Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
64. Menyerah


__ADS_3

"Ambillah, kalau kau tertarik! Aku tidak tertarik sama sekali dengannya!" ucap Siska sambil menatap tajam ke arah Prabowo yang saat ini sedang memperhatikannya.


"Kau gila Siska! Bagaimana mungkin aku akan mengambil calon suamimu? Dan dia pun tidak mungkin menyukaiku, karena aku hanya seorang gadis biasa. Tidak sepertimu anak seorang konglomerat!" ucap Maryam sambil menatap tajam ke arah Siska.


Siska kini malah sudah tidak tahan lagi untuk duduk di tempatnya, Siska sangat ingin sekali untuk segera pergi dari kelasnya sekarang.


"Siska Suganda! Dari tadi saya perhatikan Anda ngobrol terus dengan teman Anda. Apakah anda bisa maju ke depan dan menjelaskan apa yang saya terangkan barusan?" tanya Prabowo sambil menatap tajam ke arah Siska.


"Saya tidak mau ngobrol terus. Saya hanya menjawab pertanyaan teman saya. Apakah itu salah?" protes Siska seperti tidak senang kepada Prabowo.


Prabowo mendekati Siska dan kemudian menarik tangannya untuk maju ke depan kelas. Menyuruh Siska untuk menjelaskan apa yang tadi dia sampaikan.


Siska yang memang sejak awal kuliah tadi sama sekali tidak fokus, dan sama sekali tidak memperhatikan kuliah yang disampaikan oleh Prabowo. Akhirnya hanya bisa berdiri saja di sana. Karena dia tidak mengerti apa yang akan dia sampaikan.


"Kamu tidak bisa menjelaskan apa yang saya terangkan di kelas, tetapi kamu tidak mau mendengarkan kuliah saya. Sebetulnya, apa niatmu untuk datang ke kampus? Hanya untuk apa hanya untuk bergaya?" tanya Prabowo dengan pertanyaan yang sangat menohok hati Siska.


"Mengenai niat saya datang ke kampus, itu, saya rasa bukan urusan Anda. Anda urus saja urusan Anda sendiri!" siska pun langsung menuju ke kursinya dan keluar dari kelas.


Prabowo hanya menatap kepergian Siska dengan mata nyalang. Dia kehilangan akal untuk bisa mendekati gadis itu.


"Dasar laki-laki menyebalkan! Dia pikir dia itu siapa berani-beraninya dia mengatur-ngatur hidupku!" ucap Siska sambil terus berlari menuju parkiran dan segera meninggalkan kampus tersebut menggunakan mobilnya.


Siska memutuskan untuk menemui Bejo di taman tempat dia bekerja di sana.


"Kau Masih betah bekerja di sini apa kau tidak mau mengurus perusahaanmu sendiri?" tanya Siska ketika Bejo tampak asik dengan pekerjaannya membereskan taman.

__ADS_1


"Aku menemukan ketenanganku di sini karena itu aku senang bekerja di sini!" ucap Bejo sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Apakah kau tidak senang ketika bekerja di perusahaanmu?" tanya siska karena merasa penasaran.


"Dahulu ketika aku tidak memiliki perusahaan, rasanya ingin sekali memilikinya. Tetapi kini, setelah aku melakukan segala cara, agar bisa memilikinya. Entah kenapa, rasanya sekarang semuanya hampa!" ucap Bejo terdiam sejenak meninggalkan pekerjaannya.


"Sampai berapa lama lagi kamu akan menyesali kehidupanmu yang lalu? Bukankah sudah waktunya untuk kamu membuka lembaran baru dan mulai hidup bahagia?" tanya Siska sambil menatap tajam kepada Bejo. Laki-laki yang saat ini sedang bertahta di dalam hatinya.


"Kau tidak usah repot-repot, untuk mengurusi kehidupanku! Kau urus saja hidupmu sendiri!" ucap Bejo kemudian dia meninggalkan Siska sendirian di taman.


Siska mengejar kepergian Bejo kemudian dia mencekal tangan Bejo untuk menghadap ke arahnya.


