawa segala kelengkapan lamaran. Kau dengar itu?" sengit ayahnya, lalu meninggalkan Reynaldi yang masih bengong, sambil mengelus kepalanya yang tadi di keplak oleh ayahnya menggunakan sebuah buku tebal.
__ADS_1