
"Dan Lo tau enggak Kak, Kakaknya Angkasa itu ternyata orang yang gue cari, dia yang nolongin gue, mungkin emang kita jodoh ya," Alisha tidak tahu jika ada hati yang perih mendengar penuturannya.
"Seriusan? Untung aja ya, waktu itu kita tukeran," Yesha mencoba untuk menahan gejolak di dadanya, ia akan ikut bahagia jika Alisha bahagia dengan orang yang tepat menurutnya, karena menurutnya Adnan lebih tepat untuk Alisha meskipun ia belum bisa mengikhlaskannya.
"Serius dong, kabar baiknya lagi, kita akan menikah sebulan lagi Kak," Alisha melupakan masalah Yesha karena ia antusias menceritakan pertemuannya dengan Adnan yang ternyata menyetujui untuk menikah dengannya.
"Selamat ya Sha, gue ikut bahagia," Yesha memeluk Alisha, tanpa terasa air matanya menetes, padahal sekuat tenaga ia menahannya suapaya tidak lolos saat Alisha masih di hadapannya. Tapi untungnya air mata itu lolos saat dia memeluk Alisha dan otomatis Alisha tidak mengetahuinya. Ia seka air mata itu sebelum melepaskan pelukannya.
"Makasih Kak, ntar Lo yang milihin konsep pernikahan gue ya, gue enggak tahu masalah gituan sama yang lainnya juga," pinta Alisha.
Tapi kali ini Yesha harus menolak, karena ia tidak mau bertatap muka dengan Adnan itu akan menambah luka di hatinya.
Yesha menggeleng, "Maaf Sha, gue enggak bisa, sebentar lagi ujian. Lo tahu sendiri gimana sibuknya dan banyaknya tugas anak kedokteran, jadi kali ini gue enggak bisa bantu, maaf banget ya," Yesha mencoba meyakinkan Alisha dengan alasan seperti itu, padahal alasan sesungguhnya bukanlah hal itu.
Alisha terlihat kecewa, tapi setelahnya dia tersenyum dan mengangguk, ia paham dengan kondisi Yesha, "Enggak apa-apa Kak, nanti biar Tante aja yang bantu deh," ucapnya.
Alisha terlihat antusias menceritakan tentang pertemuannya dengan Adnan. Dan Yesha bisa melihat pancaran kebahagiaan di wajah Alisha, ia sekarang yakin untuk mengikhlaskan Adnan buat Alisha, meskipun berat namun Yesha harus bisa dan pasti bisa. Begitulah kira-kira Yesha menguatkan dirinya.
Setelah puas bercerita dengan Yesha, Alisha pun berpamitan pulang, ia mengatakan akan belajar memasak sore ini dengan Mama. Tentu saja ucapan Alisha membuat Yesha semakin merasakan sesak di dada, begitu bahagianya Alisha. Semoga Adnan bisa menerima Alisha sepenuh hatinya, itu doa yang Yesha ucapkan dalam hatinya.
🌻🌻🌻
"Kamu kupas terus potong bawang ya Sha, Mama cuci sayurnya dulu," titah Mama.
Saat ini ke dua wanita beda generasi itu sedang berada di dalam dapur. Art yang biasanya memasak kali ini di suruh mengerjakan hal lain, sesuai permintaan Alisha karena dia yang akan bantu Mama.
__ADS_1
"Siap Ma," Alisha mulai mengupas bawang, ia sedikit bingung tapi setelah di coba akhirnya bisa, karena jujur selama ini Alisha tidak pernah masuk dapur untuk masak seperti ini, paling ia hanya memasak mi instan saja, karena hanya itu yang dia bisa.
"Lho, kok motongnya gini? Kebesaran Sha, sini Mama ajarin." Mengambil pisau lain. "Lha, ini ngupasnya kurang bersih Sha, ujungnya harus dipotong," Mama melihat kupasan bawang di wadah hasil karya Alisha, meski semua kulitnya sudah lepas tapi ujung bawang masih ada dan tidak di potong.
"Perhatikan ya, gini cara motongnya." Mama mempraktekkan cara memotong bawang.
Alisha memperhatikan dengan detail bagaimana cara memotong bawang yang benar, bukan seperti dirinya yang hanya di belah jadi tiga bagian.
"Aku ngerti Ma, sini biar aku selesaikan," Alisha mengambil alih talenan di hadapan sang Mama, lalu mulai memotong bawang sesuai petunjuk Mama tadi.
