
"Maaf Pak, praktik dokter Obgyn hari ini di mulai pukul sepuluh nanti, karena dokter sedang bertugas operasi di rumah sakit lain," jelas resepsionis yang menyambut kedatangan Adnan dan Alisha.
Saat ini mereka sudah berada di sebuah klinik terdekat dari villa, karena jika ke rumah sakit akan memakan waktu cukup lama, tapi ternyata dokter tidak praktik di pagi ini, melainkan nanti pukul sepuluh siang.
"Begitu ya Sus," timpal Adnan. Ia berfikir sejenak lalu berucap kembali, "Seandainya nanti kami datang pukul sepuluh bisa langsung bertemu dokter kan sus? Maksud saya enggak usah daftar lagi,"
"Maaf Pak, sesuai prosedur kami, bapak harus daftar lagi dan ibu harus melakukan pemeriksaan awal dahulu sebelum bertemu dokter,"
Adnan menghembuskan nafas kasar, setelah itu ia mengajak Alisha untuk ke luar dari klinik, bermaksud mencari klinik yang lain. Ia tidak sabar ingin melihat kondisi kandungan sang istri.
"Pulang dulu lah Mas, aku enggak nyaman pake pakaian ini, udah kotor, banyak bercak darah. Tadi aja aku sempet liat ada beberapa orang ngeliatin aku kaya aneh gitu, emang kamu tega?" rengek Alisha, ia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya.
"Lagian Cantika kita tinggal sendirian, dia pasti nyariin entar," tambahnya.
Adnan menghembuskan nafas kasar, ia baru teringat jika Cantika di villa hanya bersama Anita. Tapi ia juga merasa khawatir dengan keadaan Alisha.
"Yaudah pulang dulu, setelah itu kita ke rumah sakit. Jalan-jalannya tunda dulu, nanti kalau kamu baik-baik saja, baru kita jalan-jalan, tapi kalau keadaan sebaliknya, kamu tetap di villa, biar aku yang ajak Cantika jalan-jalan," keputusan Adnan sepertinya tidak bisa di negosiasi lagi.
"Harus nurut, demi kebaikan kamu dan anak kita, sayang," tambahnya saat melihat wajah cemberut Alisha.
"Iya," jawab Alisha seperti tak memiliki tenaga. Setelah itu ia pun langsung naik ke dalam mobil dan meninggalkan Adnan yang masih berdiri di tempat.
Benar saja saat sampai di villa Cantika tampak sedang di bujuk oleh Anita, sepertinya gadis kecil itu merajuk. Memeluk boneka kesayangannya sambil menangis, tapi saat melihat kedatangan Adnan dan Alisha, Cantika langsung berlari memeluk tubuh Alisha.
"Hati-hati sayang, enggak usah lari," ucapan Adnan tidak di hiraukan oleh Cantika bahkan gadis kecil itu seperti tak mendengar ucapan Papanya.
__ADS_1
"Mama sama Papa kenapa ninggalin aku? Katanya kita mau ke kebun stroberi sama-sama, tapi kenapa Cantika di tinggal sendirian?" Cantika menangis dalam pelukan Alisha.
"Maaf ya sayang, Mama sama Papa enggak bermaksud ninggalin Cantika, tadi Mama sama Papa ada keperluan sebentar, setelah ini kita pergi bareng ya, tapi Mama mau mandi dulu. Cantika sarapan dulu sama Embak, habis itu siap-siap ya," Alisha mencoba membujuk Cantika supaya tidak merajuk lagi. Dan akhirnya Cantika pun menuruti permintaan sang Mama.
🌻🌻🌻
Alisha tersenyum penuh semangat, setelah ke luar dari ruang pemeriksaan. Karena dokter mengatakan jika kandungan Alisha baik-baik saja dan tidak perlu khawatir. Mungkin Alisha melompat dari sepeda tadi tidak terlalu kencang atau memang ia sudah ahli dalam hal lompat-melompat, maklumlah Alisha seorang pendekar.
Berbeda dengan Alisha, sang suami justru terfikirkan akan hal lain. Yang di ucapkan oleh dokter tersebut, entah kenapa Alisha seperti tidak memikirkan ucapan dokter itu. Atau mungkin tidak mendengarnya, entahlah.
