
"Cepatlah mandi, Nona!" ucap Bejo lagi.
Arini bangun dari atas tubuh Bejo yang tadi memeluk pinggangnya. Wajah Bejo memang tampan. Pantas saja sukses membuat Arini ketar ketir. Apalagi mereka berdua terkurung di kamar hanya berdua saja.
"Gila nih bodyguard, bikin gue lupa sama Reynaldi" umpat Arini dalam hati.
"Kuatkan imanku, Ya Allah! Gue di kurung ma cowok seganteng ini. Oh no....!" Arini terus menggelengkan kepalanya, berusaha keras agar otaknya tetap untuk berpikir waras.
Visualisasi Arini Suganda
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Bejo heran.
"Aku akan mandi, awas kau kalau mengintip! Aku laporin kau sama Papahku!" ancam Arini.
"Gue harus cari cara buat kabur dari bodyguard sombong itu, bisa jantungan gue kalau lama-lama bersama dia!" Arini terus bermonolog sendiri.
"Nona, apakah masih lama? Cepatlah, saya juga butuh ke toilet!" ucap Bejo di balik pintu.
"Rasain! Akan aku kerjain dia! Hehehe!" Arini tersenyum licik, lalu dia mengambil kunci kamar mandi tersebut dan menyembunyikan di balik pakaiannya. Dengan santai Arini membuka pintu kamar mandi, Bejo yang melihat nona mudanya hanya menggunakan handuk, jakunnya naik turun.
Bagaimanapun dirinya hanya seorang manusia biasa. Melihat yang mulus-mulus pasti ke pancing juga. Tapi dirinya sedang menahan hajat sehingga tidak memperdulikan Arini yang terlihat mampu meruntuhkan jiwa ke lelakiannya.
Setelah Bejo masuk ke dalam kamar mandi, Arini langsung mengunci Bejo dalam kamar mandi. Bejo belum sadar dengan dirinya saat ini, karena masih fokus menyelesaikan hajatnya.
"Hehehe, rasain loe! Sekarang Gus harus mencoba buat Kabir dari sini." Arini mencoba membuka jendela kamarnya. Tapi sangat sulit sekali. Jendela kamarnya selama ini jarang di buka, jadi wajar kalau sekarang mengalami kesulitan saat akan membukanya. Arini sangat putus asa. Hilang sudah akal dan caranya untuk kabur.
__ADS_1
Kunci kamarnya di bawa oleh Bejo ke kamar mandi. Sekarang dia hanya bisa pasrah saja, menunggu Papahnya reda marahnya.
"Non, tolong buka pintunya! Kenapa saya di kunci di sini?" tanya Bejo agak panik.
"Loe tinggal di sana aja, gue mau tidur! Ngantuk!" sahut Arini gak perduli dengan panggilan Bejo.
Di luar sedang hujan besar, petir saling sahut menyahut, tiba-tiba lampu juga mati lampu. Arini sudah horor sendiri. Arini menyembunyikan dirinya di balik selimut. Tapi petir terus saling sahut menyahut. Arini memang sejak kecil sangat takut dengan suara petir.
"Aaaaaaa..... Tolong!" Arini berteriak saat petir terus saja bersahutan, Bejo yang ada di kamar mandi sudah sangat panik, takut Nona nya kenapa-kenapa. Kamar Arini memang kedap suara, makanya orang di luar kamarnya tidak bis mendengar suara Arini.
Itu memang permintaannya, karena Arini paling tidak suka dengan gangguan dari luar.
"Non, cepat buka pintunya! Supaya saya bisa menolong Anda!" ujar Bejo sekali lagi.
Ketiak suara petir datang lagi, Arini auto meloncat dari kasur lalu membuka kunci kamar mandi. Arini langsung lari ke pelukan Bejo. Arini menangis.
"Tenang, Non! Ada saya disini. Ayo Non berbaring saja. Saya akan menemani Non, jangan takut, Ok?" Bejo membimbing Arini untuk berbaring di kasurnya, tapi Arini yang ketakutan, tidak mau melepaskan genggaman tangannya.
Arini memeluk Bejo dengan erat. Bejo tidak ada pilihan lain, selain mengelus-elus punggung Arini supaya Arini bisa tenang. Suara petir dan hujan seakan tidak mau berhenti.
"Tidurlah, Non! Saya akan menjaga Non disini. Jangan takut!" Arini membaringkan tubuhnya di kasur, menutup matanya. Tapi tangannya masih memeluk Bejo.