"Dengarkan aku! Aku tidak peduli kau bekerja di perusahaan ataupun di taman ini. Satu yang jelas, aku mencintaimu dan aku ingin kita berjuang untuk cinta kita berdua!" ucap Siska dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Bejo menatap tajam ke arah Siska kemudian dia menggeleng, " Aku tidak mau kalau harus membuatmu menjadi anak durhaka dengan menolak keinginan mereka. Menikahlah dengan calon suamimu dan berbahagialah lupakan saja aku!" ucap Bejo dengan suara Sendu tampak Dia sedang menahan kesedihan di hatinya.


"Sejak dulu aku tidak pernah mengerti apa itu cinta. Kalau aku mengerti, pasti aku akan lebih menghargai istriku!" ucap Bejo sambil melirik sekilas kepada Siska.


"Jangan bilang padaku, kalau kau masih mencintai Arini. Arini sekarang sudah menikah dan dia hidup bahagia bersama suaminya!" ucap Siska dengan mata berapi-api.


Bejo menghela nafasnya dengan berat kemudian dia menatap kepada Siska.


"Apakah kau bisa meninggalkanku sendiri?Aku hanya ingin ketenangan dalam hidupku. Itulah sebabnya aku memilih pekerjaan ini. Tapi kau selalu menggangguku. Apakah aku harus pergi dari sini juga? Hanya untuk mendapatkan ketenanganku?" tanya Bejo kepada Siska.


Siska menggeleng ada perasaan sakit di hatinya mendengarkan perkataan Bejo seperti itu. Siska memeluk Bejo berusaha untuk mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


"Aku tidak sedang berusaha mengganggu ketenanganmu. Aku hanya tidak bisa hidup tanpamu Kenapa kau tidak mengerti?" Ishak Siska dalam tangisnya sehingga baju-baju yang basah keringat kini tambah basah lagi dengan air matanya.


Bejo tampak membiarkan Siska yang melampiaskan emosinya saat ini terhadap dirinya melalui air mata.


Terkadang, air mata adalah obat yang paling manjur dalam mengobati rasa sakit hati dan itu yang sedang dilakukan oleh Bejo terhadap Siska membiarkan yang menangis sepuasnya di dadanya.


"Menangislah sepuasmu. Setelah itu, Jangan menangis lagi, karena sayang sekali air matamu. Kau tumpahkan untuk laki-laki seperti saya!" ucap Bejo dengan nada sarkasme.


"Memangnya kau laki-laki seperti apa? Kenapa kau terus menghukum dirimu sendiri untuk kesalahan masa lalumu? Cobalah kau berdamai dengan dirimu sendiri. Aku mau menerimamu apa adanya!" ucap Siska berusaha untuk menjelaskan kepada Bejo mengenai perasaannya.


"Tetapi orang tuamu tidak menerimanya Karena masa laluku Kenapa kau tidak bisa membuka matamu sendiri Lihatlah kenyataan yang ada sekarang!" bentak Bejo tidak mempedulikan lagi perasaan Siska.


" Oleh karena itu aku mengajakmu untuk berjuang untuk bisa meyakinkan mereka!" ucap Siska sambil menatap tajam kepada Bejo. Pria yang dicintainya.


"Perjuangan yang sia-sia! Aku tahu aku tidak akan pernah berhasil. Karena itu aku memilih untuk menyerah dan mengikhlaskanmu untuk menikah dengan pria pilihan kedua orang tuamu!" ucap Bejo lalu meninggalkan Siska sendiri.


Bejo tidak memperdulikan ketika gadis itu memanggilnya terus. Siska kini menangis sendiri di taman setelah kepergian Bejo.


Dari kejauhan tampak Prabowo yang tengah mengawasi adegan dramatis tersebut.


"Rupanya Siska sudah memiliki pujian hati yang lain. Karena itu dia menolak Perjodohan. Sekarang aku mengerti kenapa dulu dia bersikap seperti itu!" ucap Prabowo sambil terus menatap ke arah Siska yang masih menangis di sana.


Prabowo kemudian mendekati Siska dan mendudukkannya di bangku taman.


Siska tempat terkejut ketika mendapatkan Prabowo yang berada di sana dan kini duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau ada di kelas dan mengajar para mahasiswamu di sana?" tanya Siska tampak tidak senang dengan kehadiran Prabowo.


Prabowo tampak tersenyum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Siska. kemudian dia berusaha untuk menggenggam kedua tangan Siska. membawanya ke dalam pangkuannya.


__ADS_2