Ia ingat dokter di rumah sakit tersebut sempat terkejut melihat Cantika, dan saat Cantika sudah ke luar ruangan sang dokter berucap, "Maaf Mas, apa benar dia namanya Cantika Putri Raharjo? Dia anak yatim piatu, orang tuanya meninggal karena rumahnya kebakaran,"
"Dokter tahu? Iya dia namanya Cantika Putri, tapi saya tidak tahu nama kalau namanya ada Raharjonya, kita mengadopsi dia dari panti asuhan. Kata pengurus panti, Cantika sudah tidak punya keluarga, jadi dia di titipkan di sana," jelas Adnan.
"Dulu, Mama nya waktu hamil selalu periksa di tempat saya dan saat Cantika sakit pun beliau selalu membawa Cantika ke rumah saya, kebetulan saya buka praktik di rumah, jadi saya hafal sama Cantika ini. Ayahnya termasuk pengusaha muda yang sukses, tapi ternyata Tuhan lebih sayang sama beliau dan sang istri serta kedua Kakak Cantika," ucap dokter itu panjang lebar.
"Jaga dia dengan baik ya Mas, saya rasa Mas dan Embaknya adalah orang tua angkat yang tepat untuk Cantika," dokter itu seperti menyembunyikan sesuatu dari Adnan dan Alisha.
Adnan memikirkan semua ucapan dokter itu, ia juga menebak-nebak apa yang di sembunyikan oleh dokter tersebut, sebenarnya ia ingin bertanya di mana alamat rumah Cantika tapi urung, karena dokter memiliki banyak pasien, saat ini.
"Kenapa sih Mas? Wajah kamu kok kusut gitu sih?" tanya Alisha membuat Adnan tersadar dari lamunan panjangnya, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil.
Adnan melirik ke belakang, di mana Cantika dan Anita berada. Sepertinya Cantika mengantuk, saat ini sedang memeluk boneka kesayangannya sambil kepalanya menunduk.
"Apa kamu enggak kepikiran tentang ucapan dokter tadi?" bukannya menjawab Adnan justru balik bertanya.
__ADS_1
"Yang mana Mas?"
"Itu lho, kalau dokter tadi mengenal orang tua Cantika, dia pernah memeriksa Cantika waktu masih kecil sebelum orang tuanya meninggal, dokter itu juga tadi bilang kan, kalau sejak hamil Mamanya Cantika selalu periksa di sana," jelas Adnan dengan suara pelan, takut jika Cantika mendengarnya. Itulah yang menjadi fokus pemikirannya saat ini.
"Emang apa salahnya sih Mas? Toh mereka sudah tidak ada sekarang, Cantika juga sudah bersama kita, kan?" Alisha masih belum mengerti apa yang di khawatirkan oleh sang suami.
"Apa kamu enggak merasa ada yang aneh gitu? Ini dimana coba? Waktu pertama bertemu Cantika kamu di panti asuhan mana coba? Terus kenapa bisa sampai panti sejauh itu? Di daerah sini juga pasti ada, kan panti asuhan?"
Alisha berfikir sejenak, memikirkan apa yang di katakan oleh suaminya. Benar juga, ini di daerah kota Bogor, sedangkan Cantika kenapa bisa berada di panti asuhan daerah Jakarta? Banyak teka-teki yang belum terpecahkan.
"Apa perlu kita cari tahu siapa keluarga Cantika, Mas?" tanya Alisha.
"Sepertinya begitu, setelah tahu kita pasti akan menemukan jawaban di balik semua kekhawatiran ku, bisa jadi ada seseorang di balik semua ini,"
Alisha kembali memikirkan apa yang di ucapkan oleh sang suami, mungkin benar juga apa yang dikatakan Adnan, jika semua yang terjadi dengan keluarga Cantika ada campur tangan dari orang lain.
"Apa kita cari makam orang tuanya aja? Atau alamat rumahnya, tapi tanya sama siapa Mas? Bu panti aja enggak tahu di mana makam kedua orang tua Cantika,"
"Bentar, di berita online pasti masih ada tentang kebakaran rumah orang tua Cantika, coba cari keluarga Raharjo, mungkin nama ayah atau kakek Cantika itu Raharjo," Adnan menyuruh Alisha mencari berita dua tahun lalu tentang kebakaran yang terjadi di rumah keluarga Cantika.
Alisha terkejut setelah mendapatkan informasi tentang keluarga Raharjo.
"Ada apa sayang?" tanya Adnan yang melihat keterkejutan sang istri.
"Kita harus bahas ini di villa, kamu pasti juga terkejut sama seperti aku," ucap Alisha, ia tidak mau membahas masalah ini di jalan, takut mengganggu perjalanan mereka.
__ADS_1