
Arini langsung memarkirkan Mobilnya di Carport dan langsung mencari kedua orang tuanya di rumahnya. Ya ini adalah pertama kalinya Arini menginjakkan kaki di rumah ini. Semenjak dia menikah dengan Bejo. Karena selama ini Bejo tidak suka apabila Arini pergi keluar rumah, apalagi mengunjungi orang tuanya.
"Mah, Pah! Assalamualaikum!" Arini mencari keberadaan kedua orangtuanya, tetapi tidak juga ada jawaban.
"Eh, Non! Tuan dan Nyonya tidak ada, Non!" ucap bibi yang kerja sebagai Art di rumah mewah tersebut.
"Kemana mereka?" tanya Arini.
"Tadi, Den Bejo, datang kesini. Mengajak Tuan dan Nyonya untuk makan siang bersama di luar. Katanya mau ada apa, gitu. Pertemuan dengan investor atau apa gitu, namanya. Bibi juga kurang paham." ucap Si Bibi tampak mengingat-ingat apa saja yang dia dengar tadi, ketika menyuguhkan teh untuk menantu majikannya.
"Mereka pergi kemana, Bi?" tanya Arini.
"Yang bibi dengar, mereka bertemu di hotel milik Tuan besae yang ada di jalan Soedirman. Itu yang tadi bibi dengar, Non!" Arini langsung pergi ke tempat yang disebutkan oleh pembantunya yang sudah bekerja selama lebih 30 tahun lamanya.
"Aku harus mencegah Papah jadi korban kebusukan Bejo!" Arini menyusut air matanya yang menetes tanpa diundang.
"Ya Allah, lindungi kami semua!" doa Arini pasrah.
__ADS_1
Setelah mengendarai mobil selama 30 menit, akhirnya Arini sampai di hotel milik keluarganya yang ada di Jalan Sudirman. Arini langsung menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Kedua orangtuanya.
"Tuan dan Nyonya Suganda ada di ruangan Bougenville." ucap resepsionis hotel, yang sudah tahu bahwa Arini adalah anak dari owner hotel tersebut.
"Semoga aku tidak terlambat!" ucap Arini.
Saat Arini sudah sampai ke tempat yang dimaksud oleh resepsionis tersebut, pelan-pelan Arini mendengar pembicaraan mereka di balik pintu. Arini berdiri sejenak, ingin mendengarkan apa yang sedang dibicarakan di dalam ruangan tersebut. Ya, pintu ruangan tersebut tidak tertutup secara penuh, karena tadi pelayan restoran yang ada di hotel tersebut, membawa makanan yang dipesan oleh kedua orang tua Arini.
"Begini, Pah, Mah! Perusahaan kosmetik ini adalah impiannya Arini, saya hanya ingin mewujudkan impian istri tercinta saya. Saya tidak tega rasanya melihat Arini harus memendam impiannya. Karena memiliki suami yang tidak kompeten seperti saya. Oleh karena itu, saya sebagai suaminya, dengan tidak tahu malu berharap agar Papa dan Mama bersedia untuk menjadi investor di perusahaan baru yang akan saya bangun ini!" ucap Bejo dengan pasih dan lancar, seakan-akan yang dia katakan adalah sebuah kebenaran. Hati Arini sangat panas, ketika mendengar Bejo menjual namanya untuk mendapatkan uang dari kedua orangtuanya. Dengan kekuatan yang sekuat tenaga dikumpulkan oleh Arini, Arini masuk ke sana.
Papah dan Mamanya Arini seketika menoleh ke arah putrinya. Yang kini tampak sangat kurus dengan mata yang cekung dan penampilan yang begitu sederhana. Benar-benar berbeda seperti Arini yang dulu mereka kenal. Wanita glamour dan wanita yang penampilan mewah, khas sosialita ibu kota.
"Sayang apa yang kamu katakan tadi? Kenapa kamu bisa mengatakan hal-hal yang bodoh seperti itu?" Bejo langsung mendekati Arini, tetapi Arini langsung berlari ke arah Papahnya mencari perlindungan di sana.
