
Malam itu Papanya Arinii mengundang Reynaldi untuk makan malam bersama di rumahnya, untuk merayakan sidang perceraian yang sudah ketuk palu, sekaligus ingin menanyakan keseriusan Reynaldi terhadap Putri mereka.
"Selamat datang, di rumah kami!" Papanya Arini menyambut kedatangan Reynaldi. Reynaldi dan Arini juga merasa salah tingkah. Soalnya, dahulu ayahnya adalah orang yang pertama selalu menentang hubungan mereka berdua. Tetapi Reynaldi dengan percaya diri menyambut uluran tangan ayah dari wanita yang dia cintai.
"Terimakasih, Om! Atas undangan ini!" Mereka akhirnya makan malam bersama. Malam ini adalah malam bersejarah bagi Reynaldi. Untuk pertama kalinya, ayahnya Arini begitu ramah dan sopan kepadanya.
"Om ingin bertanya, apakah Reynaldi masih mencintai Arini?" tanya beliau. Arini menundukkan kepalanya, merasa malu dengan pertanyaan semacam itu.
"Bagi saya, Arini adalah segalanya, Om!" jawab Reynaldi sambil menggenggam tangan Arini.
"Baguslah! Datanglah kemari untuk melamar Arini, begitu masa iddah Arini selesai, Om akan merestui pernikahan kalian!" Reynaldi dan Arini terkejut dengan pernyataan ayahnya. Kedua orang tuanya saling melempar senyum.
"Papah, apa Papah serius?" Arini tampak belum percaya dengan apa yang dia dengar.
"Papa serius, datanglah bersama keluarga kamu!" tapi Reynaldi tiba-tiba tertunduk lesu.
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Papah saya pasti masih marah dengan saya. Karena saya sudah menghancurkan rencana pernikahan dengan Natalie. Saya masih dalam pelarian dari keluarga, Om!" Reynaldi kini menundukkan kepalanya, ada rasa sedih dLam hatinya, karena pada saat perjuangan cintanya hampir finish, ternyata sekarang malah pihak keluarga nya yang menjadi masalah.
"Tenanglah! Om dan Tante akan mendatangi keluarga kamu! Melamar kamu secara langsung!" ucap Papahnya Arini dengan yakin dan mantap.
"Seharusnya kami yang datang melamar, om!" ucap Reynaldi merasa aneh dengan niat calon mertuanya.
"Ini semua kesalahan Om! Jadi Om yang akan berusaha untuk membereskan semua kekacauan ini! Kamu tenang saja!" setelah pembicaraan serius itu, kedua orang tuanya Arini masuk ke kamar mereka.
Memberikan kesempatan kepada anaknya untuk bicara bersama dengan kekasihnya. Ah, kalau sikaf pengertian seperti ini sejak dulu di berikan, mungkin saat ini Arini dan Reynaldi sudah memiliki beberapa orang anak.
__ADS_1
Reynaldi dan Arini bergandeng tangan, berjalan menyusuri taman yang luas itu. Malam yang disinari rembulan, membuat Susana menjadi syahdu.
"Akhirnya kedua orang tua kamu merestui hubungan kit!" ucap Reynaldi sumringah.
"Tapi sayangnya, itu terlambat, ya kan?" ucap Arini sedih.
"Kita hanya harus berjuang sedikit lagi! Apa kamu tidak bersedia? Berjuang bersamaku? Demi cinta kita menjadi nyata!" Reynaldi meremas tangan Arini, menyalurkan perasaan cintanya.
"Aku rela memperjuangkan cinta kita! Aku rela menunggu kamu. Sampai kapan juga!" ucap Arini.
"Terimakasih!" akhirnya dua sejoli itu berjanji akan bertemu lagi keesokan harinya.
Sementara itu, Farel dan Cansu sudah bersiap untuk pindah ke rumah mereka, tetapi di tentang SH kedua orangtuanya Farel. Farel sampai marah karena hal itu.
"Kami akan tetap pindah ke rumah kami! Kalian kalau kangen sama cucu kalian, sebaiknya datang saja ke rumah kami!" Setelah mengatakan hal itu, Farel langsung menarik Cansu ke mobilnya. Barang-barang mereka sudah pergi dahulu ke rumah baru mereka.
"Apa kau tega, meninggalkan Mama? Reynaldi sudah pergi juga dari rumah ini!" ucap Mamanya Reynaldi dengan sendu. Ya, kini wanita itu sudah menyayangi Farel, setelah Farel memiliki seorang anak.
