
Disinilah mereka akhirnya, di kantor pencatatan sipil. Farel dan Cansu akan mendaftarkan pernikahan mereka berdua.
Farel terus tertawa mengingat keusilan dirinya pada tunangannya yang lugu tersebut.
Setelah sah secara hukum, Farel membawa Qiara ke KUA setempat juga. Akan mendaftarkan pernikahan mereka secara agama juga. Farel ingin pernikahannya dengan Cansu sah secara hukum negara dan agama.
"Alhamdulillah, akhirnya sah juga!" ucap Farel sambil melihat buku nikah yang sekarang di tangannya.
"Apa kau se bahagia itu?" tanya Cansu lesu.
"Tentu, sayang! Bagiku memiliki kamu itu ibaratnya mendapatkan segala isi dunia ini!" gombal Farel.
"Gombal!" ucap Cansu kesal.
"Aku serius, sayang!" jawab Farel.
"Kalau kau memang mencintai ku, kau tidak akan tega mengambil kehormatan diriku di saat aku tidak sadar!" ucap Cansu kesal. Masih misuh misuh.
'Kalau kamu tahu aku cuma jahilin kamu saja, biar kamu mau aku ajak menikah secepatnya, apa yang akan kamu pikirkan tentang aku?' bathin Farel, sambil menatap istrinya. Yah, mereka baru sah sekitar satu jam yang lalu.
Ya, keusilan Farel tadi pagi yang akhirnya berhasil membawa Cansu ke tempat ini. Farel tersenyum ketika melihat ekspresi sang istri pagi tadi. Saat mendapatkan dirinya di kasur yang sama dengan Cansu. Lucu sekali.
"Ayo kita pulang, mulai sekarang kamu akan tinggal di manstion aku, bersama denganku. Aku akan bertanggungjawab dengan hidupmu mulai sekarang, karena kamu adalah istri seorang Farel Bramantyo." Farel mengecup kening sang istri.
"Terima kasih! Tapi maafkan aku. Aku gagal sebagai seorang wanita, karena kamu menemukan aku tidak virgin lagi saat malam pertama kita. hiks hiks!" sedih rasanya hati Cansu.
"Maafkan aku, sayang!" ucap Farel sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Buat apa?" tanya Cansu heran.
"Buat semuanya!" jawab Farel.
" Kamu aneh banget sih!" cicit Cansu.
Kami berdua lalu kembali ke manstion ku, Farel sudah tidak sabar dengan malam pertamanya.
Cansu terlihat tampak gugup, sejak tadi diperhatikan oleh Farel, Cansu terus menggigit kuku tangannya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Farel.
"Tidak apa-apa, aku hanya gugup!" jawab Cansu terus terang. Farel merasa gemas dengan istrinya yang mulai berkeringat di dahinya.
"Jangan bilang, kalau kamu gugup dengan malam pertama kita!" Farel menggoda Cansu.
"Malam pertama apa? Bukannya kamu sudah mencuri malam pertama kita? Dasar menyebalkan! Malam pertamaku hilang begitu saja. Padahal aku berharap malam itu adalah moment paling manis dalam hidupku. Kau sudah menghancurkan semua mimpiku! Kau jahat!" cicit Cansu sambil memukul dada Farel.
Farel benar-benar memanjakan sang istri,dia membuka pakaiannya bahkan menyabuni tubuh Cansu dalam bathtub. Farel sudah bertekad bahwa dirinya akan membuat Cansu mengingat malam ini selamanya. Setelah selesai mandi, Farel membopong kembali Cansu ke kasur mereka, mengeringkan rambut dan juga mengambilkan pakaian tidur yang di belikan oleh sekretaris nya, tentu atas request dirinya.
"Kau yakin, aku harus memakai pakaian ini? Aku malu Farel!" cicit Cansu sambil memicingkan matanya, merasa ngeri dengan baju super minim.
"Aku malah lebih senang kalau kamu gak usah pakai baju!" Farel tersenyum licik sehingga membuat Cansu jadi kesal. Lalu memukul dada bidang Farel. Farel yang masih mengenakan handuk saja, memperlihatkan barisan six pack nya yang sempurna, membuat hati Cansu berdesir tidak karuan, ada gugup dan malu yang bercampur jadi satu. Farel jadi gemes sekali.
Ya, beginilah nikmatnya memiliki seorang istri yang masih perawan, wanita yang mampu menjaga marwahnya sebagai seorang wanita, dia akan malu-malu terhadap suaminya, mata dan hatnya yang selama ini selalu terjaga.
