Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
94. Cemburu


__ADS_3

"Memangnya sudah berapa lama kau mengenal Arnold? Aku lihat kau begitu memujinya!" tanya Suganda merasa tidak nyaman ketika mendengarkan istrinya memuji laki-laki lain di hadapannya.


"Sejak kecil sekali! Sejak aku masih TK. Aku sudah mengenal Arnold bisa dikatakan kami adalah sahabat masa kecil. Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Amanda sambil melirik kepada Suganda yang saat ini sedang cemberut.


"Pengantin kita! Ayo kita berfoto bersama dengan keluarga masing-masing ya? Kepada pengantin kita, ngobrol laginya nanti ya? Di saat kalian sudah ada di dalam kamar kalian!" ucap fotografer memisahkan mereka yang sedang bersih tegang gara-gara Arnold.


Akhirnya Suganda dan Amanda menghentikan segala perdebatan dan mereka pun akhirnya mengikuti keinginan para keluarga besar yang ingin mengabadikan momen Bahagia itu di dalam sebuah kamera.


Flash back off


Suganda menatap foto-foto pernikahannya bersama dengan Amanda ada binar-binar kebahagiaan di sana. Karena dia menjadi laki-laki yang beruntung sudah menikahi seorang wanita baik seperti Amanda.


"Aku berharap masalahku dengan Prawira akan segera berakhir karena aku tidak mau menghabiskan hidupku dalam permusuhan dengan anak itu! Diakui atau tidak dia masih keturunanku dan masih darah dagingku!" ucap Suganda bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Sayang! Apakah kau masih lama di sana Aku ingin makan malam denganmu!" ucap Amanda membangunkan Suganda dari lamunannya mengenai masa lalu mereka.


"Iya papa akan ke sana. Mama tunggulah sebentar!" ucap Suganda kemudian membereskan semua file-file tentang masa lalunya yang berhubungan dengan Prawira dan juga ibunya.


Suganda kemudian memasukkan file-file itu ke dalam brankas besinya dan mengunci nya dengan kata sandi dan nadia takut kalau amanda akan mengetahui tentang segala hal yang bersangkutan dengan masa lalunya.


"Aku harus menyembunyikan semua file ini jangan sampai Amanda mengetahuinya Kalau tidak dia akan merasa sakit hati karena aku masih mencari tentang masa laluku bersama wanita itu!" ucap Suganda sambil menatap kepada sebuah foto yang ada di dalam brankas besi miliknya.


Sejak janjinya Suganda yang mengatakan akan datang ke kampung Silvia untuk melamar dan menikahi dia. Suganda memang tidak pernah menemui lagi perempuan itu dan tidak pernah tahu tentang kabar beritanya.


Dengan perasaan sedih dan loyo. Suganda pergi ke ruang makan dan menemui Amanda yang sudah menunggunya dari tadi.


"Ada apa denganmu Pah? Apakah kau sedang mengalami kesulitan di kantor? Kenapa sejak tadi Papa, Mama perhatikan begitu sedih?" tanya Amanda sambil mengelus telapak tangan suaminya.

__ADS_1


"Papa tidak apa-apa mah! Tolong jangan khawatir. Papa hanya lelah saja. Karena begitu banyak masalah di kantor yang menguras pikiran papa saat ini!" ucap Suganda sambil tersenyum kepada amanda yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik nya.


"Kalau kau mempunyai masalah. Katakanlah padaku aku pasti akan membantumu!" ucap Amanda sambil mengulas senyum di bibirnya yang membuat Suganda merasa lebih baik saat ini.


"Terima kasih Mah! Karena kamu selalu menjadi penguat untukku. Maafkan kalau aku mempunyai salah kepadamu!" Entah kenapa tiba-tiba saja mata Suganda berkaca-kaca.


Amanda mengerutkan keningnya dan menghentikan aktivitas makannya.


"Ayo Pah kita ke ruang tengah saja kita bicara di sana!" ajak Amanda untuk membawa Suaminya ke ruang tengah agar mereka bisa berbicara lebih leluasa.


Suganda yang memang tidak memiliki selera makan saat ini mengikuti keinginan Amanda dan melangkahkan kakinya ke ruang tengah seperti keinginan Amanda.


"Katakanlah Pah dengan jujur! Ada masalah apa? Siapa tahu Mama bisa membantumu!" ucap Amanda berusaha untuk Suganda bisa terbuka dengan masalahnya kepada dirinya.


"Apakah kau mengingat tentang Silvia?" tanya Suganda kepada Armanda.


