
Farel kemudian meminta Cansu untuk membuatkan dokumen perjanjian yang akan mereka sepakati. Farel akan memberikan 10 Triliun untuk membeli perusahaan Cansu. Tetapi perusahaan tersebut akan diberikan kepada Cansu sebagai mahar pernikahan mereka.
Setelah surat perjanjian jadi, Farel dan Cansu menandatangani surat tersebut. Farel langsung membawa Cansu ke Bank dan mengurus semua peralihan saham dan transfer uang 10 Triliun ke rekening Cansu. Cansu sengaja mentransfer uang tersebut ke rekening pribadi dalam rangka mengantisipasi barang kali terjadi penggelapan dana lagi oleh para bawahan sang Paman yang sekarang sudah kabur entah ke mana. Pamannya kabur dengan membawa lari uang perusahaan sehingga perusahaan Cansu di ambang kebangkrutan karena tidak sanggup membayar berbagai tagihan dan gaji karyawan yang ternyata sudah menunggak sekitar 3 bulan. Cansu akan mengawasi sendiri penggunaan uang yang Farel berikan kepadanya.
"Mulai sekarang kita adalah rekan. Satu bulan dari sekarang kita akan menikah, aku akan mentransfer semua saham yang aku beli dari perusahaan kamu, menjadi hak milik kamu." janji Farel. Cansu hanya menggangguk saja. Percaya dengan apapun yang dikatakan oleh Farel.
"Farel, katakan padaku, kenapa kamu melarang aku mengakuisisi perusahaan ini dengan Bramantyo Groups? Bukankah sama saja?" tanya Cansu heran. Mereka berada di ruangan Cansu.
Farel memeluk Cansu, Cansu menyenderkan kepalanya di bahu Farel. Mereka tampak seperti pasangan bahagia.
"Kakek saya adalah orang yang berambisi. Jika kelak dia berubah pikiran, Kakek bisa merebut perusahaan kamu sehingga menjadi miliknya 100%. Pada akhirnya kamu akan kehilangan perusahaan kamu!" jawab Farel sambil memainkan ujung rambut Cansu.
Farel tidak mengerti kenapa dia sangat senang dengan bau rambut Cansu. Farel seperti pria bucin yang tidak bisa jauh dari sisi Cansu.
"Tapi kamu jadi keluar uang pribadi kamu buat nyelamatin perusahaan aku." ucap Cansu sedih.
"Ya, gak apa-apa sayang! Buat kamu, aku rela berikan apa saja. Asal kamu bahagia." ucap Farel dan mencium pucuk kepala Cansu.
Hati Cansu menghangat diperlakukan selembut itu. Farel sudah tampan, baik hati juga rela berkorban untuk dirinya. Hati wanita mana yang tidak meleleh? Mengeluarkan uang 10 Triliun dalam waktu 1 detik, seperti ngeluarin upil di hidung dia saja. Cansu jadi gemes!
Cup!
Cansu mencium pipi Farel sekilas, Farel tersipu dan meraup wajah Cansu. Farel tidak akan merasa puas hanya dengan cium pipi. Farel ******* bibir Cansu yang selalu menggoda imannya. Cansu hanya pasrah dalam kuasa Farel. Ciuman Farel lama-lama semakin menuntun. Kalau bukan karena ketukan pintu di luar ruangan Cansu, mungkin mereka akan kebablasan.
"Siapa?" tanya Cansu gugup.
"Bu, bagaimana dengan perwakilan Bramantyo Group? Mereka di ruang meeting sudah menunggu selama dua jam." itu adalah suara sekretaris Cansu.
__ADS_1
"Ayo kita temui mereka. Aku akan dampingi kamu sebagai asisten pribadi kamu!" Farel bangkit dari kursi lalu menggandeng tangan Cansu dengan posesif. Farel tampak bucin sekali dengan Cansu. Sepanjang perjalanan ke ruang meeting, Farel menggenggam tangan Cansu.
"Selamat siang! Maaf sudah membuat kalian menunggu lama!" ucap Cansu sambil bersalaman dengan Reynaldi. Adik tirinya Farel.
"Ya, tidak apa-apa. Saya mencoba pahami, Anda pasti sibuk!" lirik Reynaldi usil kepada sang kakak yang dari tadi tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Posesif sekali. Farel memang kaya begitu, kalau sudah jatuh cinta tidak perduli dengan tempat dan situasi. Menunjukkan cintanya kepada publik tanpa ragu.
"Maaf sebelumnya, perusahaan ini sudah mendapatkan dana segar. Jadi kami memutuskan untuk membatalkan rencana akuisisi!" ucap Cansu.
Reynaldi terkejut mendengar penuturan Cansu. Reynaldi memberi kode kepada kakaknya, bertanya apa itu perbuatan dirinya. Tapi Farel hanya mengedikkan bahunya dengan cuek.
