Gara-gara Perjodohan

Gara-gara Perjodohan
Demi Kamu


__ADS_3

Sudah hampir sepuluh menit lima orang di dalam sebuah kamar hanya diam sepertinya tak ada yang ingin memulai pembicaraan, hanya suara Cantika yang berbisik di telinga Alisha dan Mamanya itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Entah keheningan itu akan bertahan sampai berapa lama?


Nenek hanya bisa menitikan air mata tanpa mengucap sepatah katapun, sedangkan Alisha yang duduk di hadapannya sambil memangku Cantika hanya bisa mengelus salah satu tangan nenek.


Adnan berkali-kali menghembuskan nafas, ia masih enggan untuk berbicara, hatinya mengatakan untuk diam seribu bahasa, sedangkan pikirannya mengatakan jika ia harus ikhlas menerima semua yang terjadi di masa lalu, seperti saat setelah mendapatkan petuah dari Bunda dan Mama mertuanya.


"Tante permisi saja, mungkin kamu butuh waktu bicara dengan Nenek tanpa adanya Tante," ucap Tante Siska, baru saja ia akan beranjak dari duduknya, Adnan menghalangi pergerakan Tante, akhirnya Tante Siska pun kembali duduk di tempat semula.


"Aku ke sini cuma mau ngajakin nenek untuk berobat dan ada satu hal lain lagi yang ingin aku sampaikan, untuk semua yang telah terjadi, jangan di bahas dulu," ucap Adnan dengan ekspresi wajah datar.


"Nenek tidak perlu di bawa ke rumah sakit, sudah bertemu dengan kamu saja nenek bahagia, karena sudah memberitahu semuanya ke kamu," timpal nenek sambil mengusap air mata yang masih enggan berhenti.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi sepertinya aku akan berdosa jika menyimpannya, karena kalian berhak tau, meskipun tidak bisa berbuat apa-apa," ucap Adnan tanpa menanggapi ucapan nenek.


Tante Siska tampak mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang Adnan bicarakan. Sama halnya dengan nenek yang tidak mengerti ke mana arah pembicaraan nenek.


Adnan menatap Alisha, dan istrinya itu tersenyum lalu mengangguk, seakan mengatakan, "Iya, katakan saja sejujurnya,".


Adnan menghembuskan nafas panjang, "Cantika sini sayang, duduk sama Papa." Adnan menuntun Cantika untuk duduk di pangkuannya.


"Dia juga cucu Nenek, dia anak terakhir Tante Luna, aku bisa datang ke tempat ini juga karena dia," ucap Adnan setelah Cantika duduk di pangkuannya. Ia memeluk erat tubuh Cantika.


Tante Siska dan Nenek terkejut mendengar penjelasan Adnan, mereka tidak menyangka jika anak kecil itu adalah anak Luna. Tadi sempat mengira jika Cantika salah satu adik dari Alisha atau mungkin keponakan Alisha.


"Jangan bercanda kamu, Tante tidak percaya. Menurut keterangan polisi bukannya semuanya meninggal tidak ada yang selamat? Kamu pasti bohong, kan?" Tante Siska benar-benar tidak percaya dengan ucapan Adnan.


"Terserah Tante mau percaya apa enggak, yang penting aku sudah memberitahu yang sesungguhnya," timpal Adnan.

__ADS_1


Berbeda dengan Tante Siska, sepertinya nenek percaya dengan ucapan Adnan, karena air matanya terus menetes bahkan makin deras. Lalu menjulurkan kedua tangannya untuk meraih Cantika, ingin memeluk cucu terahirnya itu. Cucu yang sempat ia lihat saat masih bayi dan setelah itu tidak pernah lagi melihatnya, karena sakit yang di derita juga Luna yang sudah jarang datang. Jika datang pun tanpa mengajak anak-anaknya.


"Sini sayang, ini nenek," ucap Nenek.


Cantika menatap Mama dan Papanya, setelah mendapat persetujuan Cantika pun mendekat ke arah Nenek lalu memeluknya. Ia masih belum begitu mengerti dengan semua yang terjadi saat ini. Ia memang tahu jika nama mamanya adalah Luna, tapi tidak tahu jika nenek itu adalah ibu dari Mamanya.


"Sayang, Cantika nenek ini adalah ibu dari Mama Luna yang sudah berada di syurga, jadi nenek ini adalah nenek Cantika." Alisha mengusap punggung Cantika yang masih dalam pelukan nenek.


"Kamu harus sayang sama nenek seperti kamu sayang sama Mama, Cantika ngerti, kan?" ucapnya lagi.


