
Alisha tersentak ketika merasakan sesuatu masuk ke dalam bajunya, ia melepaskan tautan mereka lalu menyingkirkan tangan Adnan yang bebas masuk tanpa permisi.
Plak
Alisha memukul tangan Adnan, membuat pemuda itu terkejut, "Kenapa di pukul?" tanya Adnan.
"Tangan kamu, ngapain?" tanya Alisha, ia kesal karena Adnan membuatnya benar-benar tak nyaman atas perbuatannya tadi.
"Kamu tadi mengangguk pas aku tanya, kenapa sekarang protes?" Adnan merasa sudah meminta persetujuan Alisha, dan gadis itu mengangguk saat dirinya meminta ijin, tapi lihatlah sekarang Alisha justru protes.
"Aku mengangguk bukan karena itu, aku berfikir hal lain," ucap Alisha. Karena saking menikmatinya ia sampai tak sadar jika tadi mengangguk dan menyetujui permintaan Adnan.
Sebenarnya ia juga menikmati semua perlakuan Adnan, tapi ia benar-benar merasa belum siap, ia takut akan terbuai oleh permainan Adnan dan mengiyakan semua permintaan suaminya. Sebelum itu terjadi lebih baik ia menghindar, meski sedikit menyesal juga.
"Apa? Kamu mau lebih dari itu?" tanya Adnan sambil tersenyum menggoda.
"Apaan sih enggak jelas banget," Alisha memutar tubuhnya, ia malu dengan pertanyaan Adnan, ia merasa pertanyaan itu terlalu fulgar.
Adnan menggeser tubuh mendekat ke arah istrinya, memeluk dari belakang lalu membisikkan sesuatu, "Enggak usah malu, nanti juga akan terbiasa," ucapnya, mengecup bahu Alisha hingga tengkuk gadis itu. Alisha hanya diam, sesekali menggeliat karena kegelian.
Adnan semakin melancarkan aksinya, saat mengetahui Alisha pasrah dengan perbuatannya. Ia memindahkan kedua tangan yang tadi berada di perut bertambah naik ke dada Alisha, tapi kali ini gadis itu terdiam, sepertinya menikmati permainan tangan Adnan di sana. Dengan perlahan satu tangannya menyibak kaos yang di kenakan Alisha hingga ke atas dada, dan satu lagi masih melancarkan aksinya. Meskipun tak bisa melihat, tapi tangannya dengan lihai melakukan hal yang sempat tertunda tadi.
Alisha hanya bisa pasrah, ia jika terus menolak suaminya itu tidak baik bahkan di dosa. Tapi ia juga menikmati setiap sentuhan itu, dan sesekali menggeliat karena kegelian, ia sengaja tak mengeluarkan suara, takut Adnan semakin bergairah karena mendengar desahannya. Alisha mengetahui seperti itu, dari teman-temannya.
"Aku mau lihat, boleh ya," bisik Adnan tepat di dekat telinga Alisha. Suara lembut penuh gairah yang tak pernah di dengar oleh Alisha sebelumnya, dari bibir Adnan.
Alisha mengangguk, baru saja Adnan akan memutar tubuh Alisha, gadis itu lebih dulu berucap, "Tapi matikan lampunya, aku malu," ucapnya penuh kemenangan, ia sengaja mengerjai Adnan
Adnan mengernyitkan dahi, yang benar saja, masak harus melihat sesuatu dalam keadaan gelap, kan tidak mungkin terlihat, pikirnya
"Ya enggak keliatan kalo lampunya mati," protesnya, kesadarannya sudah kembali normal, karena ia tadi seperti sendang terbang di angkasa.
Tapi Adnan tak menyerah begitu saja, ia kembali melakukan hal sebelumnya, "Yaudah enggak liat sekarang juga enggak apa-apa, besok kan masih bisa," ucapnya lagi.
__ADS_1
Alisha merasa lega karena Adnan mengurungkan niatnya, tapi ia terkejut saat Adnan melakukan sesuatu di punggungnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya.
"Melepas ini, biar lebih enak," jawaban Adnan membuat Alisha terkejut, yang benar saja, kenapa harus di lepas segala? Tapi Alisha menurut saja, ia tidak protes.
Menikmati sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, Alisha kembali terkejut saat Adnan tiba-tiba berpindah tempat dengan gerakan cepat, dan kini pemuda itu ada di hadapannya, karena di hadapannya masih tersisa ruang kosong, hingga Adnan leluasa untuk berpindah.
Adnan tersenyum penuh kemenangan, ia mengecup sekilas bibir Alisha yang masih melongo, membuat gadis itu tersentak. Ia kembali terkejut saat Adnan melakukan hal di luar dugaannya, ia akan melepaskan diri namun tak kuasa. Hingga
Drrrrt Drrrrt Drrrrt
Sebuah ponsel yang terletak di atas nakas berbunyi tak henti-hentinya.
