Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
9. Kabur


__ADS_3

Semua orang yang hadir di ruangan itu Merasa terkejut. Mamahnya Reynaldi lebih lagi. "Punya berapa nyawa anak brengsek ini?" keluhnya kesal.


"Nak Farel, Om sangat senang karena kamu baik-baik saja."


"Kamu siapa?" tanya Farel dengan cuek.


"Saya papahnya Arini. Calon mertua kamu!"


"Jangan MIMPI!! Aku tidak akan pernah menikahi anak gadismu!" Farel menatap sinis pada Arini dan juga keluarganya.


"Eh, perempuan gila! Bukankah kemarin kamu sudah sepakat? Kenapa ada terjadi hal konyol seperti ini?" mata Farel menyorot kesal.


"Ini kemauan Kakekmu! Aku sudah menjelaskan kalau kamu tidak mau menikah denganku, tapi beliau ngotot!" Arini melihat ke arah Kakeknya Farel yang menatap dia dengan kesal.


"Farel! Kamu sebagai pewaris keluarga Bramastyo Group, harus melakukan ini!" tatapan tajam pria yang mengaku Kakeknya menatap Farel dengan tatapan yang tidak bisa di bantah.


"Aku gak mau jadi pewaris keluarga kalian! Cansu, ayo kita pulang!" dengan santainya Farel menggandeng tangan Cansu dan berniat pergi dari sana.


Tapi para bodyguard kembali menghadang mereka, tidak mengijinkan kepergian Farel dan Cansu. Farel yang sudah lama menahan kesal dari tadi, tanpa pikir panjang langsung menendang Bodyguard sang Kakek yang terdekat dengan dirinya. "Cansu cepat lari!" sementara Farel masih berkelahi dengan empat orang bodyguard.


Pertarungan seru terjadi di sana. Farel yang pada dasarnya seorang ahli karate, dengan mudah melumpuhkan ke 4 bodyguard tersebut.


Farel dan Cansu langsung berlari menuju mobil mereka, Rukmana tampak keheranan melihat Cansu dan Farel yang berlari kearahnya dan dikejar oleh empat orang bodyguard.


"Cepat kita pergi dari sini!" Farel berteriak kepada Rukmana. Dengan sigap Rukmana membukakan pintu mobil dan pergi dari sana. Terjadilah aksi kejar-kejaran seperti yang ada di Bollywood. Rukmana yang memang ahli balapan, dengan senang sekali melayani para bodyguard tersebut.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Rukmana ketika jarak mereka sudah agak aman dari kejaran para bodyguard.


"Mereka bodyguard Kakek! Mereka berniat mau memaksaku untuk bertunangan dengan Arini!"

__ADS_1


"Cansu, kemana kita pergi sekarang?"


"Ke villa keluarga yang di Bogor saja. Mereka pasti akan mencari kita ke kediaman." Cansu menatap Farel dengan berbagai perasaan yang berkecamuk dalam hatinya. Bingung dan juga sedih. Campur aduk rasanya. Cansu sendiri merasa aneh.


"Terima kasih!" Farel menggenggam tangan Cansu dengan erat. Tapi Cansu menghempaskan tangan Farel dan memilih melihat ke arah jendela.


"Kamu kenapa? Ko marah sama aku!" Farel mencoba meraih tangan Cansu lagi, tapi masih di tolak juga.


"Kamu itu asisten paling kurang ajar yang pernah saya lihat!" ketus Cansu yang akhirnya menyerah dengan membiarkan Farel menggenggam tangannya. Entah kenapa, Cansu merasa tenang dengan kehadiran Farel disisinya sekarang.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah! Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai. Rukmana, apakah masih jauh villanya?" tanya Farel.


"Ya, Pak Farel istirahat saja. Nanti saya bangunkan kalau kita sudah sampai. Untung saja para pengejar kita sudah kehilangan jejak. Jadi saya bisa fokus sekarang." Farel mengangguk, dia memang sangat lelah hari ini. Matanya juga sudah sangat berat karena seharian di luar rumah. Tadi sempat tidur sebentar, tapi di ganggu Reynaldi.


"Memang adik gak ada akhlak!" umpat Farel kesal.


Rukmana hanya menghela nafas, melirik sebentar ke spion, melihat keadaan di kursi belakang. Cansu tampak menyenderkan kepalanya di bahu Farel, sementara Farel memeluknya dengan sangat erat. Terlihat sekali, Farel mencintai sahabat sekaligus majikannya.


"Rukmana, kalau kau mengantuk, katakan padaku, kita bisa bergantian menyetir." Tawar Farel, ketika dia terjaga. Farel melihat berkali-kali Rukmana menguap, dia juga takut kalau nanti terjadi kecelakaan.


"Ayo kita gantian, sangat berbahaya kalau sedang mengantuk menyetir mobil." Rukmana yang memang sudah tidak mampu menahan rasa kantuknya,akhirnya menyerah juga.


Farel dengan hati-hati meletakkan kepala Cansu di kursi belakang, Farel mengambil bantal kecil di bagasi. Tidak tega kalau Cansu nanti sakit kepala, tidur tanpa bantal.


