Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
74. Malapetaka


__ADS_3

Bejo kini sudah berada di taman kembali. Dia memulai pekerjaannya kembali dan mulai mencari ketenangan untuk hatinya yang saat ini sedang kacau balau.


"Semoga kamu hidup bahagia bersama dengan suamimu!" doa bejo untuk Siska wanita yang pernah beberapa saat lalu pernah mengisi hatinya.


Sekarang siska sudah menjadi istri or lain dan dia harus berusaha untuk melupakan Siska untuk selamanya.


Sementara itu, Siska yang masih dirawat di rumah sakit. Sekarang dia sudah mulai bisa berdamai dengan hatinya.


Siska berusaha untuk menerima Prabowo sebagai suaminya. Walaupun hatinya masih merasa sakit dan masih mencintai Bejo.


Prabowo selalu setia menanti pintu hati Siska terbuka untuknya.


Satu minggu kemudian, Siska sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


Prabowo langsung membawa pulang istrinya ke rumah yang sudah dipersiapkan untuk mereka berdua.


Kebahagian begitu tergambar jelas di wajah Prabowo. Yang kini sudah berstatus sebagai suami Siska.


"Kamu istirahatlah dulu. Aku akan manggil Bibi untuk menyiapkan makan siang untuk kita!" ucap Prabowo kepada Siska. Setelah dia menunjukkan kamar mereka berdua.


Setelah Siska sudah masuk ke kamar mereka, Prabowo langsung pergi ke dapur dan dia mencari pembantu yang selalu menjaga rumahnya.


Rumah Itu posisinya masih baru. Baru selesai dibangun dan selama ini Prabowo tidak pernah tinggal di rumah itu. Hanya pembantu itulah yang setiap hari berada di rumah itu untuk menjaganya dan juga memastikan kebersihan rumah itu.


"Bi! Bibi!" Prabowo memanggil pembantu yang bekerja di rumahnya.


Tetapi sangat lama sekali mendapatkan jawaban dari beliau.


Sehingga akhirnya, Prabowo pergi mencari pembantunya itu ke kamarnya.


Alangkah terkejutnya ketika dia melihat ternyata pembantunya itu sedang terbaring di ranjang dengan tubuh bersimbah darah.

__ADS_1


Prabowo sangat terkejut melihat itu. Dan Dia tidak berani menyentuh apapun yang ada di kamar Itu. Karena dia khawatir akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Prabowo langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil ponselnya kemudian dia langsung menelpon kantor polisi melaporkan kejadian itu.


"Halo kantor polisi! Saya mau melaporkan sebuah kasus yang terjadi di rumah saya!" kemudian Prabowo menceritakan apa saja yang dia lihat di kamar pembantunya itu.


"Baiklah Pak! Cepat kirimkan tim ke sini untuk menyelidiki kasus ini!" ucap prabowo kemudian dia menutup panggilan tersebut.


Prabowo kemudian menemui Siska di kamar mereka berdua. Prabowo lalu menceritakan apa yang sedang terjadi di rumah mereka. Kasus yang terjadi kepada pembantu yang biasanya menjaga rumahnya.


"Kasihan sekali! Semoga kasus ini segera ditemukan titik terangnya!" doa Siska untuk pembantunya Prabowo yang masih belum di urus jenazah nya.


"Kita harus menunggu petugas kepolisian! Sda kemungkinan ini adalah sebuah kasus pembunuhan. Kita tidak bisa gegabah! Atau nanti kita berdua bisa terseret dalam kasus ini!" ucap Prabowo menerangkan semuanya kepada Siska.


"Kalau begitu sebaliknya kita jangan tinggal di rumah ini. Sku jadi takut, Mas! Kalau betul itu adalah kasus pembunuhan. Berarti rumah ini tidak aman lagi. Kita berdua harus segera meninggalkan rumah ini, mungkin kita berdua juga dalam bahaya, Mas!" ucap Siska kepada Prabowo. Tampak ketakutan di wajahnya saat ini. Prabowo tampak terdiam. Dia seperti sedang memikirkan apa yang diucapkan oleh Siska, istrinya.


"Kau bener! Tapi sebaiknya kita menunggu polisi dulu!" setelah Prabowo mengucapkan itu. Tiba-tiba saja di luar terdengar suara berisik seakan ada gaduh.


"Apa itu mas?" tanya Siska mulai ketakutan.


"Aku takut, Mas!" ucap Siska sambil berdiri di belakang suaminya.


