
Setelah semua kelengkapan yang dibutuhkan untuk acara lamaran lengkap. Kedua orang tua Reynaldi dan keluarga besarnya, mendatangi keluarga Suganda untuk melamar Arini untuk menjadi istrinya Reynaldi.
"Wah! Nggak nyangka juga ya? Akan datang hari ini, setelah perjuanganmu selama bertahun-tahun lamanya. Untuk mendapatkan cintanya Arini." ucap Farel.
"Untung saja, waktu itu aku tidak menerima perjodohanku dengan Arini. Kalau tidak, kau pasti saat ini sedang patah hati!" ledek Farel lagi. Reynaldi hanya melototkan matanya, mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Fatel seperti yang tidak ada kerjaan itu. Yang tidak ada bosan-bosannya dia menggodanya. Sejak keberangkatan mereka dari rumah kediaman Bramantyo.
"Terus saja kau meledek! Terus aja kau ketawa! Dasar memang Kakak durhaka! Senangmu cuma bikin adikmu kesal saja!" cicit Reynaldi kesal.
Candu melotot menatap Farel. Sehingga Farel menjadi salah tingkah srndiri. Ketika melihat sang istri yang sudah mode seriusnya itu. Seketika Reynaldi tertawa, melihat kakaknya yang seperti mati kutu.
"Lihatlah kakakku yang cerewet ini! Begitu menemukan pawangnya, langsung dia nggak bisa berkutik!" sengit Reynaldi masih tertawa terbahak-bahak.
"Diam loe!" sengit Farel kesal.
"Kalian berdua itu sudah besar, tapi kelakuannya seperti kucing dan anjing. Di mana-mana ribut terus! Apa kalian tidak bisa tenang sebentar saja? Kita ini mau melakukan acara lamaran lo! Acara resmi dan sakral! Acara penting! Jangan dibuat guyon seperti itu!Jangan bikin malu keluarga Bramantyo!" tegur Kakeknya Reynaldi.
"Iya, Kek!" ucap kakak beradik itu dengan kompak. Tampak kelihatan sekali, Farel dan Reynaldi ini, terlihat sangat menghormati kakeknya yang memiliki Aura Wibawa yang sangat kuat.
"Reynaldi! Bener kau sudah siap untuk menjadi seorang suami? Betul kau sudah siap untuk bertanggung jawab terhadap anak perempuan orang lain? Jangan sampai nanti kalau kau sudah menikah, kau malam menyakiti hati istrimu. Jangan kau buat malu keluarga kita. Apa kau paham, huh?" tanya beliau lagi.
__ADS_1
"Rey pasti dan yakin, kek!Jangan khawatir! Rey pasti akan melindungi Arini dengan sekuat tenaga. Rey akan terus berusaha untuk membahagiakan dia!" janji Reynaldi mantap. Kakeknya tampak puas dengan jawaban cucunya.
"Seorang laki-laki sejati itu, menepati apa yang dia janjikan. Tidak menyakiti hati perempuan dan juga tidak berbuat sewenang-wenang. Kau harus ingat itu! Jangan sampai nanti kamu langgar, hal seperti itu!" ucapnya lagi.
"Ya, Kek! Reynaldi akan menjaga amanah Kakek ini!" ucap Reynaldi tampak serius.
Setelah sampai di kediaman Suganda, keluarga Bramantyo akhirnya menyampaikan maksud dan tujuannya datang kediaman tersebut. Yaitu Ingin melamar Arini Suganda sebagai calon istri dari Reynaldi Bramantyo.
"Kami sekeluarga menerima lamaran ini dengan senang hati. Semoga pernikahan kedua anak-anak kita, akan semakin mempererat hubungan kekeluargaan di antara kita!" ucap Ayahnya Arini.
"Terima kasih atas penyambutan dan penerimaan ini. Keluarga kami sungguh sangat berterima kasih dan kami berharap rumah tangga ini, akan sakinah, mawadah dan warohmah. Serta menghasilkan keturunan-keturunan yang sholeh dan sholehah. Dan pernikahan mereka hanya akan dipisahkan oleh maut!" semua orang yang hadir di sana mengaminkan doa tersebut. Akhirnya lamaran pun selesai. Pihak keluarga laki-laki dan perempuan bersepakat bahwa pernikahan akan dilakukan satu bulan dari sekarang.
"Nak Reynaldi, mohon untuk bisa keluarga kami. Yang sebelumnya, sudah memberikan banyak luka dan sakit hati kepada Reynaldi. Mohon untuk bisa dimaafkan karena memang kesadaran itu butuh waktu yang lama dan kami membayarnya dengan sangat-sangat mahal sekali. Untuk kesadaran itu, Nak Reynaldi tentu tahu semua ceritanya. Mohon keikhlasan Reynaldi untuk bisa memaafkan keluarga kam!" ucap ayahnya Arini dengan khidmat.
