Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
60. Kembali Terpuruk


__ADS_3

Sementara itu Siska yang kini berada di kediaman Hutama, terus terdiam menatap calon suaminya yang saat ini sedang menatap dirinya.


"Saya rasa pernikahan putra dan putri kita bisa dilanjutkan!" ucap istrinya pak Hutama.


"Lihatlah mereka berdua, seperti sudah terpaku satu sama lain. Dari tadi terus saling menatap!" ucapan Hutama dengan senyumnya yang khas.


Mendengar hal itu, Siska otomatis langsung memalingkan wajahnya ke arah lain begitu juga dengan Prabowo calon suami Siska.


"Iya saya juga sangat cocok dengan Prabowo, tampaknya mereka akan menjadi pasangan yang serasi!" ucap ibunya Siska dengan bangga.


"Maafkan saya, saya tidak bisa menikah dengan putra anda. Karena saya ini sudah tidak Suci lagi. Selama ini saya adalah penganut paham **** bebas. Kehidupan saya adalah kehidupan malam dan bebas bergaul dengan siapapun. Saya yakin kalian tidak akan bisa menerima perempuan seperti saya sebagai istri dari Putra anda yang berharga!" ucap Siska to the point.


Siska kemudian meninggalkan kediaman Hutama tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh mereka semua. Tampak kedua orang tua Siska geram melihat kelakuan Putri mereka yang sangat keterlaluan.


"Maafkan saya, saya permisi dulu!" Prabowo langsung pergi meninggalkan mereka semua dan mengejar Siska yang kini sedang berusaha untuk menghentikan supir taksi yang melintas di kediaman Hutama.


"Siska, Siska Apakah kita bisa berbicara sebentar?" Prabowo berusaha menarik tangan Siska ke arahnya, walaupun Siska Sudah berapa kali menempiskan tangannya.


"Ada apa lagi? Bukankah aku sudah mengatakan apa yang harus kukatakan padamu?" tanya Siska tampak malas melayani Prabowo.


"Aku tidak peduli dengan apapun yang kau katakan. Yang jelas, aku mencintaimu aku pasti akan memperjuangkan untuk menikah denganmu!" Prabowo sambil menggenggam tangan Siska.


"Saya rasa kamu ini adalah orang yang sakit jiwanya. Bagaimana mungkin kau bisa menerima perempuan seperti aku?" ucap Siska sambil berlalu dari hadapan Prabowo dan langsung naik ke taksi yang dihentikan.


"Orang aneh! Aku sudah menceritakan semua Hidupku yang kelam, dia masih bersikeras ingin menikah denganku!" gerutu Siska sepanjang jalan.


"Itu pasti karena pemuda itu sangat mencintaimu, makanya dia tidak peduli dengan masa lalumu!" tiba-tiba sopir taksi itu menimpali ucapan Siska.

__ADS_1


Siska memutar bola matanya dengan malas, kemudian menatap tajam sopir taksi yang kini melihatnya dari kaca spion.


"Anda sebaiknya bekerja saja dengan baik, nyupir yang baik! Tidak usah ikut campur urusan saya!" ucap Siska dengan Ketus.


"Anda sebagai seorang perempuan benar-benar sangat Ketus dan tidak punya sopan santun terhadap orang lain!" sopir taksi itu langsung mengatakan apa yang dia pikirkan tentang Siska.


"Berhenti Pak saya tidak mau menggunakan jasa anda lagi!" ucap Siska dengan emosi tingkat tinggi.


Tetapi Sopir itu tidak mau juga berhenti. Dia terus saja melajukan kendaraannya sampai tujuan yang tadi dikatakan oleh Siska saat dia naik ke dalam kendaraannya.


Begitu sampai di tempat tujuan yang diinginkan oleh Siska, Sopir itu Tuhan menghentikan mobilnya.


"Lain kali, Anda tidak usah memperdulikan urusan orang lain karena itu pasti akan menghambat rezeki anda!" ucap Siska dengan mata merah karena amarah, dan kemudian melemparkan uang Rp200.000 kepada Sopir itu.


"Ambil saja semua kembaliannya buat anda!" ucap Siska kemudian langsung pergi meninggalkan sopir taksi itu yang masih menatap uang yang tadi diberikan oleh Siska.