Rukmana berhenti di pinggir jalan yang terlihat sepi, lalu beralih posisi dengan Rukmana. Saat Rukmana akan duduk di samping Cansu, Farel protes dengan melotot.


"Duduk di depan! Cuma aku yang boleh duduk di sampingnya." Farel langsung menyalahkan mesin mobil setelah Rukmana duduk di sampingnya.


"Belum jadi lakinya udah main atur-atur aja!" protes Rukmana sebal.

__ADS_1


"Kenapa? Tidak terima?" Farel nyolot.


"Bukan begitu, tapi kamu keterlaluan tahu gak sih? Nanti Cansu jadi tertekan dengan kelakuan kamu!" Rukmana yang sudah mengantuk lebih memilih untuk tidur.


"Aku tidur dulu, ngantuk sekali!"


Farel hanya mengangguk. Dia juga paham dan merasa kasihan dengan Rukmana. Pria sederhana itu yang sudah menolong dirinya. Kalau tidak ada Rukmana, mungkin saat ini dirinya sudah tidak ada di dunia ini lagi.


Farel yang tidak tahu dimana letak villa Cansu hanya bisa mengikuti insting saja. Tadi Cansu bilang ke Villa di Bogor, dia hanya mengikuti petunjuk jalan dan GPS yang sudah di pasang oleh Rukmana. Farel berusaha untuk menyetir dengan baik. Dia sendiri tidak paham, kenapa dirinya sangat mahir menyetir.


"Mungkin sebelum kecelakaan aku benar-benar seorang kaya raya." bathin Farel, yang hingga saat ini masih belum ingat dengan masa lalunya.


Tiba-tiba saja di depan ada sebuah truk gandeng, yang melintas oleng, Farel yang panik, memilih melambatkan mobilnya lalu menepi di pinggir jalan. Ketika Farel melihat ke spion, dilihatnya mobil yang sudah hampir satu jam mengikuti dirinya. Bodyguard kakeknya, masih belum menyerah ternyata. Farel melajukan mobilnya dengan kencang.


Seketika Farel merasa seakan dikepalanya tengah menonton video, ingatan yang hilang selama beberapa bulan ini. Dalam bayangan itu, Farel terlihat di kejar oleh beberapa mobil. Saat Farel melajukan mobilnya dengan kencang, baru di sadari bahwa mobilnya ternyata remnya mengalami blong. Farel yang kwatir menabrak seseorang nenek-nenek yang tengah menyeberang, memilih memutar arah mobil yang dia kendarai. Hingga Farel tidak menyadari bahwa telah memasuki daerah perkampungan.


Farel yang merasa asing dengan daerah itu, tetap berusaha untuk mengendalikan mobilnya. Tetapi memang rem mobilnya bermasalah, sehingga dia tidak mampu mengendalikan lagi. Saat kritis, Farel menyadari bahwa para pengejar masih dibelakang, mengikuti dirinya. Tanpa Farel sadari, dirinya telah menabrak pembatas jalan, dan akhirnya mobilnya terjun ke tebing.


Farel masih beruntung, mobilnya jatuh ke sungai, sebelum mobil terhanyut arus sungai, Farel sudah berhasil keluar dari mobilnya. Sehingga dia bisa selamat. Sialnya, Farel tidak tahu bahwa di belakang adalah batu besar, kepalanya terbentur batu besar, dan banyak darah menetes. Saat itulah, Farel merasakan bahwa dadanya sangat sesak.


"Farel, apa kamu tidak apa-apa?" Cansu melihat Farel yang berkeringat dingin. Dia membuka pintu mobil dan melihat keadaan Farel.


"Aku, mengingat Kecelakaan itu. Ada beberapa mobil yang mengikuti aku sejak aku keluar dari Jakarta. Demi menghindari kejaran mereka, aku mengebut, tapi akhirnya aku sadar, rem mobilku ternyata bloong," Cansu memeluk Farel yang tampak ketakutan.


"Ada orang yang berniat membunuhku!" Cansu sudah bisa menduga hal itu. Dari keterangan polisi, bahwa memang ada seseorang yang memotong kabel rem mobilnya.


"Tenanglah, ada aku di sisimu. Kamu aman sekarang." Rukmana yang terbangun karena suara tangisan Farel, tampak bingung. Dari kejauhan mobil yang mengikuti mereka sudah nampak.


"Farel, sadarlah! Cepat kau pindah ke belakang, itu mobil yang mengikuti kita sudah tampak dan semakin mendekat!" Rukmana membuka pintu mobil, Cansu segera menarik tangan Farel dan menuntunnya untuk duduk di belakang bersama dirinya. Farel masih bergetar tubuhnya.

__ADS_1


"Sadarlah! Rukmana, cepat! Mereka semakin mendekat!" Rukmana langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraannya. Dia terpaksa masuk gang kecil, untuk menghindari kejaran mereka. Saat mereka sampai di villa milik keluarga Cansu, Rukmana bergegas memasukan mobilnya, dan mengunci pintu gerbang. Sementara mereka aman sekarang.


__ADS_2