
Untung saja, setelah meminta asinan di tengah malam, Alisha tidak lagi meminta yang aneh-aneh selama di puncak, Adnan sedikit lega akan hal itu. Apalagi saat mengingat nasib asinan yang susah payah ia dapatkan itu tidak bernasib baik, karena setelah siang hari Alisha sudah melupakan makanan tersebut dan berakhir di tempat sampah karena lupa tidak di simpan dengan baik.
Sebenarnya Adnan sedikit menyesal melihat nasib buruk yang menimpa asinan itu, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikhlaskannya.
Hari ini mereka sudah berada di perjalanan pulang, seperti biasa Cantika selalu bercerita heboh dengan Anita di kursi belakang, menceritakan pengalaman liburannya yang tanpa Anita, karena wanita itu tinggal di villa selama mereka berlibur. Alisha sengaja tidak mengajak Anita supaya lebih dekat dengan Cantika tanpa adanya pengasuh, dan Anita tugasnya hanya menemani Cantika tidur di malam hari.
"Mas, beli asinan dulu ya, kemaren aku kan enggak jadi makan itu," ucap Alisha.
"Tapi harus di makan, kalau enggak di makan mendingan enggak usah beli, kan jadi mubadzir," Adnan tidak mau kejadian malam itu terulang lagi.
"Kamu enggak ikhlas ya waktu itu beliin aku asinan?" tanya Alisha sewot, ia terlihat kecewa mendengar jawaban sang suami, ia mengira Adnan tidak ikhlas membelikan asinan itu setelah mendengar ucapan Adnan.
"Bukan begitu sayang, aku ikhlas beliin kamu asinan waktu itu, serius. Aku cuma enggak mau kamu memubadzirkan makanan, itu aja," Adnan tidak habis pikir, kenapa bisa Alisha berfikiran seperti itu? Padahal tadi ia berbicara dengan nada santai.
Alisha diam, sepertinya ia belum percaya dengan ucapan Adnan.
"Jadi beli enggak nih?" tanya Adnan setelah berhenti di depan penjual asinan.
"Enggak," jawab Alisha tanpa menatap sang suami.
"Jangan ngambek gitu dong sayang, apa enggak malu di liat sama anak kita?" Adnan berbisik di dekat telinga Alisha, mengingatkan istrinya jika mereka tidak hanya berdua di dalam mobil.
"Mama kenapa Pa? Pusing ya?" tanya Cantika dengan polosnya.
"Enggak sayang, Mama baik-baik aja, cuman ngantuk katanya," jawab Adnan berbohong.
__ADS_1
"Tidur aja Ma kalo ngantuk, aku juga ngantuk mau tidur," celetuk Cantika dan di balas senyuman oleh Alisha.
"Biar aku yang turun, kamu tunggu aja di sini," ucap Adnan, ia tetap akan membelikan asinan sesuai permintaan Alisha tadi, ia tidak mau jika nanti sampai rumah harus kembali ke Bogor untuk membeli asinan.
Benar saja setelah menempuh perjalanan panjang, baru saja mereka sampai di rumah Alisha terlihat antusias sambil membawa paperbag berisi asinan yang tadi Adnan beli dan langsung melahapnya tanpa merasakan lelah sedikit pun. Membuat Adnan tersenyum penuh kemenangan.
🌻🌻🌻
Alisha sudah kembali masuk kuliah, begitu pun dengan Adnan yang kembali menjadi dosen dan menggeluti pekerjaannya di kantor Ayah. Keadaannya yang selalu kurang fitt kadang membuatnya kesusahan saat berada di kampus maupun di kantor. Selalu saja seperti itu jika jauh dari sang istri, entah kenapa semua itu bisa terjadi pada dirinya, seakan bayi dalam kandungan Alisha tidak mau terpisah dengan Papanya barang sedikit pun. Tapi Adnan tetap menyemangati dirinya sendiri untuk selalu kuat dalam segala hal.
Hari ini Adnan harus full berada di kampus sampai sore nanti, akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan pekerjaannya pada Agil. Meski begitu ia tak pernah memiliki keinginan untuk resign dari kampus, entah kenapa ia sudah cinta dengan profesinya sebagai dosen.