Begitu sampai di taman itu, Siska langsung mencari keberadaan Bejo. Biasanya Bejo selalu berada di situ, karena sejak 1 bulan ini Bejo memang bekerja di taman itu.


" Bejo Aku ingin bicara denganmu!" ucap Siska ketika melihat Bejo yang sedang sibuk membereskan bunga-bunga di taman itu.


"Ada apa lagi kau menemuiku? Bukankah pernikahanmu dengan keluarga Hutama sudah dipersiapkan?" ucap Bejo tidak mau melihat ke arah Siska.


Hati Siska saat ini sedang tidak karuan. Oleh karena itu, dia Ketus kepada semua orang. Kecuali kepada Bejo dia bisa bersikap manis.


"Dari mana kau tahu? Kalau aku sedang mempersiapkan pernikahan dengan keluarga Hutama?" tanya Siska tampak kaget.


"Tadi aku ke kediamanmu. Aku berniat untuk melamarmu secara langsung kepada kedua orang tuamu. Tetapi di sana, aku mendapat suatu kenyataan, bahwa ternyata kamu sudah mempersiapkan pernikahanmu dengan keluarga Hutama!" ucap Bejo sambil melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Bisakah kau berhenti bekerja dulu? Mari kita bicara!" pinta Siska sambil menarik tangan bejo untuk mengikutinya menuju sebuah kursi di taman itu.


"Aku sedang bekerja aku tidak bisa seenaknya sepertimu. Aku bukan Tuan Putri sepertimu yang bebas melakukan apapun!" tolak Bejo sambil menghempaskan tangan Siska yang menggenggam tangannya.


Tetapi tampaknya Siska tidak memperdulikan. Apa yang diucapkan oleh Bejo. Dia terus saja menarik Bejo dan memaksanya untuk duduk di kursi taman yang tidak jauh dari sana.


"Cepat katakan apa yang kau inginkan!" ucap Bejo sambil menatap lurus ke depan.


"Tataplah Mataku! Aku Ingin Kau melihatnya Aku ingin kau melihatku!" ucap Siska sambil menarik tubuh Bejo untuk berhadapan dengannya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan? Bukankah kamu tinggal menikah saja dengan laki-laki itu. Dan hidupmu akan bahagia bersamanya!" ucap Bejo penuh dengan emosi. Bejo tidak ingin menambah rasa sakit hatinya dengan memperdalam harapannya kepada Siska.


"Yang aku cinta itu kamu. Aku tidak mau menikah dengan Prabowo!" ucap Siska sambil menggenggam tangan Bejo.


"Kita baru tidur satu kali. Jangan katakan padaku kalau kau terpesona padaku gara-gara itu!" ucap Bejo dengan dingin dan sinis. Demi mendengarkan apa yang dikatakan oleh Bejo hati Siska rasanya sangat sakit. Air matanya mulai berderai.


"Apakah seperti itu penilaianmu terhadapku?" tanya Siska sambil mengguncangkan tangan Bejo. Bejo kesulitan untuk menelan salivanya sendiri, ketika melihat Air Mata Di Pipi Siska.


"Apakah benar seperti itu penilaianmu terhadapku?" Siska kembali mengulang pertanyaannya.


"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Siska! Pulanglah dan menikahlah dengan keluarga Hutama Lupakanlah aku!" ucap Bejo kemudian meninggalkan Siska seorang diri.


Bejo memang sengaja bekerja di taman itu, agar menenangkan hatinya yang selalu gundah Gulana. Apabila ada masalah di perusahaannya maka sekretarisnya akan mencarinya melalui sambungan ponsel.


"Siska, semoga saja kau bisa menemukan kebahagiaanmu dan bisa melupakan masa lalumu!" doa tulus terucap dari bibir Bejo untuk Siska, wanita yang pernah singgah dalam hidupnya walaupun hanya sesaat.


Tampak bulir bening mengalir dari kelopak matanya. Tetapi Bejo langsung menepisnya dan melanjutkan kembali pekerjaannya. Yaitu merapikan taman-taman bunga sehingga menjadi taman yang indah.

__ADS_1


__ADS_2