"Hati-hati, karena baru pertama jadi jangan cepet-cepet, nanti kena piso" Mama memperingati Alisha.
Alisha hanya mengangguk tanpa menolah ke arah Mama, karena masih fokus memotong bawang. Hal yang sangat baru untuk dirinya.
"Ayo coba kamu yang numis bawangnya," Mama menaruh wajan di atas kompor, setelah Alisha menyelesaikan memotong bawang yang membutuhkan waktu lama bahkan lama sekali.
"Enggak apa-apa, pelan-pelan aja masukannya,"
Alisha pun menuruti ucapan sang Mama, perlahan ia memasukkan irisan bawang merah dan bawang putih ke dalam wajan, dan berhasil. Ia tersenyum senang saat bawang itu masuk sempurna ke dalam wajan, sesuai petunjuk Mama, ia pun mulai mengaduk isi dalam wajan tersebut. Setelah harum Mama menyuruh Alisha memasukkan bahan masakan satu persatu. Mencoba masakan pertamanya sebelum di angkat untuk memastikan rasanya enak.
"Sekarang kamu mandi, sholat, sambil tunggu Papa pulang, setelah itu kita makan malam bersama," ujar Mama setelah mereka menyelesaikan acara memasaknya.
Alisha pun menuruti perintah Mama, ia masuk ke dalam kamar sambil menciumi bau tubuhnya yang lekat dengan bau dapur, karena saat memasak tadi ia menggunakan pakaiannya sebagai lap tangannya, padahal Mama sudah memperingatkan beberapa kali tapi Alisha masih saja lupa, mungkin saking asyiknya menekuni kegiatan barunya. Karena biasanya ia lebih suka mengotak-atik motor kesayangannya di sebuah bengkel milik Dani.
🌻🌻🌻
__ADS_1
"Kaka, ayo turun makan malam, Papa sama Mama udah nungguin," Arsyad menjebol di balik pintu, hanya kepalanya saja yang terlihat.
"Iya," Alisha yang sedang bermain ponsel menoleh ke arah Arsyad, ia turun dari ranjang tanpa menaruh ponsel, entah apa yang sedang ia lihat samapi tak rela meninggalkan ponselnya.
Arsyad turun lebih dahulu di ikuti oleh Alisha di belakangnya, masih setia menatap gawainya, untung saja ia sudah hafal tangga di rumahnya, jika tidak sudah di pastikan Alisha akan jatuh karena tidak fokus.
Ia duduk di kursi yang biasanya ia tempati, masih setia melihat ponselnya, entah apa yang sedang gadis itu lakukan sampai ia tidak menyadari adanya orang lain di ruang makan tersebut.
"Makan dulu Sha, hapenya nanti. Ada Nak Adnan juga malah kamu cuekin," ucap Papa.
Mendengar ucapan sang Papa, Alisha langsung menegakkan kepala, ia tersenyum canggung saat melihat Adnan menatapnya.
Aduh malunya, kenapa mereka enggak ngasih tahu kalau ada dia sih? Batin Alisha, ia bahkan sempat menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sedikit pun, tentu saja karena salah tingkah.
"Ada kamu juga Mas, maaf enggak ngeh tadi," ucapnya salah tingkah.
Adnan hanya membalas dengan senyuman.
Anak ini, bisa-bisanya dia enggak liat gue segede ini, ck.
Setelah itu mereka pun makan malam bersama tentu saja dengan Adnan yang ikut makan malam, entah ada angin apa, pemuda itu tiba-tiba ada di rumahnya bahkan ikut makan malam dengan keluarganya.
"Udah biar Mama sama Bibik aja yang beresin, kamu temani Nak Adnan," Mama melarang Alisha membantunya membereskan bekas makan mereka padahal biasanya gadis itu tak pernah melakukan hal itu.
Alisha mengangguk, ia pun meninggalkan dapur lalu menemui Adnan yang berada di ruang keluarga bersama Arsyad yang sedang belajar.
__ADS_1
Alisha bisa melihat keakraban Adnan dan Arsyad, dua pemuda itu terlihat seperti sudah lama saling mengenal, mungkin karena pribadi Arsyad yang mudah mengenal orang baru begitu pun dengan Adnan, jadi mereka terlihat begitu akrab. Bahkan sesekali mereka tertawa, entah apa yang sedang mereka bicarakan sehingga terlihat begitu asyik.
_____________________