Alisha yang mengetahui jika suaminya akan berada di kampus sampai sore, akhirnya memutuskan untuk ke kampus sang suami setelah ia menyelesaikan kelasnya. Sekedar ingin mengajak sang suami makan siang, supaya rindunya terobati. Entah kenapa ia juga merasakan tidak enak jika harus berjauhan lama-lama dengan Adnan, merasakan rindu yang tiada tara, padahal mereka bertemu setiap hari dan hanya berpisah beberapa jam saja, itu pun karena kegiatan masing-masing.
Tanpa memberitahu kedatangannya, Alisha yang sudah tahu di mana ruangan Adnan pun langsung menuju ke ruangan sang suami tersebut, tapi di sini ia masih memiliki sopan santun dengan mengetuk pintu ruangan Adnan terlebih dahulu, tidak seperti di kantor yang sukanya main masuk tanpa mengetuk pintu.
Adnan bangkit dari duduknya, menyambut Alisha dengan pelukan dan juga kecupan di kening sang istri, rindunya langsung terobati.
"Masih sibuk ya Mas?" tanya Alisha setelah melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Enggak juga sih, mau makan siang bareng?" tanya Adnan.
"Iya, kebetulan mata kuliahku udah habis, jadi bisa makan siang bareng," jawab Alisha.
"Yuk, mau di luar apa di sini?"
__ADS_1
"Di luar dong, malu lah kalau makan di kantin kampus, aku bukan anak sini," jawab Alisha, ia tidak mau menjadi pusat perhatian jika makan di kantin kampus bersama dosen mereka.
Dan siang ini mereka benar-benar makan di luar, di sebuah kafe yang letaknya dekat dengan kampus Adnan.
"Sudah ada kabar tentang Cantika?" tanya Alisha, sebenarnya ia juga memikirkan tentang asal usul Cantika.
"Sudah ada beberapa, tapi masih belum yakin juga. Tadi aku baru di kabari, mereka juga masih menduga belum pasti," jawab Adnan.
Saat ini mereka sedang duduk di kafe, menunggu pesanan mereka datang.
"Info seperti apa? Aku jadi makin penasaran dan enggak sabar pengen tahu semuanya," tanya Alisha.
"Dari info yang aku dapat sih, Papanya Cantika yang namanya Erik Raharjo itu salah satu dari ketiga anak Bapak Raharjo, pemilik perkebunan teh di hampir seluruh daerah puncak, tapi dia menikah dengan Mamanya Cantika tanpa restu orang tua, dan akhirnya dia di usir dari rumah dan mendirikan usaha sendiri hingga sukses," jelas Adnan, ia menceritakan informasi yang ia dapat dari orang suruhannya.
"Tapi ada yang bilang kalau Pak Raharjo itu hanya memiliki dua anak, dan tidak ada yang namanya Erik Raharjo, entahlah, masih di selidiki lagi. Semoga aja bisa tahu siapa Cantika sebenarnya,"
"Kalau soal kebakaran gimana?" Alisha merasa belum puas mendengar penjelasan Adnan, padahal Adnan pun merasakan hal yang sama.
"Menurut info, murni karena korsleting listrik dan kasusnya di tutup tanpa penyelidikan mendalam, dan di sini aku curiga, pasti ada konspirasi, aku sudah suruh mereka buat cari informasinya sampai ke akar-akarnya, jika benar ada yang memang merencanakan semuanya, mereka harus di adili," terang Adnan panjang lebar.
"Iya Mas, ya meskipun Cantika belum mengerti tentang semua itu, dia harus mendapatkan keadilan kan?"
"Iya, itu yang aku pikirkan. Takutnya nanti di masa mendatang akan berakibat tidak baik untuk Cantika, dan aku tidak mau itu terjadi,"
"Semoga aja cepat terbongkar semuanya,"
__ADS_1
Mereka berdua hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada sang Pencipta, yang penting sudah berusaha sebaik mungkin untuk Cantika.