
Setelah Farel sembuh dari sakitnya, Cansu mengajak Farel kembali ke Jakarta. Karena Farel sudah ingat siapa dirinya, dia minta di antarkan ke rumahnya. Cansu yang tidak tahu dimana rumah Farel, hanya bisa menghubungi Reynaldi, adiknya Farel. Kesehatan Farel masih harus di observasi. Cansu tidak mau ambil resiko dengan melepaskan Farel begitu saja.
"Kita tunggu adikmu sebentar." ucap Cansu pada Farel yang protes karena tidak langsung mengantar dirinya ke rumahnya.
"Aku bisa pergi sendiri ke rumahku, pakai taxi online. Kau pesankan saja, karena aku tak membawa ponselku." ucap Farel ngotot.
"Ayolah Pak Farel! Kami tidak mau gegabah melepaskan Anda. Kesehatan Anda saat ini sangat riskan. Tunggulah adikmu sebentar. Kami tidak mau nanti terjadi apa-apa kepadamu, dan kami yang disalahkan nantinya." Rukmana mulai hilang sabar dengan Farel yang keukeuh terus.
"Baiklah!" akhirnya Farel menyerah juga.
"Kita tunggu di ruanganku saja. Biar nanti Reynaldi di suruh ke sana." Farel sudah malas berdebat, jadi dia hanya mengikuti Cansu.
"Apa yang kamu ingat tentang kantor ini?" tanya Rukmana penasaran.
"Aku gak ingat apa-apa. Bukankah ini pertama kali aku menginjakkan kakiku disini?" tanya Farel polos dan menatap sekeliling. Farel tampak biasa saja.
"Sudahlah, Rukmana. Dia kembali mengingat identitas dirinya saja aku sudah senang banget. Jangan dipaksakan lagi untuk mengingat hal yang dia lupakan. Itu artinya hal itu gak penting buat dia." Cansu menghentikan Rukmana yang akan menceritakan kisahnya selama bersama kami.
Farel tampak bingung, "Apa ada yang kalian rahasiakan dariku?" Farel berhenti melangkah.
"Apa yang kami rahasiakan dari kamu?" Cansu tampak kaku dan terkesan malas menjelaskan.
"Aku sudah lapar, Rukmana, tolong pesankan makanan. Bawa ke ruanganku!" perintah Cansu.
"Semoga semua ini cepat berakhir, jadi aku bisa fokus dengan masalah perusahaan." ucap Cansu pada Rukmana.
"Ya, sejak kita bertemu Farel. Rasanya masalah tidak ada henti-hentinya. Lelah rasanya. Seumur-umur baru kemarin ngerasain di kejar-kejar mafia di jalanan. Udah kaya lagi syuting film Hollywood aja. Hehehe!" timpal Rukmana.
__ADS_1
Demi mendengar apa yang dikatakan oleh Rukmana, Farel berhenti melangkah dan menengok pada Cansu, "Maaf kalau sudah merepotkan kalian." Farel jadi tidak enak hati.
"Udah gak usah dipikirkan. Rukmana memang kayak gitu orangnya. Tapi dia orang baik kalau kamu sudah mengenal dirinya." Cansu tersenyum.
"Tapi Rukmana benar, aku sudah merepotkan kalian. Kelak aku pasti akan membalas kebaikan kalian padaku!" ucap Farel mantap.
"Jangan dengarkan omongan Rukmana, kami baik-baik saja. Tidak merasa direpotkan sama sekali. Sebagai sesama manusia kita harus saling menolong." Cansu mempersilahkan Farel untuk duduk di kursi, saat mereka sudah sampe di ruangan miliknya.
"Ah.. akhirnya bisa masuk ke sini lagi. Setelah lama meninggalkan ruangan ini." Ucap Cansu sangat bahagia. Farel mendengar hal itu.
"Cepatlah bawakan makanan, aku lapar sekali" Ucap Cansu pada Rukmana yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.
"Baiklah, kalian tunggulah sebentar!" Rukmana langsung pergi ke pantry, rencananya mau mencoba masak saja. Tapi saat tiba di pantry tidak ada apapun. Hanya berbagai macam minuman yang tersedia disana. Beberapa cemilan dan beberapa jajanan.
"Aku pesan makanan saja kalau begini caranya." Rukmana lalu mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan favorit Cansu. Rukmana menunggu makanan yang dia pesan di lobby perusahaan.
"Semoga semua ini cepat selesai. Kayak mimpi buruk saja. Semoga masalah Pak Farel dengan keluarganya segera selesai. Kasihan sih sama Cansu, pasti sakit rasanya di lupakan oleh orang yang dia cintai. Tapi lebih bagus sekarang, dari pada nanti-nanti ketika cinta semakin dalam. Pasti jatuhnya sakit banget." Reynaldi sudah hilang dari pandangan Rukmana dan pasti sekarang sudah sampai ke ruangan Cansu.