"Arini, Papah kira kamu sedang hamil besar, Nak!" tampak kebingungan di wajah Papahnya Arini saat melihat Arini yang berbadan kurus dan nyaris tanpa perawatan sama sekali. Penampilan yang jauh dari harapan mereka.
"Hamil? Apa maksudnya?" tanya Arini tanpa kebingungan.
__ADS_1
"Iya sayang! Papa mengira malam itu, kamu sudah tidur dengan Bejo. Makanya Papa mengatur pernikahanmu dengan Bejo secepat mungkin. Karena Papa tidak mau cucu Papa nanti terlahir tanpa mempunyai seorang ayah!" Bejo dan Arini terkejut mendengarkan alasan di balik pernikahan mereka berdua. Ya, Bejo sendiri baru mengetahui alasan tersebut hari ini.
"Bagaimana Arini bisa hamil Pah? Kalau sampai hari ini saja Bejo tidak pernah menyentuh Arini? Bejo lebih sibuk berkeliaran di luar sana, membantu pekerjaan yang Papah berikan, daripada bermesraan dengan Putri Papah ini!" ucap Arini sambil berjalan mendekati Papahnya.
Bejo terpaku di tempat, tidak bisa berkutik lagi. Rahasianya dalam keluarga kecilnya telah terungkap dari mulut istrinya sendiri. Tampak Papanya Arini, menatap Bejo dengan tajam. Bejo terus menunduk, sudah merasa ketakutan karena selama ini dia selalu berbohong kepada Arini maupun kepada mertuanya tersebut. Demi mendapatkan uang dari beliau.
"Jadi selama ini, kamu selalu mengatakan kepada anak saya, bahwa kamu masih bekerja bersama saya? Dan kamu selalu di luar rumah? Bahkan sampai tidak pulang ke rumah, apa itu benar?" Bejo sudah gemetaran.
"Tadi pagi suamiku ini membujukku untuk meminta uang kepada Papa. Katanya untuk pembangunan perusahaan kosmetik tersebut. Tetapi Arini menolaknya Pah! Dan dia mengamuk, memarahi Arini!" Papanya Arini sudah geram demi mendengarkan bahwa putrinya diperlakukan tidak baik oleh menantunya. Yang selama ini selalu dia manjakan dengan uang dan kemewahan.
"Lancang sekali! Kau berani berbuat kasar, terhadap putri kesayangan saya! Yang selama ini sangat berharga untuk saya. Dengarkan kamu Bejo! Mulai saat ini dan selamanya! Saya mengatakan bahwa kamu bukan menantu Saya lagi! Segeralah siap-siap untuk menerima tuntutan dari pengacara Keluarga Suganda! Ayo Mah, Arini, kita tinggalkan manusia kurang ajar ini!" Bejo yang membeku di tempat, tidak mampu mengatakan apa-apa lagi. Nyalinya sudah ciut menghadapi mantan majikannya tersebut, yang sebentar lagi akan menjadi mantan mertuanya juga.
"Sialan Arini! Berani-beraninya dia melakukan ini kepadaku! Awas saja aku tidak akan membiarkan dia hidup dengan tenang!" Bejo sangat geram melihat aksi Arini hari ini di depan kedua orang tuanya, yang sudah berani mengadili dirinya tanpa merasa takut sama sekali.
Sementara itu di mobil Arini mengucapkan rasa syukur karena perjuangannya telah berhasil. Menyingkirkan Bejo dalam kehidupannya. Sementara di mobil lain Pak Suganda dan Nyonya Suganda tampak sangat geram. Mengetahui sebuah kenyataan, bahwa ternyata mereka selama ini telah tertipu dengan semua kata-kata manis Bejo tentang putrinya.
"Makanya Pah! Sebelum mengambil keputusan itu, mbok harus diskusi dulu dengan anak dan istrimu! Jangan asal main tabrak-tabrak saja! Lihatlah apa yang sudah Papa lakukan terhadap masa depan Putri kita! Untung saja itu si Bejo tidak pernah menyentuh anak kita. Kalau tidak, waduh waduh kerugian besar untuk Putri kita, Pah!" Papanya Aini menatap istrinya yang kini sedang misuh-misuh.
__ADS_1