Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
21. Pesona Siska dan Bejo


__ADS_3

Siska adalah sepupunya Arini, jadi masih termasuk keluarga Suganda. Dahulu, Arini, Siska dan Reynaldi merupakan sahabat yang selalu bersama. Mungkin kalau Reynaldi mencintai Siska, hidup Reynaldi lebih mudah. Ayah bundanya Siska tidak perduli dengan hal-hal pewaris tahta atau apapun itu namanya, bagi mereka, selama anaknya bahagia itu sudah lebih dari cukup.


Tapi cinta tidak bisa memilih, kemana hati akan berlabuh. Reynaldi telah memperjuangkan cintanya untuk Arini sejak mereka lulus SMA dulu, sungguh sesuatu yang sangat mustahil. Pewaris Bramantyo Group sudah dipastikan adalah Farel, sang anak sah, lalu bagaimana Reynaldi bisa menjadi pewaris, demi meraih cintanya pada Arini? Sungguh mustahil bukan?


Siska menangis di kamarnya, hatinya pilu. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, Reynaldi masih memanggil Arini. "Begitu besar cintanya buat Arini, tapi entah sampai kapan, cinta itu berbuah manis! Kamu sungguh bodoh, Reynaldi! Hiks hiks!" Siska kini meringkuk di kasurnya, dan menangis.


Reynaldi yang tertidur di kamar sebelah Siska, terbangun karena merasa haus, dia pergi keluar kamar, dan saat mendengar ada suara tangisan, Reynaldi jadi merinding rasanya.


"Siapa yang menangis malam-malam begini?" tanya Reynaldi, rasa hausnya hilang seketika. Telinganya di pasang tajam, agar bisa tahu arah suara tangisan tersebut.


"Kenapa suara itu datangnya dari kamar ini, ya? Masa jaman sudah modern kaya sekarang, masih ada hantu, sih?" Reynaldi bermonolog sendiri.


Pelan tapi pasti, Reynaldi yang saat ini setengah mabok gara-gara tadi minum wine terlalu banyak, tapi dia masih sadar dan bisa menilai keadaan di sekitarnya dengan jeli.


"Siska, kenapa kamu malam-malam begini ada di kapalku? Acara nangis juga! Aku kira tadi ada hantu di kapalku!" ucap Reynaldi setengah sempoyongan. Siska terkejut saat mendapatkan Reynaldi di kamar yang sama dengan dirinya.


"Maaf, kalau aku mengganggu tidurmu!" ucap Siska sambil menghapus air matanya.


"Kok kamu bisa ada di sini? Apa ada masalah, kok kamu nangis pilu sekali? Aku yang dengar merasa sedih juga." Reynaldi lalu duduk di tepi ranjang.


"Tidak apa-apa, kau kembalilah ke kamar kamu. Aku akan tidur sebentar lagi. Jangan khawatir denganku," ucap Siska memperbaiki dandanannya yang berantakan gara-gara nangis tadi.


"Betul kamu gak apa-apa? Katakan padaku kalau kamu butuh teman!" Reynaldi lalu keluar dari kamar Siska, lalu pergi ke dapur dan mengambil air minum. Haus sekali rasanya, setelah tadi tidur agak lama, mungkin ada sekitar 5jam lamanya.

__ADS_1


"Apa aku hubungi Arini, ya? Aku kok jadi khawatir sama dia!" Reynaldi lalu kembali ke kamarnya setelah minum dan juga sholat isya.


Sementara itu, di kamarnya Arini.


Arini merasa haus, matanya perlahan membuka, betapa kaget dirinya saat mendapatkan dirinya tertidur dalam pelukannya Bejo. Bodyguardnya yang tampan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arini heran.


Bejo yang masih merasa mengantuk hanya bisa mengucek matanya, belum engeh dengan ucapan Arini. Arini jadi kesal dibuatnya.


"Kamu bodyguard kurang ajar! Kenapa kamu berani sekali naik ke atas kasurku? Meluk-meluk aku lagi!" Arini sampai merinding memikirkan bahwa dirinya sudah diapa-apain oleh Bejo.


"Tunggu nona, saya ingat-ingat dulu!" ucap Bejo kemudian duduk di dasboard ranjang Arini.