"Baiklah, semoga suatu saat kita bisa bekerja sama dalam hal yang berbeda!" Reynaldi menyalami Cansu dan berniat pergi dari perusahaan Cansu. Farel langsung menepis tangan Reynaldi, tidak memperbolehkan mereka bersalaman.
"Mau pulang, pulang aja deh! Gak usah pegang-pegang segala!" ucap Farel sambil cemberut.
"Ya ampun! Dasar bucin!" ucap Reynaldi sewot lalu keluar dari ruangan meeting.
"Biarin! Sama calon istri sendiri!" ucap Farel.
Farel mengangkat tangan Cansu yang saat ini dia genggam, memamerkan cincin sang Nenek yang sekarang tersemat cantik di jari manis Cansu.
"Itu bukannya cincin keluarga besar kita, ya? Hanya Nyonya Bramantyo yang bisa menggunakan itu." ucap Reynaldi serius.
"Mamah aku yang berikan cincin ini, sebelum beliau meninggal. Mamah bilang, aku harus kasih cincin ini ke wanita yang aku cintai!" Farel mencium tangan Cansu yang saat ini dalam genggaman tangannya.
"Apa kalian serius saling mencintai?" tanya Reynaldi tampak tidak percaya.
"Satu bulan lagi kami akan menikah. Nanti malam aku akan mengadakan pesta pertunangan di manstion pribadi aku. Kamu datang, ya. Bawa semua keluarga kita. Biar mereka tahu bahwa aku sudah laku. Tidak bersedia di jodohkan dengan siapapun!" ucap Farel serius.
__ADS_1
"Baiklah, nanti malam aku bawa semua keluarga kita. Apa Mas Farel juga mengundang keluarga Suganda?" tanya Reynaldi agak ragu.
"Ya, anak buahku pasti sudah mengantarkan undangan ke sana." jawab Farel asal jeblak saja. Padahal Farel hanya mengundang sahabat dan orang-orang terdekat saja. Pesta mendadak seperti itu, bagaimana mau mencetak undangan?
Cansu hanya diam saja, mendengarkan interaksi kakak beradik yang lebih pantas seperti percakapan dengan rekan bisnis.
Farel memang orang yang sangat serius. Cansu heran, Farel selalu bermanja-manja kalau berdua dengannya. Tapi kalau sudah bersama orang lain, sikap CEO arogan langsung keluar darinya. Aura dingin dan tak terbantahkan.
"Ya sudah, aku kembali ke kantor dulu. Melaporkan hasil meeting kita tadi ke petinggi perusahaan Bramantyo Group. Siap-siap kena omel Kakek, karena gagal mengakuisi perusahaan ini!" keluh Reynaldi tampak kurang bersemangat.
"Maafkan saya, Reynaldi!" ucap Cansu jadi merasa tidak enak. Niat Cansu mau bersalaman dengan Reynaldi di halangi oleh Farel.
"Cuma salaman doang!" protes Cansu.
"Gak boleh! Cuma aku yang boleh pegang-pegang kamu!" ucap Farel urakan.
"Dasar bucin!" Reynaldi berlalu dari hadapan Farel dan Cansu. Sebal lihat kelakuan kakaknya kalau lagi jatuh cinta. Kayak dunia cuma milik dia. Semua orang di muka bumi dia anggap pengontrak saja. Dasar bucin!
"Ayo sayang, kita ke manstion pribadi aku. Kita persiapkan pesta pertunangan kita nanti malam!" Cansu hanya mengikuti Farel. Bagaimanapun sekarang dirinya terikat kontrak dengan Farel.
"Kamu ngundang siapa aja?" tanya Cansu.
"Hanya teman dekat. Kamu boleh undang siapapun yang kamu mau. Undangan digital saja. Kita kalau mau cetak undangan kayaknya gak bisa. Waktu Hany tinggal beberapa jam." ucap Farel.
"Lalu bagaimana dengan makanan dll?"
"Jangan khawatir, aku sudah kasih kepada EO milikku. Makanan juga sudah beres. Nanti orang-orang restoran milikku yang akan menyiapkan segalanya!" ucap Farel santai.
__ADS_1
"Asik yah, bertunangan sama konglomerat. Semua serba mudah!" ledek Cansu yang hanya di tanggapi senyuman oleh Farel.
Farel memang memiliki banyak usaha. Restoran, hotel berbintang lima, EO dan WO, cafe dan beberapa counter hape kecil-kecilan. Semuanya dia rintis tanpa nama Bramantyo Group. Oleh karena itu, Farel sama sekali tidak takut dengan Kakeknya. Farel punya taring sendiri di luar jabatan dirinya di Bramantyo Group.