Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
16. Cansu di permalukan keluarga Suganda


__ADS_3

Pesta pertunangan dadakan yang diadakan oleh Farel akhirnya terlaksana sekarang. Teman-teman dekatnya sudah datang satu per satu. Kakek dan keluarga besar Bramantyo juga sudah hadir. Cansu masih di rias di kamarnya oleh MoA.


Tadi anak buah Farel sudah membawakan semua keperluan Cansu, Baju, tas branded, sepatu, perhiasan, semua di bawa dari butik miliknya. Rencananya nanti Farel akan menyuruh Cansu untuk mengurus butik milikinya tersebut. Farel tahu, kalau passion Cansu sebenarnya ada di fashion. Karena di paksa keadaan Cansu harus mengurus perusahaan yang ayahnya wariskan kepadanya. Cansu memang wanita luar biasa. Farel semakin jatuh cinta kepadanya.


"Sudah siap, sayang?" tanya Fsrel di luar ruangan.


"Sebentar!" jawab Cansu di kamarnya.


Tak lama kemudian, Cansu keluar dengan MoA yang di sewa oleh Farel. Farel terpesona dengan kecantikan Cansu yang luar biasa.


"Kamu memang tidak pernah mengecewakan, nanti bonus kamu akan saya transfer, terima kasih." puji Farel pada MoA.


"Sama-sama, Tuan Farel. Saya permisi kalau begitu. Semoga pertunangan nya berjalan lancar."


MoA yang di sewa Farel langsung meninggalkan mantion Farel. Dia memang super sibuk, banyak yang menggunakan jasanya.


"Kamu luar biasa, sayang!" Puji Farel tiada henti.


Cansu jadi tersipu malu, Farel juga sangat tampan menggunakan tuxedo berwarna hitam. Badannya yang bagus tercetak jelas dalam balutan busana rancangan desainer ternama.


"Kamu juga sangat tampan!" puji Cansu.


"Ayo, tamu sudah pada datang. Mereka sudah menunggu kita." Cansu dan Farel lalu pergi menuju tempat acara. Pesta di rancang outdoor memang, view yang digunakan bertemakan Timur Tengah, sangat cantik dan mewah.


Semua tamu terpesona dengan pasangan yang malam ini melaksanakan upacara pertunangan. Keluarga Suganda dan Bramantyo sudah hadir semua. Mereka berwajah masam, tidak senang dengan acara tersebut.


"Marilah kita sambut, pasangan berbahagia kita. Farel Bramantyo dan Cansu!" panggil MC seketika tepuk tangan bergemuruh saat pasangan itu naik ke panggung. Bersiap untuk bertukar cincin.


Hati ayah Arini sungguh kesal, tapi dia juga tidak bisa berbuat macam-macam. Hanya bisa misuh misuh kepada istrinya. Tidak tahu kenapa.

__ADS_1


"Papah aneh banget! Mereka yang bertunangan, ko malah mamah yang jadi pelampiasan kemarahan Papah." Mamahnya Arini protes.


"Kalau Mamah pinter jaga hubungan Mamah dengan keluarga Bramastyo, Arini pasti yang berdiri di sana sekarang!" semprot suaminya.


"Arini, dengerin tuh! Papah kamu marahnya sama Mamah. Padahal kamu yang gak becus bikin Farel jatuh cinta sama kamu. Tapi Papah kamu cuma bisa marah sama Mamah!" Arini hanya tertunduk.


Reynaldi dari tadi memperhatikan keluarga Suganda. Khawatir dengan gadis pujaan hatinya. Pasti sekarang Arini sedang dimarahin oleh orang tuanya. Reynaldi berulang kali menarik nafas berat dan membuangnya dengan kasar. Kesal dengan orang tuanya Arini.


Sementara itu, di atas panggung, Farel sudah menyematkan cincin di jari manisnya Cansu. Semuanya heboh dan berteriak heboh.


"Hari patah hati Nasional!" celetuk salah seorang teman wanitanya Farel. Dia juga mantan kekasih Farel, saat Farel masih seorang Casanova.


"Cantik banget ya, calon istrinya Farel. Pantas saja kalau Arini Suganda yang seorang model saja di tolak oleh Farel!" celetuk yang lain.


Arini yang mendengar itu, hatinya aga sakit. Bukan karena dia mencintai Farel, Arini tidak punya perasaan cinta pada Farel sama sekali. Kesedihan Arini karena penghinaan yang dilontarkan oleh wanita itu. Melukai harga dirinya.


Tiba-tiba Reynaldi sudah menarik tangan Arini dan membawa pergi dari acara tersebut. Arini sudah berderai air mata. Reynaldi memeluk Arini dan hanya diam saja. Reynaldi membiarkan wanita pujaan hatinya menumpahkan segala rasa dihatinya. Tidak ingin menghakimi apapun.