Berbeda kalau memiliki seorang istri yang sudah punya jam terbang tinggi dalam urusan kasur sebelum pernikahan, dia sudah hilang rasa malunya. Malah terkesan liar dan menggoda. Farel mencium kening sang istri yang kini menundukkan wajahnya dengan dalam. Malu dan gugup, yang di rasakan oleh Cansu dan Farel.
__ADS_1
Farel termasuk seorang Casanova, tapi dia masih bisa menjaga dirinya dari hubungan yang haram, hanya sebatas kencan dan makan malam bersama. Walaupun berite yang beredar mengatakan Farel seorang yang hidupnya bebas dan sering gonta ganti kekasih, tapi Farel masih perjaka Ting Ting. Bagi Farel, malam ini juga adalah malam pertama juga.
"Sayang, kok kamu berkeringat, sih? Kalau capai, kita tidur saja, ya? ucap Cansu sambil mengelus wajah Farel yang innocence.
Visualisasi Farel Bramantyo
"Jangan dong, sayang! Ini adalah malam bersejarah kita berdua, aku gak mau melewatinya begitu saja. Apa kamu tahu sayang? Ini adalah ibadah yang paling menyenangkan, yang pahalanya sungguh besar, apalagi kalau penyatuan kita menghasilkan seorang anak yang Sholehah dan Sholeh. Pahalanya berlipat-lipat." Farel udah kaya ustadz saja pokoknya.
"Tapi kamu capai, sayang! Aku gak mau memaksa kamu! Ayo kita tidur saja!" ajak Cansu.
Farel langsung meraih tengkuk Cansu dan menciumnya dengan lembut. Cansu yang terkejut dengan ulah Farel hanya terpaku saja. Pelan namun pasti, Farel membimbing Cansu untuk dapat melewati malam pertama mereka berdua.
Saat Farel berhasil mendapatkan yang dia mau, Cansu berteriak, "Aaaaaaaa pelan-pelan! Sakit tahu!" Cansu sampai menitikan air mata. Farel mencium pipi Cansu dengan lembut.
"Sayang, kok aneh sih, bukannya kamu udah ambil keperawanan aku, ya? Kok ini rasanya sakit banget, ya? Ngilu rasanya, terus ini, kok ada darah di bagian sensitif aku?" tanya Cansu saat mereka selesai dengan aktifitas bersejarah dalam hidup mereka. Farel hanya tersenyum simpul. Merasa lucu dengan ekspresi sang istri yang sedang bingung. Farel lalu menarik tubuh sang istri, dan mencium keningnya sekali lagi.
"Sayang, pagi tadi, sebenarnya aku gak ngapa-ngapain kamu, aku cuma jahilin kamu aja. Habisnya aku kesal, sayang! Kamu tadi malam minta buat aku gak terlambat, tapi begitu aku datang, kamu malah sedang asyik tidur. Ya udah, aku isengin kamu aja. Aku cuma buka baju kamu dan bajuku doang. Aku gak melakukan apapun sama kamu, maafkan ya, sayang!" ucap Farel dengan wajah innocence, Cansu auto melotot dan memukul dada Farel yang masih tak memakai baju. Cansu kesal bercampur bahagia.
"Lalu, bercak darah di seprai dan paha aku. Apa itu?" tanya Cansu masih ragu.
"Itu, darah jari telunjuk aku, sayang! Aku tusuk pakai jarum, lalu darahnya aku tetesin di seprai dan paha kamu." ucap Farel sambil mengulum senyum. Cansu sampai geleng-geleng.
"Ih, Nyebelin! Jahil banget sih! Aku sampai mau bunuh diri rasanya, tahu! Dasar Nyebelin!" ucap Cansu sambil memukul dada Farel.
"Sayang, aku tuh gak bisa menunggu tiga bulan lagi. Aku takut khilaf, sayangku! Pesona jamu sungguh menggoncang imanku. Maafkan aku, ya, sayang? Aku hanya ingin secepatnya menghalalkan kamu!" ucap Farel lembut.
__ADS_1
"Ya, menghalalkan aku, kau juga menghalalkan segala cara, dasar usil!" Cansu kini membenamkan wajahnya di pelukan Farel. Kebahagiaan sungguh terpancar di hati Cansu.
"Aku berhasil ternyata, mempersembahkan hal paling berharga bagi diriku untuk suami yang aku cintai!" Cansu mencium bibir Farel sekilas. Perasaan bahagia itu sungguh nyata baginya.