
Arini sendiri merasa tidak paham dengan pemikiran orang tuanya, mereka sudah kaya raya, kenapa masih menghendaki pernikahan bisnis lagi? Sampai harus mengorbankan kebahagiaan Putri semata wayang mereka.
Arini benar-benar sudah hilang akal dengan pemikiran kedua orang tuanya.
Reynaldi mengantarkan Arini ke rumah keluarga Suganda. Rumah mewah tersebut sangat besar dan megah. Tapi Reynaldi tahu, Arini tidak bahagia di sana. Arini selalu bersedih. Profesi sebagai model yang dijalani oleh Arini adalah suatu cara untuk melarikan diri dari kedua orangtuanya yang selalu memaksa dirinya melakukan hal-hal yang Arini tidak suka. Arini sudah berderai air mata, saat mereka sampai dirumahnya.
"Please, bawa aku pergi jauh dari sini!" pinta Arini memelas, namun Reynaldi menolak keras, dia mencium pucuk kepala Arini, lalu membujuk kekasihnya untuk masuk ke rumahnya.
"Sayang, dengerin! Aku pasti akan berjuang demi cinta kita. Percayalah, sekarang kamu masuk, ya?" Reynaldi membujuk Arini lagi, hingga akhirnya Arini menurut dan keluar dari mobilnya.
Saat menginjak kakinya di ruang tamu, ayahnya sudah menghadangnya, Arini berusaha sekuat hatinya untuk tidak berontak. Arini ingat pesan Reynaldi bahwa dirinya harus bersabar.
"Dari mana kamu?" tanya Papahnya dengan tatapan bengis.
"Nginep di rumah teman, Pah!" jawab Arini serelax mungkin agar Papah nya tidak curiga bahwa dirinya semalam bersama Reynaldi.
"Kelakuan kamu, udah seperti pelacur! Pulang pagi setelah semalaman di rumah orang lain! Mau kau hancur lebur kan nama keluarga Suganda sepertinya! Betul?" tanya Papah Arini dengan bengis, tangannya sudah mengepal dari tadi.
"Papah, terserah papah mau ngomong apa tentang Arini. Arini cape, Pah!" Arini hendak pergi ke kamarnya di lantai empat, belum juga sampai di lift rumahnya, Papahnya sudah menarik tangan Arini dengan kasar.
"Dengar, Farel sudah bertunangan dengan perempuan lain. Itu adalah kegagalan kamu sebagai keturunan Suganda. Nanti malam, kamu akan bertemu dengan Alex Brandon, dia adalah seorang pengusaha dari Jerman. Kebetulan dia mengembangkan perusahaan ayahnya di Indonesia. Awas kalau kamu mengacaukan perjodohan ini lagi! Siap-siap kamu Papah usir dari rumah ini!" ancam Papahnya.
Arini langsung lemas tubuhnya. Air mata sudah tidak mampu di bendung lagi. Sakit hatinya dengan kelakuan Papahnya yang menjajakan dirinya seperti barang dagangan. Sebagai seorang model internasional, nama Arini Suganda memang terkenal, banyak pengusaha muda yang jadi penggemar dirinya.
__ADS_1
Kalau Arini mau jual diri, pasti mereka rela membayar mahal dirinya walau hanya sekedar menemani makan malam saja. Tetapi Arini selama ini selalu menjaga dirinya. Bahkan pacaran saja tidak pernah. Satu-satunya pria yang dekat dengan Arini sejak kecil hanya Reynaldi.
"Pah, sampai kapan Papah akan melakukan ini? Aku ini anak Papah! Bukan pelacur yang papah tawarkan ke pelanggan!" belum selesai Arini menyampaikan keluh kesah nya, Papah nya sudah menampar pipi Arini dengan keras.
"Dasar anak kurang ajar! Anak durhaka kamu! Papah hanya ingin menjamin masa depan kamu, agar bahagia dan tidak akan pernah kekurangan apapun! Tapi apa yang kamu pikirkan tentang Papah kamu? Kamu pikir papah adalah mucikari yang menjual kamu, huh? Anak durhaka, kamu!" Sebuah pas bunga melayang di dekat Arini.
Untung replek Reynaldi menarik tubuh Arini yang masih mematung menerima amarah Papahnya.
"Om, bukan begini caranya mendidik anak-anak Om!" tegur Reynaldi dengan memeluk Arini yang kini menangis dalam pelukannya.