Kasihan sekali pengantin baru itu. Baru menginjakkan kaki di rumahnya mereka. Kini mereka harus mengalami kejadian buruk semacam itu. Bahkan sekarang hidup mereka dalam bahaya.


Malapetaka mengerikan telah terjadi rumah itu. Telah terjadi pembunuhan pembantu dari Prabowo. Wanita paruh baya yang biasanya tinggal sendiri di rumah itu.


Dengan berhati-hati sekali. Prabowo pergi keluar dari kamarnya dan melihat ada keributan apa di luar sana.


"Hati-hati, Mas jangan gegabah! Tidak tahu kenapa, saya merasa merinding sekali saat ini!" ucap Siska memperingati Prabowo agar tidak gegabah dalam melangkah.


"Ya, kau harus ingat, untuk selalu berdiri di belakang mas!" ucap Prabowo.

__ADS_1


Dengan hati-hati sekali, mereka pun menuju ke asal suara keributan tadi.


Ketika mereka sampai di tempat asal suara. Mereka melihat ada dua orang yang sedang bertengkar dan kini bahkan bertarung dengan sengit.


"Berani sekali kau membunuh Ibuku! Apa kau tahu? Bahwa Ibuku selama ini selalu mengurusmu dengan tulus. Kau betul-betul tidak punya rasa terima kasih sama sekali!" ucap seorang pemuda yang kini sedang kalap.


"Mas cepat rekam, apa yang sedang mereka lakukan itu! Rekaman itu bisa menjadi bukti dari kasus pembunuhan itu!" bisik Siska di telinga Prabowo dengan pelan-pelan sekali.


"Aku pun sudah memikirkan hal yang sama!" kemudian Prabowo langsung mengambil ponselnya. Dan merekam apa yang sedang terjadi di hadapannya.


Tidak lama kemudian, terdengar suara sirine polisi. Kedua orang yang sedang bertarung itu saling menatap satu sama lain.


Pria yang tadi sedang dipukuli oleh anak dari pembantunya Prabowo. Dia langsung panik dan segera berlari dari tempat itu. Yang kemudian dikejar oleh anaknya pembantunya Prabowo.


"Jangan coba-coba kau lari! Setelah kau membunuh Ibuku, dan sekarang kau tidak mau bertanggung jawab? Kau betul-betul seorang pengecut!" teriak anaknya pembantu yang saat ini sudah menjadi mayat.


Prabowo yang mengetahui bahwa polisi yang tadi dia panggil sudah datang, langsung dia temui di ruang tamu.


"Selamat siang pak! Senang sekali Anda cepat datang. Ayo Pak! Cepatlah, sekarang pembunuhnya masih ada di dalam!" ucap Prabowo dengan suara gugup. Karena dia takut kalau pembunuh itu sudah melahirkan diri. Bisa sangat berbahaya kalau orang itu bisa melarikan diri begitu saja.


Para anggota polisi yang datang ke rumah itu, langsung mengepung rumah Prabowo dan akhirnya bisa menangkap kedua pemuda yang saat ini sedang bertarung dengan sangat sengit.


"Kami akan memproses kasus ini. Silahkan anda memberikan laporan secara resmi di kantor polisi sebagai saksi!" komandan polisi yang saat ini ada di hadapan Prabowo.


"Bagaimana dengan jenazah itu Pak?" tanya Prabowo ingin memperjelas situasi yang ada.


"Jenazah itu akan kami bawa ke Kantor Polisi. Akan kami lakukan visum untuk melengkapi data-data dari kasus ini! Setelah kami berhasil mendapatkan data-data, kalian bisa mengambil jenazah itu untuk dimakamkan!" ucap komandan tersebut.


Mereka kemudian langsung berpamitan kepada prabowo. Setelah semua urusan di sana selesai.


Jenazah pembantunya Prabowo di bawa oleh petugas polisi untuk dilakukan otopsi dan juga visum. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan data data dan juga bukti-bukti dari kasus pembunuhan tersebut.

__ADS_1


Prabowo dan Siska merasa lega, karena kasus itu langsung selesai pada hari itu. Akan tetapi, sekarang mereka ketakutan untuk menetap di rumah itu. Karena telah terjadi pembunuhan di sana.


Mereka takut, kalau arwah pembantu itu masih menetap di rumah itu. Sehingga mereka kemudian langsung meninggalkan rumah itu dan langung menjualnya kepada orang lain. Setelah dilakukan ruqyah dan pembersihan oleh Prabowo.


__ADS_2