
Kakek itu kemudian menatap Bejo dengan lekat. Dia duduk di hadapan Bejo yang saat ini sedang menatapnya dengan penuh penasaran.
"Tilong, kakek jelaskan tentang tempat ini. Apa maksudnya? Saya tidak mengerti kek!" ucap Bejo sambil menatap kakek tersebut yang kini sedang menerawang jauh, jauh di hadapannya.
"Pada zaman dahulu! Dermaga ini pernah sangat ramai, kemudian Dermaga ini ditutup oleh pemerintah!" ucap kakek itu lalu terdiam.
"Kenapa harus ditutup?" tanya Bejo penasaran
"Karena di dermaga ini, dshulu pernah terjadi pembantaian yang mengakibatkan selalu terjadi teror orang-orang yang ada di dermaga ini apabila malam tiba!" ucap kakek itu.
Bejo mengurutkan keningnya masih berusaha untuk mencerna Apa yang sedang diceritakan oleh sang kakek yang Bahkan kini tampak matanya mulai berkaca-kaca.
"Pada malam pembantaian itu, ada sekitar 100 nyawa yang melayang dan mereka dibantai habis oleh para pembajak laut yang menginginkan harta benda mereka!" ucap kakek itu lagi.
"Lalu, apa hubungannya kek, dengan saya?" tanya Bejo masih belum nyambung juga dengan cerita itu.
"Apakah kamu tidak merasakan setiap kamu berada di sini, hati kamu selalu merasa sedih dan merasa seakan tertekan, atau kamu pernah bermimpi buruk di tempat ini?" tanya kakek itu sambil menatap kepada Bejo.
Ketika Kakak itu mengatakan tentang mimpi, seketika Bejo Mengingat bahwa barusan saja. Dia telah bertemu dengan Reynaldi di tempat ini. Padahal setahu dia, Reynaldi sudah meninggal 2 bulan yang lalu bersama dengan Arini Mantan istrinya.
"Mengenai mimpi. Baru saja saya bertemu dengan kawan saya yang sudah meninggal karena kecelakaan di laut bersama dengan istrinya! Mantan Istri saya!" ucap Bejo.
"Saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya. Tiba-tiba saja, saya sudah tertidur di tempat ini. Padahal seingat saya, begitu saya datang ke sini. Saya hanya duduk saja dan merenung saja di sini. Tidak merasa mengantuk ataupun keinginan untuk tidur. Tetapi ketika saya bertemu dengan Reynaldi, tiba-tiba saja saya mendapatkan diri saya sudah tertidur di dermaga ini!" ucap Bejo menerangkan kondisinya saat ini.
__ADS_1
"Tempat ini akan selalu merefleksikan kembali kejadian buruk yang pernah kamu alami! Oleh karena itu, kakek selalu mengawasimu dan menjagamu apabila kamu datang kesini. Kakek menjagamu, agar jangan sampai kamu terseret ke dalamnya dan tidak mampu untuk keluar lagi!" ucap kakek itu sambil menatap tajam kepada Bejo.
"Sudahlah nak! Sekarang kamu sebaiknya pulang. Sebentar lagi sudah magrib. Lain kali kalau kau ingin datang ke sini, jangan di waktu-waktu semacam ini. Kau bisa datang ke sini kalau pagi atau siang. Kau harus ingat pesan Kakek ini! Karena Kakek khawatir tidak bisa menjagamu lagi!" ucap kakek itu melihat sambil menatap Bejo.
"Apakah kakek bisa menjelaskan siapa sebenarnya kakek? Dan kenapa kakek selalu ada ketika saya di sini?" Tanya Bejo dengan penuh penasaran terhadap kakek tersebut. Ini adalah kali ketiga dia bertemu dan kakek tersebut di tempat itu.
"Kakek adalah kepala desa di tempat ini. Sewaktu terjadi pembantaian itu, kakek sudah berusaha untuk menyelamatkan mereka semua. Tetapi kemampuan Kakek sangat rendah, sehingga kakek hanya bisa untuk menyelamatkan diri sendiri!" ucap kakek tersebut.
Ketika mendengarkan pengakuan Kakek itu, seketika Bejo merasa terkejut seakan tidak percaya.
