
Beberapa saat kemudian, Arini datang dan membawa beberapa keperluan yang diminta oleh Reynaldi. Arini cukup syock karena Kekasihnya itu sangat berani menentang bahaya dengan kabur dari rumah.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tahu, hal seperti ini sangat bahaya?" tanya Arini, tampak khawatir dengan keadaan kekasihnya.
"Demi cinta kita. aku rela menempuh segala bahaya. Jangan khawatir!" Reynaldi lalu mengecup bibir Arini sekilas. Arini bersemu merah pipinya, karena malu.
"Ah, kau ini! malu dilihat orang!" Arini melirik ke arah resepsionis yang sejak tadi terus melihat ke arah mereka.
"Tenang saja, Mba! Kalian aman disini!" ujarnya dengan senyum manisnya.
" Ayo kita ke kamar, tidak baik kita berlama-lama di luar!" ajak Reynaldi, langsung menarik tangan Arini.
"Eh, apa yang kau lakukan?" Arini protes.
__ADS_1
"Ikut, saja! ucap Renaldi sambil terus menarik tangan Arini, ke dalam kamar yang sudah dia pesan. Karena Reynaldi ketakutan apabila anak buah ayahnya mencarinya.
"Ai! kau tidak boleh sembarangan ngajak aku masuk ke kamar kamu! Aku ini sedang dalam proses perceraian! Hal ini bisa menjadi hal yang buruk untukku di pengadilan!" ujar Arini, lalu keluar lagi dari kamar tersebut.
"Kau dalam proses perceraian? Apakah itu benar? Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku? Oh Tuhan! Aku rasa, Aku bisa gila karena mendengarkan kabar baik ini!" Renaldy mengajak Arini untuk menari-nari karena saking bahagianya mendengar kabar tersebut akhirnya perjuangan cinta mereka berdua sebentar lagi akan segera terwujud. Tidak ada yang lebih membahagiakan dirinya.
"Aku bahagia sekali!" ujar Reynaldi.
"Aku pulang dulu, ya? Ini aku bawa semua yang kamu butuhkan selama pelariannya!" Arini lalu menyerahkan semua yang tadi dia bawa.
"Sudah, aku pulang, kamu ingat! Jangan lupa untuk menghindari keramaian. Agar tetap aman. Pastikan makan dan tidur yang cukup!" Setelah memberikan semua nasehat, Arini langsung pergi dari hotel.
"Kau yakin, tidak mau menemani aku disini?" tanya Reynaldi, tampak berat melepas kepergian Arini.
__ADS_1
"Kalau kamu mau prosesnya alot, kita bisa tinggal disini!" ucap Arini menatap wajah Reynaldi dengan sendu.
"Baiklah! Aku ingin perceraian kamu segera beres. Pulanglah! Aku akan mengabari keberadaan kamu dengan nomor baru, karena aku akan menonaktifkan nomorku. Takut ayahku akan melacak ponselku!" kemudian dua sejoli itu berpisah di sana.
Arini tersenyum kepada mbak resepsionis yang masih tersenyum ke arah dirinya. "Mba, titip kekasih saya, ya?" ujar Arini lalu pergi dari sana.
"ElWah,wanita itu sangat cantik, wajar saja, kalau Mas ganteng itu mau memperjuangkan cinta mereka. Sampai rela kabur dari rumah segala!" ucap perempuan itu.
"Seandainya aku memiliki nasib sebagus itu, dicintai oleh seorang pria yang setampan laki-laki di kamar itu. Aih,rasanya seluruh hidupku tidak sia-sia!" ucapnya sambil senyum sumringah.
"Terimakasih, Mba!" ucap Reynaldi tiba-tiba sudah ada disamping perempuan itu.
"Ah, sama-sama, Mas! Pacar Mas cantik sekali! Pantas Mas rela kabur demi dia!" ucapnya, Reynaldi hanya tersenyum saja.Lalu kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Ingat, untuk melindungi aku, kalau orang tuaku datang ke sini. Ok?" kembali Reynaldi mengingatkan.
"Tenang, Mas! Disini nama Mas sudah saya ganti jadi Paijo! Jadi tidak akan ada yang tahu keberadaan Mas disini!" Reynaldi tersenyum lalu masuk ke kamarnya.