
Keesokan harinya ayahnya Arini berangkat pagi-pagi ke kantornya dia sengaja agar segera bisa bertemu dengan detektif yang telah dia sewa untuk menyelidiki tentang Prawira.
"Semoga dia bukan anakku! Aku tidak mau memiliki seorang anak penjahat seperti dia yang tidak memikirkan masa depan orang lain dan begitu kejam!" ucap Suganda.
Begitu sampai di kantornya, ayahnya Arini langsung ke dalam ruangannya dan di sana ternyata detektif sudah menunggunya bersama dengan sekretarisnya.
"Selamat pagi tuan Suganda saya sudah mendapatkan semua informasi yang anda inginkan semuanya ada di dalam berkas ini!" detektif tersebut sambil menyerahkan sebuah berkas ke tangan Suganda.
"Apakah kau memastikan bahwa semua yang kau dapatkan adalah valid dan dapat aku percaya?" tanya Suganda sambil menatap tajam kepada detektif tersebut.
"Tentu saja Tuan! Saya mempertaruhkan reputasi saya sebagai seorang detektif. Kalau Anda menemukan kesalahan dalam penyelidikan yang sudah saya laporkan kepada anda!" ucap detektif tersebut sambil menatap tajam kepada Suganda.
"Baiklah! Susan kau kirimkan padanya segera pembayaran untuk jasanya!" ucap Suganda memberikan perintah kepada sekretarisnya.
"Baik Tuan! Akan segera saya laksanakan!" ucap Susan kemudian dia mengajak detektif tersebut untuk mengikuti dirinya.
"Ayo ikut dengan saya Tuan! Saya akan segera membayar jasa anda!" ucap Susan Kemudian mereka pun keluar dari ruangan Suganda.
Setelah kepergian sekretaris dan juga detektif yang dia sewa Suganda kemudian langsung membuka berkas yang tadi diserahkan oleh detektif tersebut.
Suganda membaca semua laporan yang diberikan oleh detektif mengenai Silvia dan juga putranya tampak setumpuk foto yang disertakan di dalam berkas tersebut.
"Ya Tuhan! Ternyata Silvia sudah meninggal 10 tahun yang lalu dan ternyata benar bahwa Prawira adalah Putraku! Oh Tuhan! Apa yang harus kulakukan sekarang?" ucap Suganda sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian dia menutup matanya memijit pelipisnya.
Tampak kebingungan dan juga stres di wajah Suganda saat ini.
__ADS_1
"Seharusnya aku bahagia karena ternyata aku masih memiliki keturunan yang lain, selain Arini yang sudah meninggal. Tampaknya Tuhan masih berbaik hati kepadaku, dengan memberikan Prawira sebagai keturunanku. Tetapi kenapa aku tidak merasa bahagia mendengar kenyataan ini. Ya Tuhan?" ucap Suganda sambil menerawang ke masa lalu.
Ketika dia pertama kali bertemu dengan Silvia ibu kandung Prawira yang saat ini sedang menuntut balas kepadanya dengan berusaha untuk menghancurkan perusahaannya.
Flash back on
Tampak dua orang remaja yang sedang bersama di sebuah gubuk yang ada di sebuah kebun jagung.
"Mas akan kembali setelah mendapatkan restu dari kedua orang tuaku dan aku akan membawamu ke kota!" ucap Suganda sambil memegang kedua tangan Silvia.
"Apakah kau sungguh-sungguh akan datang kemari?" tanya Silvia seperti tidak percaya dengan janji laki-laki yang ada di sampingnya.
"Kau harus percaya sama Mas! Mas pasti akan datang dan membawamu kepada kedua orang tuaku dan mengenalkanmu sebagai calon istriku!" ucap Suganda dengan penuh keyakinan kepada Silvia.
Suganda tampak melirik sekilas kepada Silvia yang saat ini sedang mengelus perutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oleh karena itu saya harus meminta izin kepada kedua orang tua saya untuk bisa melamarmu dan menjadikanmu sebagai istriku!" ucap Suganda sambil mengelus rambut Silvia yang panjang dan hitam.
"Aku akan menunggumu Mas! Tapi kalau satu minggu kau tidak datang juga ke rumahku untuk melamar. Maka aku pasti akan menggugurkan kandungan ini. Karena aku tidak mau menanggung malu hamil tanpa suami!" ucap Silvia dengan mata berapi-api menatap kepada Suganda.
