
Prawira mencari keberadaan istrinya yang sejak tadi dia cari tidak juga ketemu.
" Lebih baik aku menghubunginya Siapa tahu mungkin dia sudah ada di rumah!" ucap Prawira dengan rasa khawatir.
Berkali-kali Prawira menghubungi istrinya tetapi tidak juga diangkat.
" Ya ampun ke mana perempuan itu? Benar-benar membuat khawatir!" ucap Prawira kepada dirinya sendiri.
Di saat Prawira sedang bingung memikirkan tentang istrinya tiba-tiba saja dia mendapatkan telepon dari nomor asing.
" Nomor siapa ini?" tanya Prawira bingung.
" Halo siapa ini?" tanya Prawira dengan suara yang tidak bersahabat.
" Halo Anda tuan Prawira kan saat ini istri anda ada bersama saya Kalau anda ingin keselamatan istri anda terjamin segera siapkan uang 2 miliar dan kirimkan kepadaku sore ini!" ucap seorang laki-laki di seberang sana.
" Brengsek! Heh, siapa kau? Berani-beraninya kau berurusan dengan seorang Prawira!" teriak Prawira dengan kesal kepada penelpon itu.
" Kau dengarkanlah suara istri tercintamu agar kau percaya bahwa dia berada di tanganku!" ucap laki-laki itu kemudian dia mendekatkan ponselnya untuk mendekat ke arah istrinya yang saat ini sedang dibekap.
" Kalau kau berani macam-macam kepada istriku! Percayalah kau tidak akan melihat matahari besok pagi!" ucap Prawira dengan menggeram kesal.
Tetapi laki-laki itu langsung menutup teleponnya tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh Prawira.
Prawira kemudian mencari tim it-nya untuk bisa melacak nomor telepon yang tadi menghubunginya.
" Cepat kau lacak keberadaan nomor ini sekarang juga!" perintah Prawira kepada tim IT yang saat ini sedang bekerja.
" Baik Tuan! Silakan berikan nomor teleponnya kepada saya!" ucap pria itu kepada Prawira.
Prawira kemudian memberikan ponselnya kepada laki-laki tersebut yang langsung mengerjakan apa yang dia perintahkan.
Sekitar 30 menit kemudian laki-laki itu melaporkan hasil pekerjaannya kepada Prawira.
__ADS_1
" Nomor ini aktif di sebuah apartemen di daerah Kemang tuan saya akan memberikan alamat pastinya kepada anda!" ucapnya sambil menuliskan alamat yang dia dapatkan dari alat pelacaknya.
Setelah mendapatkan alamat tersebut Prawira langsung meninggalkan ruangan IT.
" Ya ampun dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih sama sekali kepadaku padahal aku sudah memeras otakku untuk bisa membantunya!" ucap petugas it sambil menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Prawira yang tidak punya sopan santun menurutnya.
Kalau petugas itu tahu kalau saat ini Prawira Sedang pusing memikirkan istrinya yang diculik Mungkin dia tidak akan mengatakan hal seperti itu.
Prawira yang saat ini sedang mengejar waktu, dia langsung pergi dan bergegas ke tempat apartemen yang tadi diberikan oleh petugas IT perusahaan Bejo dengan membawa beberapa orang polisi bersamanya.
Begitu sampai di apartemen itu. mata Prawira terkesiap ketika melihat istrinya sekarang sudah berjalan dengan seorang laki-laki yang sangat Dia benci selama ini.
" Mau apa pria Kurang ajar itu bersama dengan istriku?" ucap Prawira dengan menggeram.
istri Prawira langsung berlari kepada suaminya dan memeluknya dengan penuh rasa Haru.
" Ayahmu yang telah menolongku dari penculik itu sekarang penculik itu sudah dibekap di dalam apartemen dan polisi akan segera membawanya ke kantor untuk di penjara!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
" Terima kasih Karena papa sudah menolong saya!" ucapnya kepada ayah Arini.
" Tidak apa-apa Nak. Apa yang saya lakukan hal lumrah dan sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sesama manusia! kemarin aku melihatmu diseret paksa oleh laki-laki itu sehingga saya mengutus anak buah saya untuk mengikuti mereka sehingga saya bisa membebaskanmu dengan mudah!" ucap ayahnya Arini mengulas senyum kepada menantunya.
" Sayang kok Maafkanlah ayahmu. Dia sudah mencoba untuk mengorbankan nyawanya dan menolongku. Kau Lihatlah perut ayahmu yang terluka itu karena dia mencoba untuk menolongku ketika laki-laki itu hendak memperkosa aku!" ucapnya sambil terisak dalam pelukan Prawira.
