Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
7. Aksi Farel Bramantyo


__ADS_3

Farel yang merasa penasaran dengan masa lalunya, memilih untuk pergi ke warnet. Dia browsing tentang Bramantyo Groups. Dirinya ternyata termasuk orang terkenal. Hanya dengan memasukan nama Farel Bramantyo. Banyak berita dan video yang keluar.


Mata Farel melotot sempurna saat melihat artikel yang memasang foto dirinya bersama dengan seorang gadis yang sangat cantik.


"Apa ini yang bernama Arini? Jangan-jangan Cansu juga sudah membaca artikel murahan ini! Menyebalkan! Wartawan kurang kerjaan. Ngapain sih berita-beritain hal kaya ginian? Merugikan aku saja. Cansu pasti menolak aku terus gara-gara sampah ini." Farel yang geram membaca artikel itu langsung keluar dari sana.


Farel berniat kembali ke perusahaan Cansu. Mau menjelaskan bahwa dia tidak tahu menahu tentang berita tersebut. Ya iya lah Bang! Orang kamu lagi hilang ingatan! Si Abang Farel ada-ada aja. Bikin gemes memang nih cowok ganteng satu ini. Author jadi ikut gemes juga. Hehehe.


"Rukmana!" Farel yang melihat sopir pribadi Cansu langsung mendekati pria itu. Rukmana yang merasa di panggil hanya bisa menoleh.


"Ada apa?" tanyanya sambil mengelap mobil majikannya. Farel mendekat dan duduk di kursi dekat Rukmana.


"Cansu belum pulang juga?" tanyanya santai.


"Belum, kayanya masih lama. Kenapa memang?"


"Aku mau minta tolong sama kamu, untuk mau membawaku ke Suganda Group!" pinta Farel.


"Mau ngapain ke sana? Perusahaan itu jauh dari sini. Sekitar satu jam. Aku takut nanti Cansu membutuhkanku." Rukmana menolak.


"Tolonglah! Ini penting, masalah hidup dan mati!" dasar Farel memang raja lebay. Gemes deh!


"Aku telpon Cansu dulu. Biar dia nanti gak nyari atau menunggu aku." Farel hanya mengangguk.


"Jangan bilang kalau aku minta di antar ke Suganda Group! Bilang saja, aku minta di ajak jalan-jalan!" Rukmana hanya menggelengkan kepala dengan kekonyolan teman barunya.


"Cansu. Farel memintaku untuk mengajak jalan-jalan. Apa kau masih lama disana? Siapa tahu kamu ingin ikut bersama kami!" Farel sudah melotot demi mendengar apa yang di katakan Rukmana di telpon.


"Dasar pria gila! Aku mau menemui yang katanya calon tunanganku. Dia malah ngajak wanita yang aku cintai buat ikut! Bisa-bisa aku langsung di coret jadi pria idaman Cansu!" Farel terus menggerutu dalam hatinya. Rukmana yang melihat Farel melotot padanya hanya tersenyum kaku. Takut juga kalau Farel marah sama dia.


Walaupun Farel masih amnesia, tetap saja pria itu seorang CEO perusahaan ternama di negeri ini. Rukmana tidak bisa memperlakukan Farel dengan sembarangan. Cansu saja sudah meminta dirinya untuk melayani Farel dengan hati-hati.

__ADS_1


"Ohhhh.. ya sudah. Nanti kalau kamu pulang dan aku belum ke sini. Pulang naik taksi online saja ya. Hubungi aku nanti kalau kamu sudah sampai rumah." Rukmana menutup telponnya lalu membukakan pintu untuk Farel.


"Gak usah begitu! Aku bisa bukakan pintuku sendiri." Farel duduk santai di kursi belakang.


"Apa Pak Farel sudah makan?" tanya Rukmana sopan. Soalnya sejak siang dia tidak melihat Farel makan sesuatu.


"Panggil Farel saja. Kamu juga panggil Cansu dengan Cansu doang, tanpa Bu!" Farel protes dengan panggilan Pak yang disematkan oleh Rukmana.


"Cansu dan aku punya hubungan yang tidak sama dengan hubungan saya dan Pak Farel. Sejak kecil aku selalu memanggilnya Cansu saja. Tanpa embel-embel Bu atau Nona." Farel yang mendengar langsung misuh misuh.


"Gak bisa! Hubungan kamu sama Cansu gak boleh lebih dari sopir dan majikan. Cansu itu milik aku! Gak boleh ada pria lain yang punya hubungan spesial sama dia, kecuali aku!" sifat posesif Farel mulai keluar. "CEO gila!" bathin Rukmana gemes.


"Itu gedung Suganda Group." Rukmana malas meladeni tingkah Farel yang konyol menurutnya.


