Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
6. Farel memilih Cansu


__ADS_3

Farel yang mendapatkan penolakan dari Cansu, semakin mengeratkan pelukannya. Dia tidak mau pergi dengan Reynaldi yang mengaku sebagai adiknya. Bagaimanapun Farel lebih senang dekat dengan Cansu. Tidak mau berpisah dengannya.


"Mas! Kamu keterlaluan deh, masa lebih milih Cansu dari pada aku adik kamu yang tampan ini?" demi mendengar kata-kata Reynaldi yang terkesan lucu, Cansu yang tadinya akan marah pada Farel malah tertawa.


"Kenapa kau tertawa? Kau bahagia sekali di pilih Abangku yang tampan ini!" Reynaldi kembali misuh misuh.


"Kamu! Adik gak ada akhlak! Beraninya kamu marahin calon kakak ipar kamu!" Farel sekarang berdiri dan berkacak pinggang. Tidak terima Cansu di marahin oleh Reynaldi, pria yang mengaku sebagai adiknya.


"Mas! Kamu itu sudah punya tunangan. Namanya Arini Suganda. Jangan bicara ngawur begitu, Ok!" Reynaldi yang sudah kesal malah keceplosan dengan masalah pribadi sang kakak.


"Jadi benar yang ada di berita? Kalau Farel sudah bertunangan?" Cansu menatap Farel dengan sendu. Menjauhkan dirinya dari Farel. Tapi Farel tidak membiarkan Cansu menjauh darinya. Dia memeluk pinggang Cansu dengan erat.


"Waktu itu harusnya Mas Farel bertunangan dengan Arini. Tetapi dia pergi meninjau lokasi proyek yang baru, tetapi pada akhirnya tidak pernah kembali. Oleh karena itu, pertunangan di pending sampai Mas Farel di temukan." Farel yang mendapatkan kenyataan tentang masa lalunya mulai berpikir, apa yang harus dia lakukan sekarang. Tetapi dia sudah mulai mencintai Cansu. Tidak mau berpisah dengan gadis yang sudah menyelamatkan dirinya.


"Pulanglah Farel. Keluarga dan tunangan kamu menunggu kamu!" Cansu berusaha membujuk Farel untuk ikut dengan Reynaldi, adiknya.


"Kamu mengusir aku? Kamu pasti bosen sama aku kan? Makanya mau aku pergi!" Tuduh Farel.


"Bukan begitu. Tapi kamu ada keluarga yang mencari. Ada juga tunangan yang mencintai kamu." Suara Cansu tercekat di kerongkongan. Rasanya pilu, mengucapkan kata-kata tadi.


"Aku gak mau menikah selain sama kamu!" Farel tetap keukeuh tidak mau pergi. Reynaldi yang melihat kakaknya begitu menempel pada Cansu merasa aga bahagia. Loh, kok bisa? Iya. Reynaldi sebenarnya memiliki rasa bagi Arini. Mereka adalah teman sekelas sejak SD sampai kuliah saja bersama terus.


Tetapi orang tua Arini yang seorang pengusaha dan konglomerat. Menginginkan Arini untuk menikah dengan Farel, yang notabene seorang pewaris Bramantyo Groups. Reynaldi yang anak dari hasil pernikahan ke dua, tidak di anggap bagian keluarga oleh sang Kakek. Yang merupakan ayah dari mamahnya Farel.


Mamahnya Farel meninggal saat melahirkan. Mamahnya yang mengurus Farel sejak bayi. Tapi sang Kakek Farel selalu menganggap mamahnya orang asing.

__ADS_1


Bramantyo Groups memang awalnya adalah milik kakeknya Farel dari pihak ibu. Ayah Farel yang memang berbakat dan piawai dalam hal bisnis, tetap diberi wewenang oleh sang Kakek, dengan catatan kelak yang jadi pewaris harus Farel Bramantyo. Cucu dan darah kandungnya sendiri.


Itu tertuang dalam perjanjian yang ditandatangani oleh keduanya. Farel adalah putra mahkota keluarga Bramastyo. Sebab itu keluarga Arini hanya ingin putrinya untuk menikah dengan Farel.


Reynaldi dan Arini sebenarnya saling mencintai. Tapi apalah daya, orang kaya seperti mereka tidak sanggup melawan kemauan orang tua yang lebih mementingkan urusan bisnis keluarga daripada kebahagiaan anaknya.


Apabila bisnis keluarga Bramastyo dan Suganda digabungkan, maka akan menjadi sebuah kerajaan bisnis yang semakin besar di negeri ini. Bisnis yang menggurita di mana-mana.


"Tapi Mas Farel harus pulang ke rumah. Papah dan Kakek pasti sangat bahagia." Reynaldi masih berusaha membujuk sang kakak yang keras kepalanya melebihi batu.


