Gala Asmara Cinta Segi Enam

Gala Asmara Cinta Segi Enam
37. Mengejar Reynaldi


__ADS_3

Hari itu, papanya Reynaldi yang baru saja pulang dari kantor langsung mengamuk, ketika mendapatkan informasi bahwa putranya telah kabur dari rumah.


"Cepat cari anak bengal itu! Kalau tidak ketemu, kalian semua akan saya pecat!" ancam Papanya Reynaldi dengan kesal bukan main. Bagaimana tidak? 30 bodyguard yang berbadan besar dia tugaskan untuk menjaga satu orang, bagaimana bisa lolos? Bodoh sekali!


"Sudah, Pah! Kan sudah Farel bilang, jangan memaksa kepada Reynaldi,lihatlah! Dia jadi kabur bukan?" ucap Farel. Papanya malah melotot jengkel kepadanya.


"Dia jadi bengal seperti itu, karena ajaran buruk kamu!" cecar sang Papa sangking gemasnya.


"Punya anak cuma dua! Semuanya tidak ada yang bisa di atur?! Pada pintar bikin hati orang tuanya kenat kebit begini!" Farel memilih masuk ke kamarnya, dari pada jadi sasaran kemarahan Papanya.


"Kenapa, sayang?" tanya Cansu.


Farel mendekati istrinya lalu melihat putra mereka yang masih bayi. "Reynaldi kabur dari rumah! Papa sedang mengamuk di depan!" ucap Farel sambil mencium pipi gembul putranya.


"Sayang, kita pindah aja, yuk! Kangen dengan rumah kita!" pinta Farel sambil mengalungkan tangannya ke leher sang istri yang sedang berdiri di depan balkon kamar mereka.


"Kakek dan Papah pasti gak ijinkan, mereka masih betah bermain dengan anak kita!" ucap Cansu.


"Mereka sedang pusing dengan urusan Reynaldi, gak akan ada waktu buat urusin kita loh! ucap Farel.


" Tetap saja, kita harus ijin dulu, sayang! Aku gak mau, nanti dikira aku lagi, yan minta sama kamu buat kita pindah dari sini!" ucap Cansu.


"Ya udah, nanti besok aku akan bilang sama mereka, kamu siapkan saja barang-barang kita." Farel lalu mengajak istrinya untuk masuk ke dalam. Angin semakin kencang, Farel tidak ingin istrinya nanti masuk angin.


"Kita tidur saja, ya? Cape banget, nih!" ucap Cansu sambil membenamkan wajahnya ke dada sang suami.

__ADS_1


Farel hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tetapi akhirnya keduanya terlelap juga. Karena malam memang telah larut sekali. Farel tadi terlambat pulang, karena harus menyelesaikan tugas-tugas Reynaldi yang terbengkalai.


Sementara itu, di kamar hotel kecil, Reynaldi benar-benar tidak bisa tidur. Kamar yang sempit, panas dan pengap, tidak bisa mengantar dirinya untuk tidur. Reynaldi mulai frustasi. Badan lelah tapi mata sudah terpejam.


"Arini sedang apa, ya?" tanyanya, lalu iseng-iseng membuka ponselnya, saat di lihat nomornya Arini, Arini online 20 menit yang lalu.


"Wah, parah nih! Dia online tapi gak hubungi gue?" kesal rasa hati Reynaldi, lalu dia memutuskan untuk menelpon Arini. Mau protes sama kekasihnya itu.


"Ya, sayang! Ada apa?" tanya Arini di sebrang sana.


"Kamu tadi online, kok gak hubungi aku, sih? Apa kamu tahu, aku hampir gila karena bosan?" cicit Reynaldi sambil bolak balik di kasurnya.


"Ya kan, pilihanmu! Siapa yang suruh kamu kabur?" tanya Arini mulai kesal juga.


"Aku memperjuangkan cinta kita, tapi kamu ko bicaranya kayak gitu? Melukai hatiku!" ucap Reynaldi.


"Apa kau mengantuk?" tanya Reynaldi.


"Ya, ini sudah tengah malam, wajar kalau ngantuk. Apa kau tidak bisa tidur?" tanya Arini yang langsung di iyakan oleh Reynaldi.


"Pejamkan mata kamu, biar aku bercerita sedikit." ucap Arini. Tapi Reynaldi tidak mau.


"Aku bukan anak TK! Udah, kita tidak bisa begini terus! Kapan kamu datang mengunjungi aku? Aku kangen berat sama kamu, sayang!" rengek Reynaldi.


Arini terkekeh-kekeh dengan pengakuan Kekasihnya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, besok kita jalan-jalan ke pantai. Kamu siap-siap aja! Nanti aku jemput. Ok?" tanya Arini.


"Baiklah, kamu jangan lama-lama, aku hampir mati bosan disini!" ucap Reynaldi, setelah panggilan di akhiri. Reynaldi baru bisa terlelap. Rasa lelah akhirnya menang.


Keesokan harinya, Arini datang sekitar pukul 09.00 dan Reynaldi masih terlelap, resepsionis yang kemarin, memberikan kunci cadangan agar Arini bisa masuk ke kamar Reynaldi. Saat masuk, Reynaldi masih terbaring di kasurnya. Arini hanya bisa menarik nafas dalam-dalam.


"Ah, dia kelelahan tampaknya. Aku biarkan saja dia tidur, nanti habis dhuhur biar aku kembali lagi." Arini lalu membuka jendela dan keluar dari kamar itu.


"Silau! Tutup lagi!" ucap Reynaldi parau.


"Kamu sudah bangun?" tanya Arini senang.


"Aku sudah bangun, tapi aku masih lelah!" ucap Reynaldi.


"Kau habis ngapain? Ko bisa lelah? Apa kau main perempuan di belakang aku?" Arini sudah marah dan kesal membayangkan Reynaldi bergumul di kamar ini dengan perempuan lain.


"Aku gak akan datang kesini lagi!" Arini lalu menutup pintunya dengan kesal dan langsung pergi ke rumahnya.


"Sial!" umpat Arini sangat kesal sekali.


"Ada apa, sayang?" tanya Papahnya.


"Tidak apa-apa! Papah mau ke kantor?" tanya Arini.


"Ya, Papah mau memeriksa beberapa investasi. Gak lama kok, setelah selesai, Papa akan langsung pulang." kemudian Papahnya itu pergi dan meninggalkan Arini dalam kesendirian.

__ADS_1


Mamahnya sedang pergi ke luar negeri. Mengurus perusahaan miliknya yang sedang ada masalah. Semua tampak sibuk, kecuali dirinya.


"Aku harus mulai mencari pekerjaan!" ucap Arini.


__ADS_2