"Apa? Jangan ngarang kamu!" Arini merasa sangat malu, wajahnya sudah bersemu merah. Tiba-tiba suara petir datang lagi, Arini langsung melonjak kaget dan lari ke pelukan Bejo. Sang Bodyguard tampan tersebut.


"Ini bukti kata-kata saya!" ucap Bejo dengan senyuman kemenangan.


"Ih, apaan sih! Aku hanya kaget dengan suara petir itu! Jangan berpikir macam-macam! Aku cuma mencintai Reynaldi! Catat itu!" ucap Arini lalu menjauhkan dirinya dari Bejo.


Baru lima menit Arini menjauhkan tubuhnya, suara petir sahut menyahut, sehingga Arini melompat lagi ke pelukan Bejo. Bejo tertawa menahan betapa gelinya kelakuan nonanya tersebut.


"Sudah, non! Gak apa-apa saya peluk, non! Gak usah merasa malu sama saya! Tugas saya memang melindungi nona, jadi jangan sungkan minta tolong sama saya!" ucap Bejo sambil memeluk Arini, tangannya mengelus-elus punggung Arini, berusaha menenangkan nonanya yang saat ini ketakutan.

__ADS_1


Arini memang memiliki trauma dengan petir, waktu kecil, kakeknya meninggal karena tersambar petir, saat bekerja di kebon tanaman obat yang sengaja di tanam untuk apotik hidup. Arini melihat dengan mata kepalanya sendiri, sang Kakek meregang nyawa tersambar petir. Oleh karena itu, sampai sekarang, Arini selalu ketakutan dan menangis kalau ada petir yang saling sahut menyahut begitu.


"Udah, non tidur lagi saja. Nanti kalau sudah tidur, suara petirnya tidak terdengar lagi!" ucap Bejo mencoba menenangkan Arini.


"Tapi aku haus, aku tadi bangun mau ambil minum!" ucap Arini masih nyaman di pelukan Bejo yang hangat, walaupun petir sudah menghilang dan tidak terdengar lagi.


"Ya sudah, biar saya ambil minumnya, tunggu disini, ya! Jangan nakal!" ucap Bejo sambil mengelus pipi Arini. Arini malah ikut bangun dan mengekori Bejo yang akan mengambil minuman di area depan kamarnya.


Kamar Arini memang termasuk besar, semua fasilitas lengkap di dalam sana. Ada toilet, dapur kecil, kulkas kecil , walk in close, home teater, ruang belajar dan juga tempat sholat. Bisa dikatakan, Arini bisa hidup di kamar itu walaupun dia sebulan lamanya tidak keluar kamar. Semua yang dia butuhkan tersedia di kamar itu, namanya Putri tunggal konglomerat yang selalu di manjakan segala kebutuhan dirinya.


"Jangan tinggalkan aku!" rengek Arini masih mengekor di belakang Bejo. Bejo mengambil air minum dan menyerahkan pada Arini.


"Apakah nona juga mau makan? Siapa tahu lapar. Saya bisa masakan mie instan!" tawar Bejo sambil mengambil mie instan di lemari Kitchen set mini yang tersedia di kamar Arini.


"Aku gak mau, nanti aku bisa gendut, kalau jam segini makan mie instan!" ujar Arini, lalu dia duduk di sofa, sementara Bejo sibuk memasak mie instan dan kopi untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai, Bejo yang memang sedang lapar, makan mie instan miliknya, Arini yang melihat Bejo makan begitu nikmat nya, jadi ngiler juga.


Bejo yang melihat Arini terus memperhatikan dirinya, akhirnya tertawa lucu dengan kelakuan nonanya tersebut. Bejo lalu menyodorkan sesendok mie instan ke mulut Arini, tali Arini menolaknya, Bejo yang tahu kalau Arini juga menginginkan mie tersebut, sengaja memaksakan agar mie itu masuk ke mulut Arini.


"Enak bukan?" tanya Bejo dengan senyum usilnya.


"Aku makan karena kamu yang maksa aku!" ucap Arini lalu mendekati Bejo, minta disuapi lagi.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua menghabiskan mie instan yang tadi Bejo masak. Untung Bejo ini cerdas, dia tadi masak dua bungkus mie instan jadi dia tetap kenyang walaupun harus berbagi dengan Arini. Arini naik ke kasurnya, dan Bejo kini tidur di sofa tersebut. Hingga pagi menjelang.


__ADS_2