"Bagaimana mungkin kek? Bukankah Kakek bilang kejadian itu sudah terjadi sangat lama? Bagaimana mungkin Kakak masih hidup sampai saat ini?" berbagai pertanyaan berkecamuk di dalam pikiran baju saat ini seketika bulu romanya merinding ketika dia berpikir sesuatu tentang Kakek itu.
"Kamu tidak usah takut! Saya ini bukan hantu! Saya ini manusia biasa seperti kamu. Hanya saja, saya memang mempunyai kemampuan khusus yang bisa berumur panjang. Apa kau tahu Berapa umurku saat ini?" ucap kakek itu sambil menatap kepada Bejo.
"Berapa usia kakek saat ini?" tanya Bejo merasa penasaran.
"500 tahun!" Ucap Kakek itu sambil menatap Bejo kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah danau yang ada di hadapannya.
"Astaghfirullahaladzim! Apakah itu benar kek? Bagaimana bisa? Emangnya apa kemampuan yang kakek miliki? Sehingga bisa memiliki umur sepanjang itu?" tanya Bejo semakin penasaran dengan identitas kakek itu.
"Sudahlah! Cepatlah kau pulang! Waktumu semakin sempit! Kau Lihatlah senja semakin naik ke atas. Waktumu sudah tidak banyak! Cepatlah kau pulang dan Ingat pesan Kakek! Jangan pernah kau datang ke tempat ini lagi dalam keadaan malam atau keadaan seperti ini!" kakek itu seperti terburu-buru mengejar sesuatu. Kemudian tiba-tiba saja Kakak itu menghilang dari hadapan Bejo.
" Astagfirullahaladzim Kenapa hari ini saya menemui begitu banyak hal yang tidak masuk di akal?" Bojo kemudian langsung menuju ke mobilnya dan dengan cepat dia meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Kamu harus ingat pesan Kakek! Bahwa kamu tidak boleh datang ke tempat itu dalam keadaan malam! Ingat pesan Kakek ini!" tiba-tiba saja Bejo mendengarkan suara kakek tadi di dalam mobilnya!
Seketika bulu roma merinding di sekejur tubuh Bejo. Dia pun melajukan kendaraannya secepat kilat agar segera bisa meninggalkan kawasan itu.
Begitu sampai di apartemennya, Bejo langsung mandi dan kemudian melaksanakan salat magrib.
Saat Bejo sudah bersiap untuk makan malam tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Bejo melihat nama Siska di dalamnya. Bejo langsung mereject panggilan tersebut. Lalu mematikan ponselnya agar tidak terus ditelepon oleh Siska.
Sementara itu, Siska yang saat ini sedang berada di taman. Siska masih menunggu kedatangan Bejo. Kini Siska mulai bersedih hatinya. Tampak Siska kini mulai menangis.
"Kenapa kamu jahat sekali sama aku, Bejo? Memangnya apa salahku sama kamu? Sehingga sampai kamu tega kepadaku!" Siska yang sudah menunggu Bejo sejak siang mulai merasakan lelah dan lapar.
Tampak di kejauhan, Prabowo sedang mulai mendekati Siska saat ini.
"Siska! Kenapa sudah malam begini kamu belum pulang juga? Apa kau tahu? Saat ini orang tuamu sedang kebingungan mencari kamu!" Prabowo kemudian mendekati Siska tetapi tiba-tiba saja Siska jatuh pingsan di hadapannya sehingga membuat Prabowo menjadi panik.
"Siska, ayo bangunlah! Siska, apa yang terjadi denganmu?" Prabowo yang terus berusaha untuk membangunkan Siska tetapi tidak berhasil.
"Bagaimana ini, apa yang harus kulakukan?Apakah aku bawa ke rumah sakit saja?" tanya Prabowo merasa kebingungan dengan kondisi Siska saat ini.
"Sudahlah! Lebih baik aku bawa dia ke rumah sakit saja. Biar lebih aman! Nanti kalau ada apa-apa, jangan-jangan nanti malah aku yang disalahkan oleh orang tuanya!" Prabowo pun dengan mantap membawa Siska ke rumah sakit kemudian dia menghubungi kedua orang tuanya Siska untuk datang ke sana.
__ADS_1