
Pagi itu, ibunya Natalia berniat untuk membereskan barang-barang Natalia. Barang-barang tersebut akan dia sumbangkan kepada pihak yang membutuhkan. Barang-barang mewah Natalia akan dijual dan dilelang dan kemudian hasilnya akan diserahkan kepada panti asuhan. Yang diharapkan hasilnya tersebut akan menjadi amal jariah bagi Natalia di akhirat sana.
"Apa semua barang-barangnya Natalia sudah diperiksa semuanya, Mah? Ini tim yang Papa bentuk dari kantor sudah bersiap, untuk menuju ke tempat lelang!" ucap ayahnya Natalia, kini tampaknya sudah mulai bisa untuk mengikhlaskan kepergian putrinya.
"Sebentar Pah! Ini Mama sedang memeriksa barang-barang masa kecilnya Natalia! Mainan-mainannya Natalia, ketika masih kecil. Sebentar ya, Mama cek dulu! Siapa tahu ada suatu petunjuk untuk kita!" ucap istrinya.
Ayah Natalia kemudian lebih memilih untuk duduk di sofa, sambil menunggu sang istri memeriksa barang-barang putrinya. Matanya nanar, menatap ke sekeliling kamar tersebut. Yang begitu banyak kenangan akan Natalia. Putri mereka satu-satunya. Perasaan itu memang masih sakit, tetapi tetap saja mereka berdua harus mengikhlaskan kepergian putrinya demi ketenangan putrinya di alam sana. Setelah itu ayahnya Natalia memeriksa sejumlah foto yang di pajang sang putri kesayangannya.
"Pah! Coba lihat ke sini! Lihatlah! Mama menemukan apa di sini!" tiba-tiba saja istrinya memanggilnya dan dia pun kembali meletakkan figura foto tersebut di tempatnya semula. Matanya nyalang ketika menatap sebuah alat tespek di tangan sang istri, dan sebuah buku diary di sana.
"Coba Mah! Sekarang kita baca buku diary itu! Siapa tahu kita mendapatkan sebuah petunjuk dari Natalia!" ucap suaminya. Kemudikan istrinya dengan tangan gemetar, mulai membuka buku diary milik Natalia yang tidak terkunci. Tampak tetes air mata terus menggenangi kelopak matanya, sedih dan sakit, mendapatkan kenyataan, bahwa ternyata, putrinya tak sebahagia itu.
"Ternyata, selama ini kita sebagai orang tua Natalia, telah lalai, karena kita tidak mengetahui bahwa ternyata Putri kita, mengalami begitu banyak penderitaan di luar sana. Apakah kita telah menganiaya Putri kita? Sehingga dia nekat melakukan bunuh diri itu? Apakah kematian dia adalah salah kita, Pah?" tanya istrinya sambil memeluk suaminya. Suaminya mengambil buku diary tersebut dan mulai membacanya.
__ADS_1
"Dear diary, hari ini mereka kembali membullyku! Mereka tidak senang dengan kedatanganku di sekolah ini, karena mereka menganggap, bahwa aku hanya akan menindas mereka. Posisi dan statusku sebagai anak orang kaya di sini, malah menjadi neraka untukku. Mereka sama sekali tidak menyukai aku. Tapi aku harus tetap berusaha, untuk melakukan yang terbaik. Agar kedua orang tuaku tidak berpikir aneh terhadap diriku. Agar mereka tidak mengkhawatirkan aku!"
"Sekolahan SMA ini, adalah nerakanya orang-orang kaya. Karena mereka, orang-orang yang hidupnya hanya pas-pasan, merasa terintegrasi dengan keberadaan kami. Sehingga mereka bersatu untuk menindas kami para orang kaya. Niatku yang awalnya bersekolah di sekolah sederhana ini, adalah untuk membuat diriku bisa berbaur dengan rakyat jelata. Tetapi malah memberikan neraka dalam kehidupanku sendiri."