"Dasar anak durhaka memang!" ucap Papahnya yang kesal setengah mati dengan kelakuan Farel yang pergi tanpa seijin dirinya.
"Sudah, mereka memang sudah dewasa! Bukan hak kita lagi untuk mengekang kebebasan mereka?l!" akhirnya ucapan Kakeknya Farel berhasil menghentikan segala drama yang di tunjukkan oleh Papahnya.
"Apa Reynaldi belum ada kabar sama sekali?" tanya Kakek
"Belum! Kenapa memangnya, Pah?" tanya Papahnya Farel.
"Kamu terlalu keras dengan anak-anak kamu! Makanya mereka semuanya mental dari kamu!"
__ADS_1
"Pah, saya hanya ingin yang terbaik untuk mereka!"
"Yang terbaik menurut versi kamu, belum tentu terbaik menurut versi kedua anak kamu!" ucap Kakek.
"Papah memang benar! Ya sudah, nanti Saya akan mencoba untuk bicara dengan pihak keluarga Natalia. kalau kita akan membatalkan rencana pernikahan ini!Besok akan saya adakan konferensi pers! Semoga saja, Reynaldi melihat dan mau pulang ke rumah lagi!" ucap Ayahnya Reynaldi.
"Baguslah! Kau bawa kembali cucuku! Aku sudah merindukan dia!" ucap Kakek dengan wajah serius.
"Baiklah ayah! Ayah istirahat saja! Kami akan mengurus semua masalah ini! Jangan khawatir!"
"Baiklah, aku percaya kepadamu!" lalu Kakek masuk ke kamarnya. Istrinya mendekatinya.
"Apa kau serius, dengan rencana pembatalan pernikahan itu? Itu artinya akan kehilangan mitra bisnis, loh!" istrinya tanpak keberatan dengan keputusan suaminya.
"Anak kita tidak mau menikah dengan Natalie! Apa kamu lebih memilih mitra bisnis dari pada anak kamu?" hardik suaminya dengan tatapan horornya.
"Baiklah, terserah kepadamu!" kemudian mereka memutuskan untuk tidur, karena waktu memang sudah malam. Lelah setelah bekerja seharian.
Keesokan harinya Bramantyo group mengumumkan tentang pembatalan rencana pernikahan antara Reynaldi dan Natalia secara resmi di televisi dan internet. Pada saat itu Reynaldi pun kebetulan sedang menonton televisi. Reynaldi merasa sangat bahagia karena akhirnya kedua orang tuanya bisa terbuka pikirannya, untuk tidak memaksakan kehendak terhadap dirinya.
"Alhamdulillah! Akhirnya Papa dan Mama bisa juga mengerti perasaanku dan tidak memaksakan lagi kehendak mereka!" Reynaldi terus menatap ayahnya yang saat ini ada di televisi.
"Pulang Nak! Pulanglah ke rumah! Kami sudah sadar bahwa masalah pernikahan tidak bisa dipaksakan. Pulanglah karena kami sangat merindukanmu. Kami janji kami tidak akan memaksakan lagi masalah ini terhadap kamu!" Renaldy kemudian mematikan televisi dan bersiap-siap untuk kembali ke kediaman Bramantyo.
Sementara itu di kediaman Natalia, ayahnya Natalia marah dengan pengumuman resmi dari Bramantyo group tersebut. Merasa dirinya dipermainkan oleh keluarga Bramantyo.
"Kurang ajar! Mereka berani mempermainkan keluarga kita! Papa pasti akan memberikan mereka pelajaran!" ayahnya Natalia menggeram menahan amarah.
__ADS_1
"Udahlah Pah, nggak apa-apa! Lagi pula pernikahan tanpa cinta juga tidak akan bahagia. Masih banyak kok keluarga konglomerat di Indonesia, yang bisa menjadi calon suamiku Udahlah nggak usah mempermainkan masalah ini jangan bikin malu keluarga kita!" ucap Natalia sambil memegang tangan ayahnya yang mengepal.
" Kamu sungguh tidak apa-apa dengan penghinaan ini? Mereka pasti meremehkan keluarga kita makanya berani melakukan hal seperti ini! Papa tidak terima, karena anak gadis Papa dianggap sepele oleh keluarga itu!" ucap ayahnya masih dengan kemarahan.