"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau kalau sampai aku tidak datang ke rumahmu untuk melamarmu!" ucap Suganda sambil menatap lekat Silvia wanita yang dia cintai.
"Baiklah Mas harus segera kembali ke kota. Karena teman-teman semuanya sudah bersiap untuk kembali!" ucap Suganda kemudian dia berpamitan kepada Silvia.
Begitu sampai di rumahnya Suganda langsung menyampaikan perihal tentang Silvia dan meminta kepada kedua orang tuanya untuk melamar Silvia sebagai istrinya.
__ADS_1
"Apa kau gila? Bagaimana mungkin keluarga kita memiliki seorang menantu gadis desa? Kau jangan pernah bermimpi Kalau kami akan menjadikan dia sebagai istrimu!" teriak ayahnya Suganda dengan mata melotot penuh amarah yang membuncah di dadanya.
"Tapi Silvia sedang hamil Pah! Saya harus menikahi dia!" ucap Suganda sambil menundukkan kepalanya.
"Kau benar-benar lancang! Kau pergi ke desa itu untuk KKN. Kenapa kau membawa aib ke dalam keluarga kita, huh? Kau benar-benar bikin papa sangat kecewa padamu!" ucap ayahnya Suganda sambil bertolak pinggang terhadap putranya.
Beliau benar-benar sangat kecewa dengan perbuatan putranya yang sudah melanggar norma-norma dan tata Susila yang beredar di negara ini.
"Papa tidak peduli pokoknya Papa tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk menikahi perempuan itu kau harus camkan perkataan papa!" ucap ayahnya Suganda tetap kekeh tidak mau menuruti keinginan anaknya untuk melamarkan kekasihnya sebagai istrinya.
"Pah! Tenanglah! Jangan emosi. Tidak ada kebaikan di dalam emosi. Bicaralah baik-baik dengan Putra kita. Bagaimanapun juga anak yang ada di dalam kandungannya adalah cucu kita darah daging kita?" ucap ibunya Suganda sambil menarik tangan suaminya agar duduk sehingga bisa berbicara dengan lebih tenang dengan putranya.
"Bagaimana aku bisa bicara tenang dengan anak semacam dia, Mah? Anak kurang ajar yang sudah mencorengkan Aib di dalam keluarga kita!" ucap ayahnya Suganda sambil menatap tajam kepada putranya yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
"Pokoknya Papa tidak akan menerima anak haram itu menjadi keturunan kita! Walaupun sampai aku mati tidak akan ku terima dia!" ucap ayahnya Suganda dengan mata berapi-api sehingga membuat Suganda kehilangan kata-kata untuk menentang sang ayah yang selalu menjadi pemegang otoritas tertinggi di keluarganya.
"Papa sudah memilihkan calon istri untukmu dari keluarga beradab, keluarga terpandang dan juga layak. Dan yang paling penting, keluarga itu setara dengan keluarga kita!" ucap ayahnya Suganda menatap putranya dengan tajam. Kata-katanya tidak bisa dibantah sama sekali oleh siapapun yang ada di dalam rumah itu.
"Tapi saya mencintai Silvi Pah! Saya tidak akan membiarkan anak saya tidak memiliki ayah!" ucap Suganda tetap keukeuh tidak menginginkan pernikahan yang sudah diatur oleh ayahnya.
"Kalau kau memang mencintai dia, harusnya kau menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan dan membawa dia secara baik-baik ke dalam rumah ini. Bukan dengan cara hina semacam itu! Apa kau paham? Dengan kau membuat dia hamil sebelum pernikahan kalian, itu sama saja kau telah menghina dia sebagai perempuan!" ucap ayahnya Suganda dengan menatap tajam ke arah putranya yang kini semakin menundukkan kepalanya dengan dalam.
"Mah segera atur pertemuan dengan keluarga Abimanyu. Katakan pada mereka, bahwa kita akan segera melaksanakan pernikahan kedua anak kita satu minggu dari sekarang!" ucap ayahnya Suganda dengan nada tegas dan keras kemudian dia langsung meninggalkan anak dan istrinya di ruang tamu.
"Mah saya tidak mau menikah dengan perempuan yang tidak saya ketahui. Saya mencintai Silvia dan saya pasti akan berjuang untuk menjadikan dia sebagai istriku!" ucap Suganda sambil memegang kedua tangan ibunya berusaha agar ibunya mau membantu dirinya berjuang mendapatkan cinta yang dia inginkan di dalam hidupnya.
__ADS_1