"Dear Diary! Hari ini aku mendapatkan sebuah kenyataan, bahwa ternyata, aku telah hamil, karena perbuatan Armando, yang telah memperkosaku saat itu. Pria tampan yang telah menarik hatiku, tetapi dia merasa marah, karena aku akan dijodohkan oleh Papaku. Dia marah, dan memperkosaku!" papanya Natalia berhenti sejenak. Berusaha mengingat nama pria tersebut.
"Apakah Mama kenal siapa itu Armando? Kenapa ada pria itu di dalam diary Putri kita?" matanya sudah merah, menahan amarah yang membuncah di dadanya.
"Kelihatannya, Armando itu Temannya Natalia di Amerika. Mungkin, kita nanti bisa bertanya kepada teman-teman Natalia di Amerika!" ucap istrinya.
Hati orang tua mana, yang tidak sakit hatinya ketika mendapatkan kenyataan bahwa putrinya ternyata telah mengalami kejadian yang begitu buruk. Tetapi mereka sebagai orang tuanya, tidak mengetahui apapun. Sampai akhirnya menemukan kematian sang putri tercinta.
" Kita berdua selama ini selalu sibuk dengan urusan kita masing-masing. Sampai kita melupakan Putri kita, ternyata dia telah mengalami begitu banyak penderitaan. Keceriaan dan kebahagiaan wajahnya, ternyata telah menipu kita berdua. Ternyata dia menyimpan begitu banyak luka dalam kehidupan dia. Kita berdua sebagai orang tua telah gagal, Mah! Kita sangat gagal!" ucap Ayahnya Natalia.
__ADS_1
Ibunda Natalia menangis mendengarkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Hatinya tercabit ketika mendengar kenyataan tersebut.
"Ya, Pah! Mama terlalu sibuk dengan arisan dan teman-teman sosialita Mama! Sampai Mama melupakan anak kita! Maafkan Mama, Pah!" isaknya penuh dengan penyesalan. Ayahnya Natalia hanya bisa memeluk sang istri yang kini menangis tersedu-sedu.
"Ayo Mah! Kita bereskan barang-barang ini. Yang akan dipersiapkan untuk disumbangkan kepada panti-panti asuhan, dan barang-barang yang akan dilelang harus dipisah secara jelas. Agar nantinya tidak terjadi tumpang tindih. Dan kita juga harus segera mempersiapkan kepergian kita, ke Amerika. Untuk menyelidiki tentang hal-hal yang ada di dalam buku diary Natalia!" ucapnya.
"Mama akan mengikuti apapun yang menjadi keputusan Papa. Mama pasti akan mengikutinya. Karena Mama pun tidak rela, kematian Natalia menggantung begitu saja. Mama tidak akab memaafkan pria itu! Mama akan memastikan pria itu mendapatkan hukumannya. Karena dia sudah menodai Natalia, sehingga membuat dia nekat melakukan hal tidak terpuji itu!" ucapnya berapi-api.
Kedua suami istri tersebut, kemudian menata barang-barang Natalia dan memberikan kepada Panti Asuhan dan juga tim lelang, yang sudah dibentuk oleh suaminya dari kantor. Uang hasil lelang barang-barang Natalia tersebut, kemudian disumbangkan ke panti asuhan untuk digunakan sebagaimana mestinya. Agar menjadi amal bagi Natalia di akhirat kelak.
Kini kamar Natalia sudah bersih dari barang-barang miliknya. Karena telah berpindah tangan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Kedua orang tua Natalia masih terpuruk dengan meninggalnya Natalia yang tiba-tiba, tanpa pesan maupun kesan sebelumnya.
"Mulai sekarang kita harus berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Putri kita agar dia tenang di alam sana!" ucap Ayahnya Natalia dengan suara parau karena terlalu banyak menangis. Hati orang tua mana? Yang tidak akan sedih mendapatkan putri semata wayangnya, tiba-tiba saja meninggal karena bunuh diri. Sampai sekarang mereka berdua masih belum mempunyai kenyataan itu.
__ADS_1
"Sebelum berangkat ke Amerika. Kita harus mengunjungi makam Natalia. Memberitahukan kepadanya, bahwa kita akan menghukum laki-laki jahat itu. Laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya. Yang sudah membuat dia menderita." ucap ibunya Natalia.