"Gak mau! Aku gak mau berpisah dengan Cansu. Kalau aku pulang, pasti di paksa buat menikah sama perempuan yang tidak aku cintai. Arini buat kamu saja. Aku gak berminat sama dia." Farel sudah mulai tenang sekarang. Jadi sudah bisa bicara agak masuk akal sekarang.


"Orang tua Arini, maunya menikahkan Putri mereka sama kamu, Mas!" ucap Reynaldi sendu.


Hati Farel saat ini sedang tertaut pada Cansu, tidak berminat dengan wanita lain. Farel memang belum ingat masa lalunya. Sebab itu dia tidak mau ikut Reynaldi pulang ke rumah mereka.


"Pulanglah! Jangan ganggu kami lagi!" usir Farel dan menggamit tangan Cansu dan membawanya pergi meninggalkan Reynaldi yang masih bengong.


"Mas, aku boleh cerita sama papah mamah tidak, soal pertemuan kita?" tanya Reynaldi sambil mengekor di belakang Farel.


"Jangan coba-coba! Aku gak mau siapapun tahu keberadaan diriku di sini. Paham?" Farel lalu masuk ke eksavator dan membawa Cansu ke ruangannya. Cansu sampai saat ini masih bingung. Bagaimana mungkin, Farel lebih memilih dirinya dari pada keluarga Bramastyo? Sungguh di luar nalar sehat.


"Kamu aneh banget! Ada keluarga kaya kamu datang, bukannya bahagia dan pulang, malah keukeuh di sini. Aneh banget sih jadi orang?" Cansu duduk di kursi kebesarannya dan geleng-geleng kepala. Tingkah Farel memang membuat dia kehabisan ide untuk mengusir pria itu dari hidupnya.


"Aku gak mau berpisah sama kamu. Kamu sadar gak sih? Aku cuma cinta sama kamu. Gak mau menikah sama wanita selain kamu!" Farel duduk santai di depan meja Cansu.

__ADS_1


"Tapi setidaknya, kamu pulang dulu ke rumah kamu. Mengabari keluarga kamu. Mereka pasti merindukan dan kwatir dengan kamu." Cansu menatap wajah Farel yang tampak diam dan terus menatap dirinya. Cansu jadi salah tingkah. Mengin kembali ciuman pertamanya dulu sama Farel.


"Kenapa wajah kamu merona? Pasti sedang mikirin yang jorok-jorok ya?" Farel asal tebak saja.


"Apaan? Gak kok!" Cansu bangkit dari kursinya dan menarik tangan Farel agar keluar dari ruangannya.


"Kamu keluar ya, aku mau melanjutkan pekerjaan aku. Pak Reynaldi tadi meminta proposal investasi yang akan perusahaan aku ajukan. Aku butuh konsentrasi. Kalau kamu disini, cuma ganggu aja!"


"Kamu ngusir aku?" Farel tidak terima dirinya di cap sebagai pengganggu oleh Cansu.


"Aku mau kerja Farel!" Cansu mendorong Farel ke dekat pintu. Memintanya pulang saja. Istirahat.


"Kasih cium dulu, baru aku mau pergi dari sini!" Cansu melotot sempurna mendengar permintaan konyol Farel.


"Ayolah! Aku cuma minta satu ciuman." Farel menarik turunkan alisnya, menggoda Cansu yang sudah kemerahan wajahnya, menahan malu.


"Jangan omong kosong deh. Cepat pulang sana!" usir Cansu sambil mendorong Farel agar keluar dari ruangannya. Bukan Farel namanya kalau berhasil di usir begitu saja. Dengan jahilnya, Farel malah mengunci Cansu dalam ruangannya, lalu mengunci tubuh Cansu dalam dekapannya.


"Kamu kenapa sih? Selalu mesum sama aku! Dasar penjahat kelamin!" Cansu kesal dibuatnya. Susah payah mau lepas dari Farel, tapi Farel berhasil ******* bibirnya lagi. Untuk ke sekian kalinya, Farel mencium dirinya lagi.


Cansu sudah lemas dibuatnya. Benar kata Reynaldi, Farel adalah Casanova kelas kakap. Ciumannya maut dan menghipnosis Cansu dalam pesonanya. Cansu sekarang malah membalas ciuman Farel yang menuntut lebih.


Saat tangan Farel mau melakukan lebih, Cansu langsung menendang kaki Farel dan membuka pintu ruangan miliknya, mengirim Farel untuk keluar dari ruangannya. Cansu mengunci ruangan agar Farel gak bisa masuk seenaknya.


Farel yang sekarang sudah di luar ruangan Candu, hanya bisa tersenyum senang. Cansu memang sungguh menggemaskan!

__ADS_1


__ADS_2