"Kita akan pergi dari sini. Tenanglah, aku akan selalu ada di sampingmu." ucap Reynaldi lalu membawa pergi Arini dengan mobilnya.


Acara bertukar cincin sudah selesai, saatnya makan malam dan bincang-bincang antara tamu. Farel menemui koleganya satu per satu. Memperkenalkan tunangannya.


Saat menghampiri keluarga Suganda dan Bramantyo, tiba-tiba saja Mamahnya Arini melemparkan wine di tangannya ke pakaian Cansu. "Ups, maaf, gak sengaja!" ucapnya tanpa dosa. Farel yang melihat kelakuan Mamahnya Arini, merasa tidak suka.


"Ayo, sayang! Gak usah ladeni manusia sakit jiwa seperti mereka!" Farel langsung membawa Cansu ke kamarnya dan menyuruh Cansu untuk segera mengganti pakaiannya.


"Sayang, Untung kemarin aku minta dibawakan beberapa gaun sama anak buahku. Kamu pilih saja mana yang kamu suka. Aku tunggu di bawah, jangan lama-lama!" perintah Farel.


"Iya, kamu keluar dulu!" ucap Cansu.

__ADS_1


Setelah Farel pergi meninggalkan dirinya, Cansu menangis pelan. Hatinya sakit, bukan karena dipermalukan oleh Mamahnya Arini, tapi hatinya sakit karena di saat hari special dalam hidupnya, Cansu hanya seorang diri. Hanya Rukmana yang selalu ada di sampingnya.


"Papah, apakah Mamah dan Papah bisa melihat kebahagiaan anak kalian saat ini?" tangis Cansu.


"Sayang, kenapa lama sekali?" tanya Farel dari balik pintu. Cansu terkejut.


"Iya, sebentar!" Cansu lalu masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Cansu memilih sebuah gaun pesta berwarna biru laut. Baju sederhana, tapi terlihat sangat manis digunakan oleh Cansu. Cansu segera keluar, dan mendapati Farel yang menunggunya dengan gelisah.


"Sayang, kamu bikin aku khawatir! ayo kita kembali ke pesta!" Farel menggandeng tangan Cansu. Saat mereka sampai di ruang tamu, di sana sudah berkumpul keluarga Bramastyo.


Tatapan kecewa terlihat nyata di wajah mereka.


"Kamu memang anak durhaka, Farel!" ucap Papahnya, tanpa tedeng aling-aling.


"Bahkan hewan saja tidak pernah menggigit tuannya yang memberikan makan!" cicit Mamahnya Reynaldi sinis.


"Diam kau, wanita ******! Bukan tempatmu bicara disini! Pergi kamu dari kediaman ku!" Farel sangat marah dengan ucapan Mamahnya Reynaldi yang menyamakan dirinya dengan hewan.


"Satpam! Seret pelacur itu dari rumahku!" suara Farel menggelegar, Untung saja para tamu undangan jauh lokasinya, di taman samping rumahnya Farel. Jadi insiden itu tidak ada yang melihat. Hanya keluarga inti Bramantyo.


"Jaga bicara kamu sama Mamah kamu!" hardik Papahnya Farel tak kalah emosi.


"Dalam mimpimu! Selamanya dia bagiku hanya pelacur murahan! Bawa pergi dia dari rumahku!" ucap Farel dengan mata melotot.


"Kakek tidak bisa mengatakan apapun, semua terserah kepadamu. Kakek pulang, kalau ada waktu, jenguk Kakek di manstion keluarga kita." Kakek, Papah dan Mamah tiri Farel pergi dari kediaman Farel dengan wajah kecewa.


"Sayang, kendalikan dirimu. Tidak baik marah-marah pada orang tua kita." Cansu menasehati Farel yang sedang marah.


"Maafkan sayang, aku tadi lepas kontrol. Aku tidak tahu kenapa, aku sangat membenci wanita itu." ucap Farel sambil terduduk di sofa.

__ADS_1


"Tenangkan dirimu dulu, sayang! Baru kita kembali ke pesta. Tidak baik memelihara kebencian di hatimu, sayang! Itu akan menggerogoti kebaikan dalam jiwamu!" Farel menangis dalam pelukan Cansu. Cansu berusaha menghibur Farel yang saat ini suasana hatinya sanw buruk gara-gara Mamah tirinya tadi.


'Kasihan Farel, merasa asing di tengah keluarga sendiri!' bathin Cansu ikut sedih dengan kondisi Farel yang masih tersedu-sedu.


__ADS_2