" Iya Pak! Saya sudah memaafkan semuanya dan semoga itu akan menjadi penyemangat buat saya juga. Untuk lebih berusaha untuk membahagiakan Arini. Pengingat untuk saya, selalu mengingat, betapa perjuangan saya untuk sampai ke sini, itu tidaklah mudah. Dan, semoga kepada Arini pun, hal itu akan menjadi penyemangat baginya. Agar bisa menjaga rumah tangga kami, agar kami bisa saling menguatkan di dalamnya, bukan saling melemahkan, ataupun merusuhkan rumah tangga, yang telah kami bangun dengan susah payah. Di atas air mata dan derita selama bertahun-tahun!" ucap Reynaldi.
Ya! Semua orang di ruangan itu, sudah tahu. Bagaimana perjuangan seorang Reynaldi. Di dalam mempertahankan cintanya untuk Arini. Semua orang salut dan bangga kepadanya, yang rela berjuang begitu mati-matian. Dalam mempertahankan rasa cintanya terhadap seorang Arini Suganda. Cinta Reynaldi, sudah terbukti dan teruji dengan baik. Sehingga mereka tidak meragukan hal itu sama sekali. Semuanya mendoakan kebahagiaan mereka.
Setelah acara lamaran selesai, keluarga Bramantyo pun, akhirnya berpamitan. Sebelum pulang, tampak Reynaldi berbicara dengan Arini berdua saja. Farel yang mulutnya selalu gatal, untuk menggoda adiknya itu. Tidak bisa tahan untuk tidak menggoda sang adik.
__ADS_1
"Sebentar lagi kalian resmi! Sabarlah dulu, jangan terburu nafsu!" ucap Farel sambil berlalu.
"Mas! Kamu ini bicara apa sih? Udah! Stop, berhenti godain mereka. Mereka tuh pasti sekarang sangat nervous, kamu ini, selalu saja begitu, sama adiknya. Bukannya ngedukung adiknya atau gimana. Kerjamu cuma menggoda dia!" sungut Cansu marah kepada suaminya.
"Aku lho, ya, sayang! Yang bantuin mereka untuk berdamai. Aku juga yang menasihati Reynaldi untuk bisa melupakan masalah kematian Natalia. Coba, kalau anak itu tidak dibukakan pintu hatinya sama aku. Apa dia bisa sampai ke tahap sekarang ini? Kau itu, bagaimana sih, Sayang? Kan kamu juga yang menjadi saksi sejarahnya, bahwa aku ini yang membantu mereka berdua untuk bisa bersatu!" protes Farel yang tidak terima mengenai ucapan Cansu, yang berkata bahwa dia tidak pernah membantu adiknya. Karena pada kenyataannya, Farel telah banyak membantu hubungan Arini dan Reynaldi untuk bisa sampai ke tahap sekarang ini.
"Iya! Mas! Kakakku tersayang! Terima kasih sudah bantuin kami berdua! Sekarang, bisakah Anda pergi? Karena berdua ingin bicara secara pribadi!" ucap Reynaldi dengan penuh permohonan. Farel sampai berdecik sebal melihat kelakuan adiknya itu, yang main sok-sok rahasiaan.
"Ckck kaya akan kecil saja! Pribadi bahasanya!" ledek Farel, Cansu langsung menarik tangan suaminya untuk masuk ke mobil saja. Dan memohon maaf kepada Reynaldi dan Arini.
Arini hanya tertawa melihat kelucuan Farel, yang benar-benar sudah takluk terhadap seorang Cansu. Benar-benar Farel telah bertemu dengan pawangnya. Yang bisa mengendalikan ke absurdan dia. Seorang Farel yang selama ini selalu tidak bisa ditaklukan oleh siapapun. Yang selalu berbuat semaunya. Akhirnya takluk juga kepada seorang wanita.
Setelah Farel dan Cansu meninggalkan mereka berdua, Reynaldi pun berbicara serius dengan Arini, "Aku harap, kamu bisa sabar menunggu aku, ya? Aku sangat berharap, pernikahan kita tidak ada halangan dan rintangannya. Dan, semoga kita bisa melalui ini semua dengan baik!" ucap Reynaldi sambil meremas tangan Arini.
"iya, aku juga berharap kamu bisa bersabar menunggu hari pernikahan kita. Ingat! Kita sudah berjuang sangat keras, kita sudah berusaha sangat lama. Agar pernikahan kita bisa terlaksana." Reynaldi menyetujui apa yang dikatakan oleh Arini.
Setelah apa yang ingin dia sampaikan selesai. Reynaldi akhirnya berpamitan kepada Arini. Dan langsung pulang ke kediamannya. Ketika di mobil, Farel tidak berhenti juga untuk menggoda sang adik. Sehingga membuat gemes Cansu sang istri. "Mas, kalau kau diam, gak ada yang bilang kalau itu mati!" sengit Cansu, kesal sekali.
"Sayang! Kau mendoakan suamimu mati? Ya Allah! Tega sekali. Bagaimana mungkin? Kau menginginkan suamimu mati? Anak kita nanti nggak punya ayah sayang!" ucap Farel heboh. Sehingga membuat semua orang yang ada di mobil pun, tertawa terbahak-bahak. Karena melihat kekonyolan Farel yang sungguh luar biasa dan di luar nalar dan bikin terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Cansu hanya bisa menepuk jidatnya. Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Farel "Hah benar-benar tidak bisa tertolong!" keluh Cansu. Yang akhirnya membuat Farel tampak kebingungan.