'Ya Allah, cobaan apakah ini? Tolong kuatkan iman hamba, agar tidak merusak Non Arini!" Tak henti-hentinya Bejo berdoa. Walaupun Bejo sudah berusaha tapi tetap saja jiwa kelelakiannya berontak juga. Setengah mati Bejo berusaha meredam hasrat yang tiba-tiba muncul.
'Sial! Non Arini kenapa harus kayak gini, sih? Nyusahin saya aja!' rutuk Bejo dalam hati.
"Aku harus bagaimana ini?" tanya Bejo pada diri sendiri. Arini sudah lelap dalam tidurnya. Tapi Arini masih memeluk tubuh Bejo dengan erat.
__ADS_1
Bejo tidak bisa berkutik. Akhirnya, karena dirinya juga sangat lelah, bejopun akhirnya terlelap dengan memeluk Arini. Kamar dikunci dari dalam oleh Bejo, jadi Bejo bisa tidur dengan nyenyak.
Orang tua Arini tampaknya tidak khawatir dengan anak gadisnya. Tadi setelah meminta Bejo untuk mengurung Arini, mereka malah pergi keluar kota. Mengurus bisnis mereka. Ibu Arini yang selalu takut suaminya tergoda pelakor, selalu mengikuti kemanapun sang suami pergi.
Itulah sebabnya Arini di kamar berdua dengan Bejo tapi tidak ada yang perduli sama sekali. Reynaldi sudah pulang ke rumahnya.
Setelah bertemu dengan Farel, Reynaldi memilih untuk tidur di kapal pesiar miliknya. Reynaldi memang lebih bahagia hidup bebas, daripada harus terikat dengan aturan keluarga besarnya.
Apalagi selama ini posisi Reynaldi hanya sebagai anak haram. Mau sekeras apapun dia berusaha, tidak akan ada yang menghargainya.
"Kapan gue bisa jalan-jalan lagi ya, Gue kangen ma Turkey. Mas Farel udah balik, gue bisa tenang ninggalin perusahaan pada pewaris nya. Sekarang gue cuma perlu mikirin gimana ngurusin masalah Arini. Sungguh masalah gak ada habisnya!" keluh Reynaldi sambil menyesap Wine di tangan kanannya. Reynaldi hanya ingin menikmati hidupnya saja. Kebebasan yang dia impikan.
"Reynaldi, ko loe sendirian aja di sini?" tanya Siska yang entah datang dari mana, tiba-tiba sudah ada di depan Reynaldi.
"Ko loe tahu gue disini?" tanya Reynaldi masih dalam keadaan sadar. Siska mendekati Reynaldi.
"Tadi ketemu sama Farel, waktu isi BBM, dia yang bilang, kalau loe ada disini. Kenapa? Loe lagi ada masalah?" tanya Siska sambil menuangkan wine ke gelas di depannya.
"Gue cuma rindu buat berlayar lagi! Tapi nyokap gue selalu marah, kalau gue berniat pergi! Hidup gue di sini gak bahagia!" ucap Reynaldi mulai mabok. Siska paling paham hobby Reynaldi yang suka berlayar untuk berkeliling dunia.
Dahulu, sekitar tiga tahun lalu, dirinya, Reynaldi, Arini dan Farel, pernah berlayar bersama ke pulau Bahama. Sungguh pengalaman yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
Siska sebenarnya sangat mencintai Reynaldi. Tapi Reynaldi hanya cinta sama Arini. Gak ada tempat bagi Siska di sudut hati Reynaldi. Itulah yang membuat Siska sedih malam ini.
Siska tahu kesedihan Reynaldi pasti gak jauh-jauh berkisar dari Arini. "Arini lagi?" tanya Siska ketus.
"Orang tua Arini, ngurung dia di kamarnya. Mereka gak akan pernah merestui hubungan gue sama Arini! Hiks hiks! Gue harus gimana sis? Gus cinta banget sama Arini!" Reynaldi menangis tersedu-sedu. Siska yang sebenarnya marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Siska hanya berusaha menghibur Reynaldi dengan menemaninya saja. Agar tidak melakukan hal-hal bodoh.
__ADS_1
Malam itu, Reynaldi minum hampir empat botol. Sudah mabuk berat. Siska membawa Reynaldi ke kamar yang ada di kapal pesiar itu. Di sana ada dua kamar mewah, berfasilitas lengkap layaknya hotel bintang lima. Siska menuntun Reynaldi ke kamarnya, setelah itu dia tidur di kamar satunya.
Secinta apapun dirinya kepada Reynaldi, tidak akan pernah memanfaatkan keadaan terlemah Reynaldi saat ini. Tidak akan!