Awalnya Prawira menatap sinis kepada ayahnya. Akan tetapi ketika mendengarkan penjelasan sang istri hati Prawira pun kemudian merasa berterima kasih karena kehormatan istrinya telah dijaga dengan mengorbankan tubuh ringkih sang ayah. Sehingga mengeluarkan banyak darah terlihat dari betapa merahnya kemeja yang saat ini digunakan oleh ayahnya.
" Sebaiknya kau segera pergi ke rumah sakit atau kau akan kehilangan banyak darah!" belum selesai Prawira mengatakan apa yang ingin dia katakan tiba-tiba saja ayahnya sudah pingsan di hadapannya.
Dengan sikap Prawira langsung menangkap tubuh ayahnya yang sudah pucat wajahnya karena kehabisan banyak darah.
" Cepat kalian tangkap penjahat itu dan dibloskan dia ke penjara aku akan membawa laki-laki ini ke rumah sakit!" ucap Prawira masih malas agensi untuk mengakui ayahnya Arini sebagai ayah kandungnya.
Dengan perasaan khawatir. Prawira pun kemudian menggendong tubuh ayahnya dan membawanya ke rumah sakit.
__ADS_1
" Tolong selamatkan laki-laki ini dia telah tertusuk oleh seorang penjahat dan sudah kehabisan banyak darah!" ucap Prawira kepada suster yang menerima kedatangannya di rumah sakit.
" Baiklah silakan Anda menunggu kami akan segera menangani pasien ini!" ucapnya kepada Prawira yang nampak panik bersama dengan istrinya kini menunggu ayahnya Arini.
Tidak lama kemudian keluar seorang suster menemui Prawira.
" Maafkan saya pasien telah kehilangan banyak darah apakah Di Antara Kalian ada yang memiliki darah yang sama dengan pasien? Tolong segera periksakan diri Anda dan berikanlah darah untuk menyelamatkan nyawanya!" ucap Suster itu terlihat panik.
" Saya anaknya saya akan mendonorkan darah saya untuknya Siapa tahu dah rasa cocok untuknya!" ucap Prawira dengan suara gemetar.
" Silakan Anda ke ruangan pemeriksaan agar bisa segera diperiksa Apakah darah Anda cocok dengan pasien atau tidak!" ucap sang suster sambil mengantarkan Prawira ke ruangan yang dia maksud.
Setelah melakukan beberapa tes akhirnya darah Prawira cocok dan diberikan kepada sang ayah yang saat ini sedang kritis.
" Terima kasih karena kau mau memberikan darahmu untuk suamiku!" ucap ibunya Arini ketika dia melihat suster membawa dua buah kantong darah masuk ke ruangan operasi di mana suaminya saat ini sedang ditangani oleh dokter.
Istrinya Prawira tadi menghubungi ibunya Arini untuk datang ke rumah sakit dan menceritakan segalanya kepadanya.
" Dia sudah menolong istriku sewajarnya aku membalas kebaikannya!" ucap Prawira tidak mau melihat kepada ibunya Arini.
" Percayalah padaku ayahmu sudah lama sekali ingin mencari Keberadaanmu dan juga ibumu akan tetapi dia selalu mengurungkan niatnya karena takut dengan ancaman dari kakekmu ayahmu sangat mencintai ibumu! dia tidak menemui ibumu agar keselamatan kalian terjaga dan bisa hidup dengan damai tanpa gangguan dari kakekmu!" ucap ibunya hari ini menjelaskan segalanya kepada Prawira yang tampak berkaca-kaca matanya.
" Aku akan memaafkannya kalau dia berhasil keluar dari ruangan itu dengan selamat dan menganggap dia sebagai ayahku!" ucap Prawira dengan suara gemetar karena menahan rasa haru yang ada di dalam hatinya.
" Terima kasih banyak aku yakin ayahmu pasti akan berjuang untuk bisa mendapatkan Maafmu dan menjadi ayahmu yang sesungguhnya!" ucap ibunya Ari dengan senyum yang begitu bahagia.
Prawira hanya diam mendengarkan ucapan ibunya Arini yang sangat bersahabat kepadanya.
' Mungkin sudah saatnya aku melepaskan ke dendam dan kebencian di hatiku yang sudah aku tanam lebih dari 30 tahun lamanya. Toh laki-laki itu juga sudah tua dan mungkin saja sebentar lagi akan mati!' batin Prawira.
Mendengarkan suara isi hatinya sendiri yang mengatakan bahwa ada kemungkinan sang ayah akan mati tiba-tiba saja hati Prawira merasa sakit dan sedih.
' Seumur hidup aku menginginkan untuk menjadi anak dari laki-laki itu. Kenapa setelah bertemu dia harus mati secepat itu?' tanyanya sedih kepada dirinya sendiri.
__ADS_1