"Assalamualaikum." sapa Reynaldi ramah.
"Waalaikum salam!" jawab Cansu dan Farel kompak. Farel langsung berlari ke arah Reynaldi.
"Reynaldi, aku senang banget ketemu sama kamu. Ayo kita pulang, gue dah kangen banget sama kamar gue!" Fadel sumringah sekali, Reynaldi yang merasa bingung saat ini, memberi kode kepada Cansu tentang situasi sekarang.
"Malam itu kami dikejar-kejar oleh bodyguardnya Kakek kamu, saat itu Farel mengingat masa lalunya kembali. Tetapi dia melupakan masa setelah dia mengalami kecelakaan." Cansu menerangkan kondisi Farel saat ini.
"Abangku ini pasti syock banget waktu itu. Mungkin sebelum dia kecelakaan ada yang ngejar-ngejar dia juga. Biasanya kalau kasus kecelakaan itu, apabila menghadapi situasi yang sama, suka balik lagi memory sesaat sebelum kecelakaan." Cansu mengangguk dan setuju dengan opini Reynaldi. Tampaknya itulah yang terjadi pada Farel saat ini.
__ADS_1
"Reynaldi, bagaimana keadaan perusahaan setelah gue gak ada?" Farel kembali duduk di kursinya karena melihat Cansu dan adiknya duduk juga di kursi masing-masing.
"Semuanya aman! Tapi gue bosan, Mas! Aku senang banget akhirnya kamu kembali. Aku habis ini mau merencanakan akan berlayar ke Turkey. Mau liburan. Setelah hampir tiga bulan terkurung di ruanganmu yang sangat membosankan!" Reynaldi sudah mesem-mesem sendiri.
Merasa bahagia saat membayangkan dirinya akan berlayar ke Turkey. Reynaldi memang seorang petualang. Dia memiliki kapal pesiar mewah miliknya sendiri. Reynaldi suka berkeliling dunia dengan kapalnya tersebut.
Kalau bukan karena ambisi Mamahnya, Reynaldi saat ini pasti sudah ada di Australia. Berlibur di sana dengan bahagia.
"Tiga bulan? Apa selama itu aku pergi dari perusahaan?" Farel tampak kaget.
"Benar, Mas! Mas mengalami kecelakaan dan Amnesia. Kalau bukan karena Cansu yang berbaik hati menyelamatkan Mas, kita mungkin tidak akan pernah bertemu kembali." Farel lebih terkejut lagi dengan kenyataan tersebut.
"Aku baru dengar hal ini dari kamu. Mereka hanya bilang, kemarin mereka nemuin Mas di semak-semak dalam keadaan luka." Farel jadi bingung, mana keterangan yang benar.
"Sudahlah, lupakanlah hal buruk. Saya hanya tidak mau mengingatkan hal yang tidak menyenangkan kepada Anda. Saya senang, akhirnya Pak Farel bisa ingat identitas Pak Farel yang sesungguhnya." Sesaat kemudian Rukmana membawa makanan untuk mereka. Mereka makan siang dengan lahap.
Setelah selesai, Farel dan Reynaldi berpamitan kepada Cansu dan Rukmana. Cansu berusaha tegar. Walaupun terasa berat. Tapi dia harus kuat.
'Farel memiliki kehidupan sendiri, aku gak boleh egois. Cepat atau lambat hal seperti ini pasti terjadi.' bathin Cansu menguatkan hatinya.
"Terima kasih sekali, sudah menolong Kakak saya, Setelah proposal kerjasama jadi, datanglah ke kantor, saya pasti menyetujui apapun tawaran kalian." janji Reynaldi kepada Cansu.
"Kami akan sangat senang. Kalau proposal kami dihargai secara profesional, dari pada di anggap sebagai balas Budi." ucap Cansu datar. Reynaldi tahu, Cansu ada rasa pada kakaknya, sekuat hati dia menahan kesedihan akibat perpisahan.
'Cansu memang wanita tegar dan hebat. Setelah menyelamatkan Mas Farel, dia tidak minta imbalan atas jasanya. Dia masih kuat juga menahan kesedihan dia, karena di tinggalkan Kakakku. Kamu selalu beruntung di manapun dirimu, Mas!' bathin Reynaldi merasa iri kepada Farel yang selalu di kelilingi orang-orang baik dan tulus menyayangi dirinya.
Setelah Farel dan Reynaldi pergi dari kantornya, Cansu langsung terjatuh di sofanya. Hatinya merasa hampa, seperti ada sesuatu yang hilang.
__ADS_1
"Tunggulah makanan datang, baru kalian boleh kembali ke kediaman kalian!" ucap Cansu, pikirnya, biar itu menjadi kenangan terakhir sebelum Farel kembali ke keluarganya. Mungkin saat ini tidak akan pernah kembali lagi selama hidupnya.