"Kamu tunggu aku disini. Jangan kemana-mana. Aku cuma sebentar doang." Farel langsung keluar dan melangkahkan kakinya ke gedung pencakar langit yang sangat megah tersebut.


"Gedungnya ternyata lebih mewah dari gedung milik Cansu." monolog Farel cuek.


"Kamu kenal saya?" Farel bingung sendiri. Belum juga bicara malah sudah di sapa begitu hormat oleh resepsionis cantik tersebut.


"Tentu saja. Anda adalah calon tunangan Direktur perusahaan ini. Masa saya tidak kenal." ucapnya sok akrab banget. Farel sudah gerah sendiri. Rasanya aneh mendengar kalau dirinya calon tunangan wanita yang tidak dia kenal.


"Jangan basa basi. Aku mau ketemu dengan calon tunangan yang kamu maksud tadi." Ucap Farel mulai tidak nyaman. Saat memandang ke sekeliling, di dapatinya para karyawan mulai berbisik-bisik sambil melihat dirinya.


"Kenapa mereka begitu?" tanya Farel tidak senang.


"Meraka mengagumi bapak." ucap resepsionis bernama Sari itu.


"Kenapa mengagumi saya?" tanyanya heran.


"Tentu karena Anda tampan dan kaya dong Pak! Apa lagi coba?" Sari tertawa bahagia. Entah mimpi apa dia tadi malam, sore-sore begini ketiban rejeki ngobral sama pria setampan Farel Bramantyo.

__ADS_1


"Kamu ngawur terus dari tadi. Cepat bawa aku bertemu dia." Farel yang sudah tidak sabar langsung mengikuti Sari yang akan membawanya ke ruangan Arini.


tok tok tok


"Masuk!" perintah seorang wanita dari dalam sana, Farel yang sudah tidak sabar, main nyelonong saja dan hal itu sukses membuat Arini terkejut.


"Farel? Ini benar-benar kamu sayang?" Arini langsung bangun dari kursinya. Menghambur ke pelukan Farel sangking bahagianya.


Arini memang mencintai Reynaldi, tetapi siapa sih wanita yang bisa menolak pesonanya seorang Farel Bramantyo?


"Wanita gila! Sembarangan meluk-meluk orang!" semprot Farel garang. Arini yang mendengar Farel memakinya jadi heran.


"Kamu kenapa sayang? Kasar banget sama aku!" Arini merajuk manja di dada bidang Farel. Farel yang risih langsung mendorong Arini agar menjauh dari dirinya. Dia sendiri memilih untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Sari langsung pergi melihat Arini yang memberi kode kepadanya. Sari sudah ketakutan tadinya. Melihat Farel yang asal nyelonong saja tadi. Selama ini Sari kenal Arini adalah seorang wanita yang tegas dan keras terhadap karyawannya.


Arini dibesarkan di keluarga konglomerat. Maklum saja kalau ada sisi arogan dalam dirinya. Tapi kalau sudah kenal Arini secara dekat. Arini termasuk pribadi yang supel dan hangat. Hal itu yang membuat Reynaldi jatuh cinta pada Arini.


"Aku kesini cuma mau bilang. Batalkan rencana pertunangan kita. Aku gak mencintai kamu. Aku juga yakin, kalau kamu juga tidak mencintaiku." Farel menatap Arini dengan kesal. Heran dengan reaksi Arini yang tampak biasa saja dengan permintaan darinya.


"Kita gak butuh cinta. Pernikahan kita adalah pernikahan bisnis. Aku gak masalah kok." Arini duduk di samping Farel yang kini melotot melihat dirinya.


"Ya ampun! Kamu cantik wajahnya. Tapi otak kamu konslet rupanya. Aku gak mau pernikahan aku dijadikan ajang bisnis. Aku cuma mau menikah dengan wanita yang aku cintai. Bukan dengan perempuan gila seperti kamu." Farel sudah marah hanya memikirkan akan menghabiskan hidupnya bersama wanita selain Cansu.


"Apa kamu ada wanita yang kamu cintai?" tanya Arini sambil tersenyum menatap Farel.


"Ya, dan wanita itu bukan kamu tentu saja." Farel sudah berdiri, berniat pergi dari ruangan Arini.


"Kamu boleh bersama wanita yang kamu cintai. Aku gak keberatan sama sekali. Aku hanya minta kamu tetap pulang ke rumah kita setiap malamnya. Jangan biarkan aku menunggu lama." ucap Arini lagi, masih dengan senyum yang sama.


"Wanita gila! Dengar ya. Aku Farel Bramantyo. Tidak akan pernah menikahi kamu. Aku hanya akan menikah dengan wanita yang aku cintai. Sampaikan apa yang aku katakan ke pada keluarga kita. Aku pergi!" Farel tidak perduli walaupun Arini terus memanggil namanya.

__ADS_1


__ADS_2