"Kamu gak apa-apa!?" tanya Reynaldi sambil menghapus air mata kekasihnya.
"Apa yang kamu lakukan di rumah ini, huh? Pagi-pagi sudah di sini, apa yang kamu mau?" tanya Papahnya Arini dengan amarahnya.
"Dengar, ya! Jangan pernah bermimpi kalau aku akan merestui hubungan kamu dengan anak saya! Kamu hanya anak haram Keluarga Bramantyo. Bukan level keluarga Suganda!" ucap Papah Arini tanpa tedeng aling-aling. Menghina Reynaldi.
"Papah! Papah sangat keterlaluan! Arini cinta dengan Reynaldi! Arini hanya akan menikah dengan Reynaldi, jangan harap papah bisa pisahkan kami!" ucap Arini dengan air mata di pipinya. Reynaldi sungguh pedih hatinya.
"Jangan bermimpi! Bejo! Bejo! Cepat kesini!" teriak Papahnya Arini sehingga membuat semua penghuni rumah pada datang ke ruang tamu.
"Iya, tuan. Ada apa?" ucap Bejo, supir pribadinya.
"Seret Nona muda, kurung dia di kamarnya! Jangan biarkan dia keluar dari rumah ini!" perintah Papahnya Arini dengan amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
"Reynaldi, please bawa aku pergi dari sini. Aku gak mau di kurung dari sini! Hiks hiks!" Arini terus meronta-ronta saat badannya di gendong oleh Bejo di atas bahunya yang besar.
Bejo ini memang seorang supir yang merangkap sebagai bodyguardnya Papahnya Arini, badannya tegap dan sangat macho. Gagah pokoknya. Namanya saja yang terkesan kampung, tapi wajahnya sangat tampan, Bejo ini mantan pasukan khusus. Yang direkrut oleh Ayahnya Arini.
"Lepaskan aku, Bejo sialan!" Arini memukuli punggung Bejo yang sangat tegap dan gagah.
"Nona, tenanglah! Saya hanya menjalankannya tugas saya. Nona kalau mau marah, marahlah pada ayah Anda!" Ucap Bejo, menaruh nona mudanya di kasur, lalu mengunci pintu kamar Arini dari dalam. Bejo kemudian berdiri di depan pintu, sambil terus memperhatikan Nona mudanya.
"Apa yang kau lihat? Keluar dari kamarku!" hardik Arini sambil melempar bantal ke arah Bejo.
"Maafkan, saya Nona, saya hanya menjalankannya tugas untuk mengawasi Nona!" ucap Bejo datar, sedatar layar LCD TV flat. Nyaris tanpa ekspresi.
"Kamu bisa menunggu saya di luar, saya terganggu dengan kehadiran kamu di kamar saya!" ucap Arini pelan.
"Maafkan saya Nona, berdasarkan pengalaman saya, pasti nanti Nona kabur bersama kekasihnya Nona lewat jendela. Makanya saya berjaga di dalam sini!" ucap Bejo sugiantoro. Sang supir yang merangkap jadi bodyguard sang ayah.
"Sial!" umpat Arini kesal, karena rencananya dapat di baca oleh Bejo. "Tidak sia-sia juga kamu jadi mantan pasukan khusus, ya?" sindir Arini dengan gemas. Melihat Bejo yang menatap ke arahnya tanpa berkedip. Arini sungguh hilang akal untuk mengusir pengawal ayahnya itu.
Sementara itu, Reynaldi berusaha menolong Arini, tapi Reynaldi sudah dilemparkan oleh pengawal ayahnya Arini, keluar rumah keluarga Suganda.
"Aku akan berusaha menolong kamu, Arini! Tunggulah aku!" ucap Reynaldi, lalu pergi dari sana.
Reynaldi mengambil ponselnya, lalu menelpon Kakaknya, Farel. "Assalamualaikum, Mas, kamu dimana sekarang? Ada yang ingin aku diskusikan dengan kamu. Baiklah, saya kesana." setelah itu Reynaldi langsung pergi ke perusahaan yang di pimpin oleh Kakaknya tersebut.
__ADS_1
Ya, sejak Farel kembali, Reynaldi juga kembali ke posisi nya semula di perusahaan Bramantyo. Sebagai wakil presiden direktur. Wakilnya Farel.