"Bentar aku jawab dulu telfonnya", ucap Adnan setelah melepaskan diri dari Alisha.
Alisha bernafas lega karena terselamatkan oleh telfon tersebut. Membenarkan pakaiannya, lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, takut Adnan akan melakukan hal yang sama lagi. Namun, ia kembali membuka selimut saat mendengar Adnan berbicara dengan orang di seberang sana,
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, aku segera ke sana Bun," ucap Adnan, lalu mematikan sambungan telfon.
"Kenapa Mas? Ada apa?" tanyanya penasaran.
"Kamu cepetan ganti baju, kita ke rumah Oma sekarang, Oma meninggal," jawab Adnan.
Ia mengangguk, "Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," ucapnya. Lebih dulu membasuh muka di wastafel. Setelah itu berganti pakaian yang sekiranya tidak membuat dirinya kedinginan karena perjalanan malam yang sudah hampir larut ini.
"Udah siap? Pake jaket kamu, nanti kedinginan," ucap Adnan, menyerahkan jaket milik Alisha.
Alisha menerima jaket itu lalu memakainya.
"Kita cuma berdua aja?" tanya Alisha setelah mereka memasuki mobil
"Enggak, aku enggak sanggup kalau nyetir sendiri, apalagi ini sudah malam banget, ngantuk," jawab Adnan. "Apalagi tadi udah minum susu," Adnan mengedipkan salah satu matanya.
__ADS_1
Plak
Alisha memukul lengan Adnan, karena mengingatkan pada kejadian tadi. Ia benar-benar malu, saat mengingat kejadian tadi, kenapa bisa melakukan itu tadi, membuatnya bergidik lalu melipat kedua tangan di depan dada. Adnan terkekeh saat melihat Alisha tampak malu-malu seperti itu, ia mengingat tadi isha hanya pasrah saat dirinya sedang beraksi.
"Udah enggak usah malu-malu gitu, sayang, nanti juga terbiasa," ucap Adnan, ia menyentuh dagu Alisha supaya menoleh ke arahnya.
"Fokus nyetir aja," ucap Alisha memperingati, "Kok ke sini? Bukannya kalau ke Bandung beloknya ke kanan ya," tanya Alisha saat menyadari arah jalan yang mereka lewati.
"Kita jemput temanku dulu, tadi aku udah menelfonnya," jawab Adnan, Alisha hanya mengangguk.
Teman yang di maksud Adnan ternyata sekretaris di kantornya. Pemuda yang umurnya sepantaran dengan Adnan, dan Alisha baru tahu jika sekretaris Adnan itu juga teman suaminya, karena selama ia datang ke kantor, sekretaris Adnan selalu profesional tidak mengakrabkan diri dengan atasannya. Tapi berbeda dengan saat ini.
"Lo ganggu tidur gue aja, enak-enak ngimpi pacaran sama Lili Ratuconsina, eh kebangun gara-gara Lo," pemuda itu menyebut nama artis terkenal yang sering main di layar lebar.
Pemuda itu tidak tahu saja, jika tidak hanya dirinya yang terganggu, karena dua insan yang duduk di belakang juga terpaksa menghentikan aktivitas menyenangkan mereka.
"Berisik, udah jalan. Entar kalo Lo ngantuk kita gantian," ucap Adnan, ia menyandarkan kepala Alisha di bahunya.
"Kalau mau tidur, tidur di sini aja," ucapnya. Ia tahu jika Alisha mengantuk karena sejak tadi terus menguap.
"Serius gantian?" tanya pemuda di depan yang sedang sibuk memutar stir mobil.
"Iya,"
"Siap bos, gue mah seneng aja di suruh jagain istri bos, pundak gue juga siap di jadikan bantal," celetuk pemuda di depan yang tampak kegirangan.
Bugh
Adnan melempar bantal penyangga leher ke arah depan, tepat mengenai kepala pemuda itu.
"Nyetirnya yang gantian! Seenaknya aja kalo ngomong," protes Adnan.
Alisha tersenyum mendengar pertengkaran antara bos dan sekretarisnya itu, ia tidak berminat untuk ikut larut dalam obrolan mereka, memilih untuk tidur karena benar-benar ngantuk.
__ADS_1
Alisha terus mencoba memejamkan mata, tapi tak bisa juga, meskipun sebenarnya ia lelah dan mengantuk. Ia merasa tidak nyaman saja, saat Adnan justru memeluknya dengan erat, jika saja itu di rumah ia tidak akan keberatan, tapi ini di dalam mobil dan ada orang lain di sana.
"Udah tidur aja, anggap aja kita hanya berdua di sini," celetuk Adnan yang sepertinya mengetahui kegelisahan Alisha.