"Ada apa dengan kekasihmu itu?" tanya Amanda dengan nada tidak senang.


"Tetapi kau masih menyimpan segala hal tentang dia kau tidak pernah melupakannya!" ucap Amanda dengan mata berapi-api.


"Ayolah sekarang bukan itu fokusnya! Apa kau tahu? Anak Silvia sekarang sudah dewasa dan dia sedang menuntut balas padaku. Karena dulu aku telah membohongi Ibunya dan tidak pernah datang untuk melamarnya!" ucap Suganda menceritakan segalanya dengan jujur kepada istrinya yang saat ini sedang marah terhadapnya.


"Apakah kau sudah menemui anakmu dengan wanita itu?" tanya Amanda dengan suara yang mulai melemah.


"Tadi siang dia datang ke kantor yang dipimpin oleh Bejo dan dia berusaha untuk menjebak papa dalam rangka memuluskan usaha balas dendamnya terhadap Papa!" ucap Suganda menerangkan segala situasinya kepada Amanda.


"Apakah kau sudah menjelaskan semua hal yang terjadi pada masa itu? Sehingga dia bisa memahami kesulitanmu!" Amanda berusaha untuk membuka hatinya sehingga bisa melihat permasalahan itu dengan lebih bijaksana dan tidak termakan emosi.

__ADS_1


"Bagaimana Papa bisa menjelaskan? Kalau belum apa-apa saja, dia sudah memandang Papa dengan penuh permusuhan!" ucap Suganda dengan frustasi.


Amanda menarik nafasnya dengan dalam kemudian dia melihat ke arah jendela yang di mana Di sana tampak ada seseorang yang sedang mengawasi mereka berdua.


"Apakah Papa mengenal laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh dari rumah kita itu?" ucap Amanda kepada suaminya dan sontak Suganda pun akhirnya memalingkan wajahnya untuk mengikuti instruksi Amanda untuk melihat ke jendela.


"Entahlah mungkin dia adalah seorang detektif yang ditugaskan untuk mengawasi kita berdua!" ucap Suganda dengan loyo dan tidak bersemangat.


"Sudahlah sebaiknya kau habiskan saja makananmu dulu. Setelah itu, Papa pergilah beristirahat. Mama akan mencoba untuk mencari solusi dari permasalahan ini!" ucap Amanda lalu pergi menuju ruang kerjanya.


Suganda mengikuti permintaan istrinya untuk segera menghabiskan makan malamnya dan langsung pergi tidur ke kamarnya.


Pikirannya yang saat ini sedang ruwet tidak ada niat untuk berdebat dengan istrinya.


Sementara itu Amanda yang saat ini ada di dalam ruang kerjanya tampak sedang menghubungi seseorang.


"Pastikan kau mendapatkan semua informasi tentang anak itu. Aku ingin mendapatkannya besok di ruang kerjaku!" ucap Amanda memberikan instruksi pekerjaan kepada detektif yang selalu dia gunakan.


"Baiklah Nyonya Saya pasti akan menjalankan tugas ini nyonya Segera kirimkan file-file orang tersebut!" setelah mengirimkan file yang diinginkan oleh detektif tersebut Amanda kemudian langsung menuju ke kamarnya.


"Apakah kau sudah tidur pah?" tanya Amanda sambil menggoncangkan bahu suaminya.


"Papa sudah sangat lelah! Bisakah kita bicara besok lagi?" ucap Suganda tanpa menatap wajah istrinya.


"Istirahatlah Pah! Mama tidak akan lagi mengganggumu!" kemudian Amanda membaringkan tubuhnya di sebelah suaminya yang saat ini sedang memunggunginya.


Tampak tubuh Suganda bergetar Amanda tahu bahwa suaminya saat ini sedang menangis. "Entah apa yang saat ini sedang membuatmu bersedih. Tapi yang pasti, kau harus percaya bahwa aku pasti akan selalu menemanimu!" ucap Amanda sambil menarik selimutnya kemudian dia pun memejamkan matanya bersiap untuk istirahat.

__ADS_1


Tiba-tiba saja suganda sudah melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Peluklah aku! Karena saat ini aku sangat membutuhkanmu untuk memberikanku kekuatan. Agar aku bisa tetap teguh dan berdiri dengan tegak. Saat aku harus menghadapi anak itu yang sedang ingin membalaskan sakit hati ibunya padaku!" ucap Suganda dengan suara parau dan sedih.


__ADS_2