Cantika mengangguk, ia mulai terisak sepertinya ia mengerti dengan semua ucapan Alisha.


"Nek, Mama Papa sama Abang-abang Cantika ninggalin Cantika sendirian pas nginep di rumah Diva, mereka nakal Nek, pergi enggak pamitan sama Cantika," gadis kecil itu mengadu pada nenek, ia ingat saat di mana kedua orang tua serta kedua kakaknya menghilang setelah rumah mereka rata habis di lahap api.


"Kan masih ada nenek, ada Tante dan ada kakak-kakak kamu, Kak Bintang sama Kak Alisha," ucap Nenek, masih memeluk tubuh Cantika.


"Bukan Kak Alisha tapi Mama Alisha Nek, dan siapa Kak Bintang? Aku enggak kenal," tanya Cantika yang memang tidak mengenal nama Bintang.


Nenek melepas pelukannya, lalu menatap Cantika penuh tanya. Lalu menatap Alisha bergantian juga dengan menatap Adnan.


"Nama Bintang sudah lama di ganti sama Bunda Ayu, yang dulu mengadopsi Mas Adnan dari panti, dan soal panggilan Mama dan Papa karena kami yang mengadopsi Cantika dari panti, awalnya tidak tahu jika Cantika anak dari Tante Mas Adnan," jelas Alisha yang sepertinya mengetahui kebingungan di wajah nenek.


Sedangkan Adnan masih diam membisu. Ia sebenarnya sudah lega setelah mengatakan hal itu ada nenek dan Tante. Meskipun masih was-was, takut jika Tante Siska melaporkan pada keluarga Raharjo jika salah satu cucu mereka masih hidup. Jujur ia masih belum percaya seratus persen dengan Tante, tapi jika dengan nenek ia tahu kalau neneknya itu tulus.


Nenek menghembuskan nafas panjang, ia tidak habis pikir kenapa nama sebagus itu harus di ganti? Tapi tidak apalah, itu tidak penting. Yang terpenting sekarang ia bahagia karena sudah bertemu dengan kedua cucunya.


"Cantika nanti tidur di sini sama nenek ya, Cantika mau kan?" tanya nenek.

__ADS_1


Cantika menoleh ke arah kedua orang tuanya, Alisha mengangguk sedangkan Adnan sepertinya tidak mengijinkan Cantika untuk menginap, takut terjadi sesuatu dengan putrinya. Ia pun memiliki sebuah ide, jika nenek mau tidur bersama Cantika.


"Nenek ikut kami saja kalau mau tidur dengan Cantika, besok kita ke rumah sakit, itu kalau nenek setuju," ucap Adnan.


Nenek tampak menimbang, setelah beberapa detik berfikir jawabannya masih sama tidak mau ke rumah sakit.


"Nenek tidka mau ke rumah sakit, nenek sudah tua, sembuh pun tidak ada gunanya, lebih baik nenek seperti ini saja dari pada membuang banyak uang tapi hasilnya nanti mengecewakan," ucap Nenek.


Adnan menyerah, ia tidak mau memaksa kehendak nenek, yang terpenting ia sudah berusaha untuk membantu meskipun di tolak oleh nenek.


"Kalau Cantika tidak boleh menginap, biarkan dia seharian di sini, nenek masih mau sama cucu Nenek ini, boleh ya," nenek memohon, ia ingin berlama-lama bermain dengan Cantika, bahkan jika di ijinkan ia ingin mengajak Cantika untuk tinggal di rumah itu.


Adnan tampak berfikir, belum juga menemukan jawabannya sang istri lebih dahulu bersuara.


"Maaf Nek, aku mau bicara sebentar sama Mas Adnan," ucap Alisha, setelah di persilakan Alisha menarik Adnan untuk ke luar rumah, masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu mobil.


"Mas, biarkan Cantika menginap di sini semalam saja, apa kamu enggak kasian sama nenek? Nanti Anita yang kita suruh untuk menemani kalau kamu enggak mau," ucap Alisha, ia merasa iba melihat nenek berharap bisa memeluk Cantika sepanjang malam.


"Tapi bahaya, sayang. Aku belum percaya sama Tante Siska," ucap Adnan, mengeluarkan unek-unek yang ada dalam pikirannya.


"Jangan suudzon, ada suami Tante Siska juga, kamu ih suudzon melulu, aku jamin Cantika akan baik-baik saja di sini," bujuk Alisha.


Adnan menghela nafas lalu menatap sang istri penuh cinta, "Baiklah, demi kamu, sayang," ucapnya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2